“Who says what, to whom, in which channel, with what effect”

Hayooo, kamu yang mahasiswa Komunikasi masih ingat gak dengan teori dasar ini? Selama 3,5 tahun masa kuliah atau lebih, kamu mencoba memahami betul-betul apa maksud dari kata-kata sederhana ini. Tidak sekadar teori, menjalani hidup sebagai mahasiswa komunikasi juga menuntutmu melaksanakan tugas-tugas praktek. Sebut saja itu pratek fotografi, sinematografi, atau jurnalistik.

Tapi tahukah kamu bahwa di luar sana ada tempat-tempat oke yang bisa membantumu belajar memahami teori dengan cara yang lebih asyik? Di sini Hipwee akan berikan 6 destinasi yang wajib kamu kunjungi, kalau mau jadi mahasiswa Komunikasi yang tidak merugi.

1. Meski kotanya kecil, Solo mampu memberikanmu pelajaran besar tentang dunia pers. Monumen Pers Nasional wajib jadi rujukan.

Monumen Pers nampak indah dengan arsitektur yang berbeda dengan gedung kebanyakan. via photos.wikimapia.org

Monumen Pers Nasional adalah monumen sekaligus museum khusus pers. Monumen ini terbilang memiliki nilai historis tinggi karena digunakan pada pertemuan Persatuan Wartawan Indonesia yang pertama pada tahun 1946. Di dalamnya terdapat begitu banyak koleksi koran, majalah, dan benda-benda yang sehari-harinya digunakan secara aplikatif dalam dunia pers. Koleksinya juga meliputi teknologi komunikasi dan teknologi reportase, seperti penerbangan, mesin ketik, pemancar, telepon, dan kentongan besar. Koleksi pers di sini juga dibagi ke dalam beberapa periode sesuai masa pemerintahan Indonesia. Sebutlah masa kolonial, revolusi, orde baru, dan reformasi. Cocok lah buat kamu yang sebentar lagi mau mengambil mata kuliah Manajemen Media Cetak atau Jurnalisme.

Advertisement

Jika kamu mengenal sosok wartawan dari harian Bernas Yogyakarta, kamu dapat melihat jejaknya di sini. Udin sendiri adalah wartawan yang dibunuh oleh oknum tak dikenal setelah mengangkat skandal korupsi di tahun 1995. Sebuah kamera miliknya menjadi artefak dalam monumen ini.

Sebagai pengunjungnya, kamu akan mendapat fasilitas membaca koran gratis dan juga internet gratis. Ada pula perpustakaan dengan koleksi belasan ribu buku. Kalau kamu mau membaca koran dan majalah lawas, silahkan membaca versi digitalnya tanpa takut merusaknya. Di hari-hari tertentu, Monumen Pers Nasional juga mengadakan seminar yang berkaitan dengan pers, media, dan komunikasi. Kalau kamu tertarik mengunjunginya dengan kawan-kawan sejurusan, silahkan melaju ke kota Solo. Letaknya ada di tengah kota Solo dan cukup strategis, di Jalan Gadjah Mada 59.

2. Anak komunikasi yang demen sama White Shoes and The Couples Company, angkat tangan! Mari beranjak ke Lokananta!

Dahlan Iskan berkunjung ke studio musik Lokananta. via mediacenter.dahlaniskan.net

Usai mengunjungi Monumen Pers Nasional, tidak ada salahnya jika kamu juga mampir ke Lokananta. Lokananta adalah perusahaan rekaman musik (label) pertama di Indonesia yang didirikan pada tahun 1956. Pada saat masih berjaya, Lokananta bertugas memproduksi dan menduplikasi piringan hitam dan kaset audio. Mulai tahun 1958, piringan hitam mulai dipasarkan melalui RRI dengan label Lokananta. Baru kemudian di tahun 1983, Lokananta mempunyai unit produksi penggadaan film dalam format pita magnetik. Hingga kemudian kegiatan Lokananta meliputi recording, studio musik, penyiaran, dan percetakan & penerbitan.

Kalau kamu berkunjung ke Lokananta, kamu akan menemui beberapa ruang. Kamu dapat melihat mesin pemutar piringan hitam, mesin rekaman, radio, dan macam-macam. Bahkan ada satu ruangan khusus berisi koleksi piringan hitam yang sampai berrak-rak banyaknya. Asyiknya, kamu bisa melihat wajah Waldjinah, Titiek Puspa, Bing Slamet, dan penyanyi senior lainnya ketika masih muda berkat cover piringan hitam tersebut. Mereka semua lahir dan ternama karena Lokananta. Rekaman lagu Indonesia Raya dan pidato kenegaraan Presiden Soekarno pun ada. Keren kan?

Jaman sudah merubah segalanya menjadi digital. Kaset dan piringan hitam yang sempat berjaya tak lagi dipakai karena biaya perawatannya yang mahal. Begitu pula nasib Lokananta yang memproduksi kaset dan piringan hitam. Meski begitu, beberapa artis ternama memiliki kepedulian besar dan sudi melakukan rekaman di sana. Sebut saja White Shoes and The Couples Company, Sheila On 7, Glenn Fredly, dan Shaggy Dog. Mau ke sana? Yuk langsung saja meluncur ke Jl. A. Yani No 379 Solo.

3. Selain bermain di wahana indoor, kamu juga bisa menambah ilmu di bidang penyiaran televisi. Broadcast Museum milik Trans Studio Bandung bisa jadi pilihan untuk mengisi hari liburmu.

