Tradisi masa lalu memang memiliki nilai luhur yang patut dipertahankan. Tapi kadang beberapa bagian dari tradisi itu bisa dikatakan terlampau kejam jika kita memandangnya menggunakan nilai-nilai moral yang berlaku di zaman modern saat ini. Seperti halnya beberapa tradisi yang nampak mengerikan bagi wanita-wanita yang menjadi bagian dari segelintir suku di seluruh penjuru dunia ini. Alasannya memang macam-macam, simak yuk! Jangan lupa bersyukur ya, kamu.

Kata siapa khitan hanya untuk kaum Adam saja. Kaum Hawa suku Sabiny, Uganda juga melakukannya. Kalau pas bayi baru lahir mungkin nggak akan kerasa sakitnya, kalau pas menuju dewasa gimana?

tujuannya biar nggak nafsu-nafsu amat. nggak gini juga sih ;3 via kurniaone.blogspot.com

Okelah kalau ada beberapa kalangan yang bilang kalau khitan bagi kaum wanita merupakan hal yang umum dan wajar. Tapi kamu nggak akan sepakat untuk tradisi khitan yang satu ini. Dalam khitan wanita ala suku Sabiny di negara Uganda nun jauh disana, bagian klitoris wanita akan dipotong sebagian atau malah seluruhnya, kan ngeriiiii. Tujuannya satu, agar hasrat seksual wanita berkurang dan akan tetap setia pada pasangannya.

Dilakukannya pas dewasa, kan makin serem ya? Sang wanita harus bisa menahan sakit yang luar biasa. Mereka percaya, jika wanita yang dikhitan ini berhasil melalui rasa sakit yang nggak bisa dibayangin itu, maka dia akan sanggup menahan rasa sakit saat melahirkan anak-anaknya dan dapat melalui berbagai cobaan hidup dengan tegar. Nggak gitu juga sih caranya -_-

Di Nigeria lebih ngeri lagi. Para wanita etnis Tiv harus melakukan penyayatan perut untuk membuktikan diri sebagai wanita sejati. Pengakuan diri sebegitu pentingnya ya?

nggak kebayang sakitnya kaya apa via merdeka.com

Advertisement

Gadis dalam etnis Tiv yang tinggal di Nigeria diharuskan melalui ritual yang sangat menyakitkan saat menuju kedewasaan. Pada saat mendapatkan haid, gadis suku Tiv diwajibkan menjalani ritual penyayatan perut yang sangat mengerikan agar bisa disebut wanita sejati. Kalau dipikir pakai nalar modern ya, apa pentingnya sih pengakuan akan kedewasaan dari orang lain? Toh dewasa itu berimbasnya pada hidup individu masing-masing. Nah, gadis yang melalui ritual ini jelas akan merasa sangat kesakitan karena dalam prosesnya sama sekali tidak dilakukan pembiusan atau penanganan secara medis. Selain pertanda kedewasaan, ritual ini juga dipercaya meningkatkan kesuburan.

Kalau banyak wanita di luar sana mendambakan payudara yang besar dan indah, berbeda dengan wanita di Kamerun. Demi mempertahankan budaya, mereka rela dadanya disetrika

dada disetrika, kenapa nggak baju aja -_- via liputan6.com

Sebagian warga negara Kamerun masih kuat mempertahankan budaya tradisionalnya. Mereka meyakini bahwa payudara menonjol akan membawa keburukan bagi wanita, karena akan menimbulkan birahi pria. Berdasarkan hal tersebutlah, para gadis yang beranjak dewasa lantas rela mengalami kepedihan yang teramat ketika dada mereka disetrika.

Para gadis berusia remaja disetrika dadanya menggunakan batu, palu, spatula logam atau kayu yang sudah dipanaskan. Kita kesenggol setrika panas aja sakit, gimana rasanya dada yang disetrika? Setelahnya, para gadis itu diharuskan memakai korset untuk menyamarkan bentuk dada. Tradisi menyakitkan ini dipercaya dapat menghindarkan sang gadis dari pelecehan seksual atau kehamilan di luar nikah yang memalukan.

Haid itu sudah bikin perut sakit dan mood berantakan. Gimana kalau ditambah berendam telanjang di laut saat haid yang selalu dilakukan wanita suku Nootka, Kepulauan Vancouver?

haid itu sakit lho, kok ya makin disakiti via keepo.me

Lagi-lagi ritual ini berlaku untuk para gadis yang beranjak dewasa. Gadis yang mendapatkan Mernarche (sebutan haid pertama bagi suku Nootka) diharuskan berendam di laut dalam keadaan telanjang dan dalam keadaan haid selama beberapa hari. Apa nggak mati kedinginan tuh? Saat ujian super tega ini berakhir, biasanya mereka sudah tidak kuat lagi untuk berdiri dan pada saat itu anggota suku Nootka yang lain justru akan bersorak gembira. Sebab, si gadis sudah dianggap berhasil melewati tantangan dan siap menyongsong masa depan sebagai wanita dewasa.

