Apakah arti kemerdekaan bagi para jomblo?

Mungkin banyak yang sedih dengan statusnya yang jomblo. Apalagi kalau sudah menyandang status tuna asmara sejak lama lahir. Padahal, secara filosofis jomblo mengandung makna mandiri. Secara ideologis jomblo menyiratkan makna ‘merdeka’ alias bebas menentukan nasib sendiri. Merdeka dari kekangan pacar, tanggungjawab menafkahi anak istri, hingga masih merdeka ketika lebaran tiba nggak perlu ngasih angpau ke ponakan yang nggak tahu kapan lahirnya udah banyak banget jumlahnya.

Jadi bisa disimpulkan secara ‘ngawur’ kalau jomblo masih sedikit bersinonim dengan kemerdekaan. Lantas, apa yang harus ditangisi dari sebuah kemerdekaan? Pekik merdeka mungkin akan lebih emosional jika diganti dengan teriakan, ‘Hidup Jomblo!’ saat perang melawan penjajah dulu.

Aku nggak jomblo. I’m in long term relationship with action, adventure, and fun.
Halah, mbelgedes.

Terserah deh mau ngeles nggak ngakuin kalau jomblo. Intinya, dirimu memang belum laku. Akuilah hal itu meski pahit. Namun kamu harus tetap pede dengan keadaan itu. Ada satu kisah pilu beserta tips tentang jodoh yang akan kubagikan buatmu di sini. Aku nggak mau asal-asalan bikin #HipweeJurnal yang nggak berfaedah dong ya. So, aku bakal bagikan kisah ini spesial buatmu. Para jomblo yang butuh tetes-tetes cinta dan kisah-kisah inspirasi.

Patah hati gara-gara putus cinta itu biasa. Kalau patah hati itu bisa menginspirasi orang lain itu baru luar biasa

Advertisement

patah hati harus inspiratif via www.instagram.com

Dua tahun lalu.

Galau karena patah hati dan mengetahui dia akan segera nikah, aku memutuskan untuk hijrah. Hijrah ke status jomblo, haha. Merasakan patah hati di cinta pertama (dan pengennya sih terakhir) memang bikin gundah gulana. Tiga bulan hidup cuma luntang lantung tanpa tujuan. Yakin deh, kata-kata basa basi seperti ‘jodoh nggak ke mana’ hingga kalimat motivasi ala ala ‘jodoh nggak usah dicari yang penting memantaskan diri’ sudah enek di telinga.

Tapi, setiap kisah selalu memberikan alur cerita yang tak terduga dan terkadang istimewa. Bosan dengan patah hati tak berkesudahan, aku dan seorang teman (dia juga baru patah hati, nasib-nasib) merencanakan pendakian dengan mengajak sesama jomblo yang patah hati dan defisit kasih sayang. Kali ini tujuan kami Gunung Rinjani.

Jadilah, Jomblo Mendaki Rinjani. Dengan panggilan penuh rasa hormat ini menyebar lewat media sosial begitu cepat

Mendaki Rinjani via www.instagram.com

‘Jomblo-jomblo Indonesia Bersatulah. Mari lupakan patah hati dan taklukkan Rinjani!’

Boom!
Panggilan itu serupa panggilan jihad untuk maju ke medan perang. Sangat berenergi dan menyebar dengan sangat cepat. Ratusan orang menghubungi dan ingin melamar sebagai istri bergabung mendaki Rinjani. Rayuannya pun sadis-sadis.

“Tolong Mas. Gue jomblo keras Mas. Ajak Gue Mas!!!”
“Lima menit lalu saya diputusin Mas. Please, saya gabung ya. Sedih ini…”
“Mas aku gagal nikah nih tadi sore. Ijinkan mendaki bersamamu…”

Pilihan yang sulit.

Mereka datang bersama kenangan pilunya. Bersama jomblo senasib seperjuangan, mereka serasa terlahir kembali. Semangat hidup bangkit kembali!

ngenes banget sih via www.facebook.com

Akhirnya terpilih 57 spesies jomblo dengan beragam kisah pilunya yang menyayat hati. Sebut saja, Inem, dia ikut Jomblo Mendaki Rinjani dengan sangat dramatis. Tiga bulan sebelumnya, ia sudah memesan gedung pernikahan serta catering. Jelang hari pernikahannya, saat pertemuan keluarga besar tiba-tiba tante calon suaminya bilang ‘cewek ini hokinya nggak bagus’ hingga bikin keluarga Inem tersinggung. Batal deh nikahnya. Sesederhana itu.

