Komersialisasi seks bukan hal yang muncul di era modern saja. Bukan cuma hanya di negara kita saja. Di berbagai belahan bumi, prostitusi adalah hal yang ‘biasa’ dan sudah ada sejak dahulu kala. Di Indonesia sendiri, dengan pertimbangan agar para penjaja seks nggak berkeliaran ke tempat-tempat umum, maka dibuatlah lokalisasi. Hotel dan wisma murah sebagai tempat ‘eksekusi’ dan barang-barang pritilan lain disediakan, agar aktivitas seks komersial terpusat di situ saja.

Kamu pasti masih ingat zaman-zamannya pemerintah Surabaya membuat wacana penutupan Dolly. Atau Gubernur Jakarta mengambil kebijakan untuk menggusur Kalijodo. Yup, beberapa tahun terakhir sudah banyak lokalisasi yang ditutup. PSK diberi pesangon untuk mencari pekerjaan lainnya, dan TKP diamankan, beberapa digusur. Nah, setelah beberapa saat, kamu penasaran nggak Gang Dolly yang terkenal itu jadi apa? Yuk, simak wajah beberapa mantan tempat lokalisasi di Indonesia setelah ditutup.

1. Lokalisasi Kramat Tunggak di Jakarta Utara. Ditutup di era kejayaannya, kini berubah menjadi wisata religi: Jakarta Islamic Center

Jakarta Islamic Centre via simas.kemenag.go.id

Kalijodo yang penggusurannya dihiasi berbagai kontroversi itu ternyata belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Kramat Tunggak atau KR. Lokalisasi ini diresmikan oleh Gubernur Ali Sadikin di tahun 1970 agar pemerintah lebih mudah mengontrolnya. Hampir 20 tahun berdiri, Kramat Tunggak yang terletak di Koja Jakarta Utara itu dianggap sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara pada zamannya. Konon PSK di sana lebih dari 2000 orang, dan pelanggan datang mulai dari orang lokal sampai turis mancanegara. Di era kejayaannya, tahun 1999, Kramat Tunggak resmi ditutup oleh Gubernur Sutiyoso. Kini di atas lahan yang lebih dari 10 hektar itu dibangun Jakarta Islamic Center yang bukan hanya menjadi tempat ibadah umat muslim, tapi juga menjadi pusat pengkajian Islam di Jakarta dan Indonesia.

Kramat Tunggak di era 90an via terselubungi.com

2. Sudah berdiri sejak pemerintahan Belanda, Lokalikasi Saritem di Bandung kini berubah menjadi pesantren Dar At-Taubah

Advertisement

Pondok pesantren via pojoksatu.id

Sama seperti Jakarta dengan Kramat Tunggak, dan Jogja dengan Sarkemnya, Bandung juga punya lokalisasi yang sudah terjadi sejak era Belanda. Lokalisasi Saritem terletak di dekat stasiun kereta, di daerah Gardujati. Saking sudah akrabnya dengan masyarakat Bandung, sampai ada penunjuk jalan secara terang-terangan.

Penunjuk jalan via nasional.republika.co.id

Saritem yang sudah ada sejak tahun 1800an ini resmi ditutup tahun 2007 lalu dengan keputusan Walikota Dada Rosyada. Di depan gang Saritem kini sudah berdiri pondok pesantren Dar Al-Taubah. Tapi konon katanya, meski sudah bukan lokalisasi resmi lagi, bisnis seks di Saritem masih ada.

3. Setelah proses penutupannya yang mengundang kontroversi, Gang Dolly kini menjadi tempat wisata mural dan home industry

Gang Dolly jadi pusat industri via www.tribunnews.com

Setelah beroperasi lebih lebih dari setengah abad, gang Dolly akhirnya resmi ditutup tahun 2014 lalu oleh walikota Surabaya. Gang sepanjang 200 meter yang terletak di pusat kota itu kini dijadikan sebagai pusat industri, untuk memulihkan perekonomian warga setelah prostitusi di tutup. Kelompok usaha bersama dibentuk untuk menampung orang-orang yang dulu menggantungkan nasibnya di bisnis seks Gang Dolly, mulai dari pengrajin sepatu hingga pusat batu akik. Kelompok usaha bersama ini menempati wisma-wisma yang dulu menjadi tempat prostitusi. Seperti yang kita tahu, Gang Dolly adalah lokalisasi tertua dan terbesar di Indonesia, yang konon katanya terbesar se-Asia Tenggara.

4. Dulu Joboan adalah pelacuran terbesar di Kabupaten Probolinggo. Sekarang disulap jadi taman wisata study lingkungan dan kebun binatang mini

TWSL Probolinggo, dari merah jadi hijau via www.idtempatwisata.com

Lokalisasi Joboan hidup lumayan lama, yaitu sejak tahun 1980 dan menjadi besar sampai tahun 1990an. Dahulu ada 17 mucikari dan ratusan penjaja seks komersial yang mencari uang di area seluas 2,3 hektar itu. Setelah resmi ditutup di tahun 2004 lalu, kini bekas lokalisasi terbesar di Probolinggo itu disulap menjadi Taman Wisata Studi Lingkungan. Berbagai flora dan fauna yang dilestarikan di sana, membuatnya dianggap sebagai kebun binatang mini. Selain jadi taman rekreasi keluarga, juga jadi tempat anak-anak kecil belajar soal lingkungan. Karena yang jelas sekarang anak kecil jadi aman kalau piknik di sini. Hehe

5. Sesuai namanya, Citra Niaga di Samarinda kini menjadi pusat kerajinan tangan. Meski dulu terkenal sebagai tempat mesum dan pelacuran liar

Citra Niaga tampak atas via undas.co

Sebelum menjadi Citra Niaga, dulu lokasi ini merupakan sebuah taman masyarakat yang bernama Taman Hiburan Gelora. Konsepnya adalah sebagai taman tempat keluarga bisa piknik dan rekreasi. Sayangnya, karena kumun dan nggak terawat, taman ini justru menjadi tempat prostitusi liar. Karena itulah pada tahun 1986 pemerintah kota Samarinda akhirnya mengubah taman tersebut menjadi Citra Niaga, sebuah pusat seni kerajinan tangan dan oleh-oleh khas Samarinda. Pusat seni ini bahkan pernah mendapatkan pernghargaan atas arsitekturnya yang luar biasa.

6. Boker di Jakarta Timur adalah lokalisasi yang “direstui” pemerintah DKI pada zamannya. Kini berubah menjadi masjid dan gelanggang olahraga

GOR Boker via forum.detik.com

Bersama-sama dengan Kramat Tunggak, Boker adalah lokalisasi yang diresmikan oleh pemerintah kota Jakarta di era 70an. Uniknya, nama Boker ini diambil dari nama seorang pedagang sayur di tahun 60an. Pak Boker yang sering kedatangan tamu, punya ide untuk membuka warung kopi yang dilengkapi dengan bilik ukuran 2 x 2. Dulu Alm. Kasino Warkop sering menjadikan Boker sebagai bahan candaan “Bogor Setengah yang bisa bikin ngreges”. Prostitusi Boker ini berumur lebih panjang daripada Kramat Tunggak, sampai ditutup tahun 2007 lalu. Di lokasi yang dulunya lokalisasi itu kini berdiri Gelanggang Olahraga dua lantai. Sayangnya, meski sudah ditutup secara resmi, ternyata bisnis seks di tempat ini belum mati sepenuhnya.

7. Terminal Giwangan di Jogja yang kita kenal sekarang, dulunya adalah Sanggrahan: tempat pelacuran yang nggak kalah besar dari Pasar Kembang

Terminal Giwangan via www.yogya-backpacker.com

Di tahun 70an, selain Sarkem atau Pasar Kembang, Di Jogja ada satu lagi lokalisasi yang cukup terkenal, yaitu Sanggrahan yang sering disebut SG. Lokasinya ada di Kecamatan Umbulharjo, dekat dengan sungai Gajah Wong. Konon katanya SG dikelola oleh Pemkot Jogja. Setelah lokalisasi ini ditutup di tahun 1997, pemerintah membeli semua lahan yang dijadikan lokalisasi dan mengubahnya menjadi Terminal Bus Giwangan yang kita kenal saat ini. Dulu Sanggrahan dihiasi lenggak-lenggok perempuan penjaja kesenangan, kini sanggrahan dihiasi oleh teriakan kenek dan supir angkot yang cari penumpang.

8. Mati hidup selama puluhan tahun, lokalisasi Silir di Solo resmi ditutup tahun 2005 dan berubah menjadi Pasar Klitikan

Pasar Klithikan Notoharjo via news.okezone.com

Lokalisasi Slilir sudah ada sejak era pendudukan Jepang. Di tahun 1947, prostitusi Slilir diresmikan oleh pemkot Solo, dan keberadaannya menjadi perhatian khusus pemerintah. Bangunan khusus didirikan dan tenaga-tenaga medis disediakan untuk mengatasi persoalan kesehatan para pekerja seks komersial, membuat Slilir menjadi lokalisasi terbesar di Solo. Tahun 1998 Slilir resmi ditutup oleh Walikota Imam Sutopo. Namun bisnis seks masih terus tumbuh di lokasi yang terbengkalai jadi pasar ayam ini. Baru di tahun 2005, di era Walikota Joko Widodo, kios-kios kecil dibangun dan para pedagang dari daerah sekitarnya dikumpulkan di situ. Sekarang daerah Slilir sudah bersih dari prostitusi, dan lebih kita kenal sebagai pasar barang bekas atau Pasar Klitikan Notoharjo.

Tempat-tempat yang dulu menjadi lokasi pelampiasan birahi, kini sudah banyak yang berubah fungsi menjadi sarana publik. Namun meskipun nama-nama lokalisasi di atas sudah tidak ada, ternyata masih banyak permasalahan yang tertinggal dari penutupannya. Entah itu bisnis seks yang jadi dilakukan diam-diam, ataupun lokasi prostitusi yang berpindah-pindah. Tentu saja ini menjadi pe-er kita bersama. Karena mungkin bukan hanya tempatnya yang perlu ditutup, tapi pola pikir kita yang juga perlu diperbaiki.