Kalau digigit semut biasa sih nggak papa, kalau beracun gimana? Apa nggak bunuh diri namanya? Inilah yang dialami wanita suku Carib di Suriname jelang kedewasaannya

ini namanya semut peluru, mematikan via brilio.net

Wanita suku Amazon masih terbilang beruntung, sebab yang harus merasakan sakitnya digigit semut mematikan ialah kaum pria. Berbeda dengan suku Carib, dimana para gadislah yang harus melewati siksaan yang luar biasa saat memasuk masa dewasa. Awalnya, tangan mereka dipaksa memegang gumpalan kapas yang terbakar sampai tangan itu melepuh. Udah kaya gitu masih ditambah lagi, mereka harus memakai kain penutup yang pada bagian dalamnya dipenuhi oleh semut beracun. Kok ya pada tega…

Masih soal tradisi menuju kedewasaan. Kali ini milik suku Ngoni, Malawi. Para gadis harus rela diasingkan selama tiga bukan dan duduk telanjang dalam air

diasingkan kaya penjahat aja via keepo.me

Tradisi yang satu ini bisa dibilang hampir sama atau merupakan perpaduan dari tradisi suku Nootka dan suku Algonquin. Para gadis yang sedang ranum menuju dewasa akan diasingkan di tempat terpencil selama tiga bulan, dengan tubuh dibaluri sejenis tepung putih yang menandakan pemisahan fisik dan rohani dari masyarakat dimana mereka tinggal.

Setelah diasingkan selama tiga bulan, ritual belum selesai. Gadis-gadis itu masih harus menjalani satu ritual yang sama sekali nggak menyenangkan. Yaitu harus duduk telanjang di dalam air sungai atau danau selama beberapa waktu. Sang gadis diperbolehkan keluar dari air ketika salah satu wanita yang dituakan dalam suku memperbolehkannya keluar.

Kalau kamu kira dikubur dalam pasir itu menyenangkan, mungkin itu hanya dalam hitungan detik saja. Gimana kalau dalam waktu lama dan matahari sedang terik-teriknya seperti yang dialami gadis-gadis suku Luiseno, California?

beranak dalam pasir entar akhirnya, kirain di film film doang -_- via ikhsansyukur.blogspot.com

Ketika gadis suku Luiseno mendapatkan haid pertamanya, para tetua suku akan mempersiapkan ritual bagi sang gadis, yaitu dengan menguburnya di dalam pasir. Sang gadis akan dikubur dalam pasir pada siang hari, karena California merupakan daerah yang panas maka pasir yang digunakan untuk mengubur juga akan sangat panas.

Sang gadis harus kuat menahan berat dan panasnya pasir tersebut sambil mendengarkan wejangan-wejangan dari wanita yang lebih tua mengenai perubahan bentuk tubuh, perilaku yang pantas, serta cara menjadi istri yang baik. Setelah melewati semua itu, barulah sang gadis dianggap layak untuk menempuh kehidupan sebagai seorang wanita, seorang istri tepatnya.

Terakhir, lagi-lagi dilakukan para gadis saat mendapatkan haid pertamanya. Lomba lari dengan pakaian tradisional masih terus dilangsungkan wanita suku Navajo, Indian

lari doang sih nggak papa. kalau pas haid dan bajunya nggak nyaman gimana

Ritual cukup menyiksa bagi wanita suku Navajo, Indian ialah lomba lari dengan pakaian tradisional dari kulit rusa yang sangat berat selama empat hari berturut-turut dalam keadaan haid. Kebayang sih gimana rasanya perutnya. Sang gadis harus bangun saat matahari terbit dan berlari menuju arah datangnya matahari terbit. Saat malah setelah berakhirnya lomba lari itu, sang gadis harus duduk selonjor sepanjang malam. Dan keesokan harinya, dia diharuskan membuat kue dari tepung jagung yang sangat besar untuk diberikan ke seluruh anggota suku. Udah capek abis lari, masih disuruh bikin kue. Duh!

Sudah bersyukur belum? Tenang, tradisi kejam dalam beberapa suku di dunia nggak mutlak diperuntukkan hanya untuk wanita saja kok. Laki-laki di suku Amazon harus merasakan sakitnya gigitan semut peluru, dan lelaki suku Algonquin harus amnesia saat beranjak dewasa. Intinya, bersyukurlah kalau dalam budaya yang kamu ikuti tak mewajibkanmu melakukan beragam ritual menyakitkan seperti ini.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!