Syuting infotainment. via www.tempatwisatamu.com

Bermain di Trans Studio Bandung ternyata tak sekedar menghibur diri saja. Anak komunikasi yang nantinya akan dapat mata kuliah Program Siaran Televisi bisa memperoleh bocoran di sini. Area Trans Broadcast Museum jawabnya. Area ini tercatat sebagai museum penyiaran pertama yang ada di Indonesia dan menyajikan simulasi serta informasi tentang pembuatan acara-acara televisi. Yang mengasyikkan di sini adalah kamu bisa melakukan rekaman program infotainment ala Indra Herlambang atau Lenna Tan yang begitu fenomenal tersebut. Siapa pula yang menyangka kalau studio tempat mereka membawakan acara ternyata hanyalah ruang kosong berwarna hijau dan amat jauh berbeda dengan yang kamu lihat di televisi? Langsung saja kamu luangkan waktu dan berkunjung ke Jl. Gatot Subroto No. 289, Jawa Barat 40273.

4. Manusia juga berkomunikasi melalui semiotik. Salah satu peninggalan tradisi komunikasi ini bisa kamu lihat Museum Sandi, Yogyakarta.

Salah satu koleksi museum sandi yang mirip kriptex dalam Da Vinci Code. via farm3.staticflickr.com

Hayoo, siapa yang waktu kuliah Teori Komunikasi masih ingat dengan 7 Tradisi Komunikasi? Ada Fenomenologi, Retorika, Sibernetika, Sosiopsikologis, Sosiokultural, Kritis, dan Semiotik. Yang terakhir adalah ilmu tentang tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja dalam proses komunikasi. Tradisi semiotik terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda memrepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan, dan kondisi di luar tanda tanda itu sendiri. Uniknya, ada museum yang bisa mengedukasimu tentang tradisi semiotik ini.

Museum Sandi adalah sebuah museum persandian yang berada di Jl. Faridan M. Noto no 21 Kotabaru, Yogyakarta. Di dalamnya, kamu dapat menemui aneka koleksi sandi-sandi bersejarah khususnya yang menjadi bagian dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sandi dari masa Mesir Kuno hingga saat ini dapat kamu saksikan. Bahkan ada benda yang hampir serupa dengan kriptex dalam film The Da Vinci Code.

5. Dari kentongan sampai video call, semuanya adalah media yang jadi satu unsur penyusun dalam teori Lasswell. Museum Telekomunikasi di TMII mencakup media tradisional hingga media interaktif tersebut.

Kentongan dari berbagai daerah. Ia biasa dijadikan pertanda bencana dan ditaruh di tiap siskamling. via museumtelekomunikasi.files.wordpress.com

Kalau kamu sedang bertamasya ke Taman Mini Indonesia Indah, jangan lewatkan Museum Telekomunikasi. Berbagai koleksi dan informasi perkembangan telekomunikasi di Indonesia sejak sebelum kemerdekaan, setelah kemerdekaan, Orde Baru, dan masa depan telekomunikasi dunia ada di museum ini. Mulai dari kentongan, bedug, gong, lonceng, telegraf, telepon, hingga yang kekinian ada di sini. Kamu dapat memanfaatkan museum ini sebagai sarana belajar, lengkap dengan sarana teater, serta koleksi film dokumenter tentang perkembangan teknologi telekomunikasi dan film animasi. Ada juga fasilitas ruang demo produk barang dan jasa telekomunikasi. Gak akan rugi deh kamu ke sini dan melihat macam-macam media komunikasi.

6. Waktu telepon selularmu belum ada, Pos Indonesia selalu jadi pihak yang dicari ketika ingin berkomunikasi jarak jauh. Makanya Pos Indonesia mengembalikan kenangan itu lewat Museum Pos Indonesia.

Pak Pos dikerubuti orang yang sudah tidak sabar menanti kabar dari jauh. via www.jotravelguide.com

Museum Pos Indonesia terletak di Bandung dan dibuka pada tahun 1931 dengan nama Museum Pos, Telegraf dan Telepon (PTT). Ketika pertama kali didirikan, sebagian besar koleksinya adalah perangko. Tiga tahun selanjutnya, koleksi museum bertambah banyak. Benda-benda dan peralatan yang berhubungan dengan sejarah pos dari masa Kompeni dan Bataafsche Republiek (1707-1803), masa pemerintahan Daendels (1808-1811), masa pemerintahan Inggris (1811-1816), masa pemerintahan Hindia Belanda (1866-1942), masa Jepang (1942-1945), dan masa Kemerdekaan terkumpul sudah. Melawat ke museum ini, kamu juga akan tahu kalau Pos Indonesia pernah berganti-ganti nama dan lambang.

Saat ini, Museum Pos sudah dilengkapi dengan gadget Win Audio Tour Guide. Dengan fasilitas modern ini, kamu dapat berkeliling museum dengan leluasa, namun informasi yang kamu dapatkan juga komprehensif. Cukup menekan tombol angka, semua informasi dapat kamu dengarkan dari alat tersebut. Yuk, jalan-jalan ke Bandung!

Mengasyikkan sekali dapat berwisata sambil menambah ilmu untuk perkuliahan. Hitung-hitung, dapat menambah nilai diskusimu di kelas menjadi A! Kamu tahu destinasi lainnya? Yuk, isi kolom komentar di bawah ini.