Inem sakit dan tubuhnya naik 15 kilogram karena stres. Wanita ini opname di rumah sakit. Di tengah kelesuannya, muncul broadcast di BBM-nya (hari gini masih aja) tentang Jomblo Mendaki Rinjani. ‘Aha, ini Gue banget nih!’ pikir Inem. Informasi ini bagaikan obat mujarab bagi wanita ini. Dia merasa seperti hidup kembali. Alhasil dia berhasil menurunkan berat badannya dan ikut ke Rinjani.

Di tanjakan Bukit Penyesalan, Inem melempar kalung pemberian calon suaminya ke jurang. Mengharukan ya. Padahal aku terharu kenapa nggak dikasih aku aja kalungnya, ‘kan lumayan.

Lain lagi dengan pendaki bernama Abdul. Dia mengalami trauma berat setelah hubungan asmaranya selama 5 tahun kandas. Pacarnya yang sesama pendaki ini sudah mendaki berbagai gunung bersamanya. Mereka juga sering bersepeda keliling pantai, bukit maupun berbagai destinasi wisata berdua. Abdul terkesiap ketika pacarnya meminta putus sepulang Kuliah Kerja Nyata.

Sedih berkepanjangan, ia justru menikam jantungnya dengan kenangan-kenangan yang telah mereka buat bersama. Abdul setiap akhir pekan mengunjungi pantai, bukit dan berbagai tempat wisata yang pernah didatangi berdua. Kali ini seorang diri. Kadang diselingi sedikit tetesan air mata. Pria ini menapak tilas semua tempat yang dulu pernah mereka kunjungi. Ia bahkan hafal setiap detilnya, sampai baju yang dipakai mantan kekasihnya. Tak ada yang lebih perih dibanding tersandera kenangan sendiri ‘kan?

Maka dari perjalanan ini, aku mau kasih tahu 5 rahasia cerdas yang harus kamu persiapkan sebelum mendaki. Rahasia untuk nyari jodoh saat mendaki gunung!

Jomblo Mendaki Rinjani via www.facebook.com

1. Bergabunglah dengan open trip pendakian yang ramai. Lha gimana kamu mau kenal orang kalau mendaki ke mana-mana sendiri atau sama temen sejenis? Open Trip memberikanmu pilihan calon pasangan. Menarik bukan? Atau setidaknya mendakilah secara rombongan dengan kawanmu dan juga gebetan.
2. Ikutlah pendakian dengan cara yang paling keren. Perlengkapanmu keren, gayamu oke, dan tunjukkan kalau dirimu pendaki sejati. PD harus nomer satu. Ajak bicara semua orang dan bikin mereka mengingat namamu dan membutuhkanmu saat mereka kesulitan saat mendaki.
3. Kamu harus hadir saat gebetanmu dalam kondisi kritis, entah kecapekan atau logistik berkurang. Siapkan logistik khusus untuk gebet sasaran kamu. Bantulah dia dengan menawarinya madu, susu, obat, atau kuota. Siapa tahu dia pengen update Instastory-nya tapi kehabisan kuota.
4. Action. Dekati dia, tatap matanya, ajak dia bicara tanpa terlihat berlebihan. Foto bareng yang banyak, biar ada alasan japri buat minta foto. Hahaha.
5. Hal yang paling penting adalah, pasca mendaki kamu harus intensif berhubungan dengan dia. Bukan dengan WA nanya ‘Udah makan belum?’ tapi buatlah kopdar alumni pendaki dan kamu yang aktif di sana. Itulah momen yang bikin dia kangen mendaki dan bisa kamu ajak mendaki di gunung lainnya. Nah, kesempatan inilah yang harus kamu manfaatkan sebaik-baiknya.

Mudah bukan? Ya kalau kamu jomblo dan pengen segera mengakhiri status kamu ya harus usaha. Rahasia itu nggak banyak orang tahu, jadi gunakanlah seefisien mungkin. Kalau akhirnya perjuangannya berhasil, layaklah kamu memekikkan ‘MERDEKA’ setelah ijab qobulmu dengannya. Bukankah itu kemerdekaan yang paling hakiki?

Oh ya, jangan takut patah hati!

Salam,

Mantan Presiden Jomblo

#HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu 

Baca tulisan #HipweeJurnal dari penulis lainnya di sini!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya