Kata siapa mendaki itu kegiatan yang gitu-gitu aja? Banyak loh hal seru dan menantang yang bisa kamu lakukan saat mendaki. Kalau kamu bosan dengan cara mendaki yang menurutmu cuma gitu-gitu aja, kamu bisa mencontoh pendaki pink yang sukses memberi warna di dunia pendakian. Aksesoris berwarna merah muda yang selalu mereka kenakan di tiap pendakian terbukti membuat pendakian mereka semakin seru dan dipenuhi tawa.

Nah kalau menggunakan aksesoris saja menurutmu masih kurang, sepertinya kamu harus mencoba mendaki dengan cara seperti Cak Tarpin! Pendaki asal Malang yang cara mendakinya bakal membuat kamu geleng-geleng kepala.

“Cak, Cak, kok ada-ada aja sampeyan ini!”

Berbeda dari kebanyakan pendaki, Cak Tarpin mendaki dengan berjalan mundur! Bermodal helm dan spion, nyatanya Cak Tarpin bisa mendaki tanpa melihat ke depan. Luar biasa!

Pendakiannya seru! via merdeka.com

Ketika pendaki lain naik gunung dengan cara yang biasa-biasa saja, cak Tarpin melakukan pendakian dengan cara yang sedikit berbeda. Bahkan mungkin kamu nggak akan percaya. Cak Tarpin memilih cara berjalan mundur untuk melakukan pendakian. Beneran mundur! Ya kamu tau sendiri lah mendaki gunung menghadap ke depan aja susah banget. Apalagi menghadap ke belakang! Duh…

Advertisement

Dengan bermodal helm untuk melindungi kepalanya saat terjatuh dan spion untuk melihat jalan yang akan ia tuju, Cak Tarpin sukses menaklukkan gunung! Nggak cuma 1 gunung lho.

Karena aksinya tersebut, cak Tarpin sukses mendapat penghargaan dari Lembaga Prestasi Rekor Dunia Indonesia (Leprid). Salut!

Mungkin dalam benakmu, ada tanya “Ngapain sih bapak ini mendaki mundur?”. Meski kesannya seperti kurang kerjaan, nyatanya niatnya mulia

Komunitas Gimbal Alas! via www.merdeka.com

“Nah lu gila! Ngapain cobak naik gunung sambil jalan mundur? Kayak orang kurang kerjaan aja!”

Wajar jika kamu berpikir seperti itu. Secara logika saja, mendaki gunung biasa saja sudah melelahkan, gimana lagi mendaki gunung sambil berjalan mundur? Kurang kerjaan nggak sih? Mungkin pikir kita demikian. Senyatanya, tidak seperti itu.

Di balik aksi yang sepintas terlihat seperti aksi ‘kurang kerjaan’ tersebut, ada tujuan mulia yang digagas oleh pria kelahiran Tumpang, Malang, 52 tahun silam ini. Bukan karena ingin mencari sensasi, Cak Tarpin ingin memberi contoh pada pendaki pemula mengenai prosedur pendakian yang baik, soal bagaimana hidup di alam terbuka, dan juga aksi bersih gunung.

Cak Tarpin bersama Komunitas Gimbal Alas kian hari makin prihatin soal banyaknya sampah yang berserakan di gunung. Oleh karena itu, sepanjang aksinya berjalan mundur, Cak Tarpin pun juga akan melakukan aksi pemungutan sampah. Sungguh aksi yang sangat mulia!

Hebatnya, ngak cuma sekadar sekali loh Cak Tarpin sudah membuktikan aksinya! Terhitung sudah tiga gunung berbeda sudah dia daki (dengan jalan mundur)

Sampai Rinjani juga! via menembusbatasindonesia.wordpress.com

Pendakian yang paling anyar adalah usaha Cak Tarpin menaklukkan Bromo-Semeru dengan cara berjalan mundur. Baru Oktober kemarin cak Tarpin melangsungkan aksi mendaki mundur di Bromo dan Semeru sembari memungut sampah yang ada di dua gunung tersebut.

Hebatnya, aksi Bromo-Semeru tersebut bukan aksi pertama Cak Tarpin. Tahun 2013 adalah kali pertama cak Tarpin melangsungkan aksi mendaki mundurnya. Ia sukses menaklukkan Semeru dengan berjalan mundur pada tahun itu. Pada tahun 2014 target cak Tarpin lebih ekstrem lagi. Ia sukses mendaki mundur menaklukkan Rinjani.

Bromo, Semeru dan Rinjani seakan jadi saksi keteguhan cak Tarpin dalam mencintai gunung. Mendaki mundur sembari memungut sampah, aksi cak Tarpin yang seakan ‘kurang kerjaan’ ini nyatanya sungguh mulia.

Cak Tarpin tahu bahwa mendaki mundur itu bukan perkara mudah, jatuh bangun sudah pernah ia rasa. Tapi, nyatanya ia nggak kapok dan terus mendaki mundur

Ini bukan aktivitas kurang kerjaan! via www.kompasiana.com

Siapa yang berani bilang bahwa mendaki gunung itu kegiatan gampang? Selain fisikmu akan diuji, alam juga akan memberikan tantangan tersendiri. Mendaki jelas-jelas bukan kegiatan yang gampang! Nah, Cak Tarpin malah melakukan pendakian dengan cara berjalan mundur. Tingkat kesulitannya jelas-jelas jauh lebih menantang.

Sepanjang aksinya, Cak Tarpin tentu sudah sering terjatuh dan mengalami luka. Hanya saja, Cak Tarpin nggak kapok menjalankan aksinya. Berbekal niatan untuk mendidik pendaki pemula agar menjadi pendaki yang mencintai alam serta ingin membersihkan gunung dari sampah-sampah yang berserakan, Cak Tarpin tetap konsisten menjalankan aksinya!

Salut untuk cak Tarpin! Semoga ke depannya pendaki-pendaki yang lain bisa lebih mencintai alam, ya~

Tertarik mengikuti jejak Cak Tarpin. Apapun jenis pendakianmu, menghadap depan atau belakang, menjaga alam adalah hal yang tetap harus kamu prioritaskan.

Salam lestari.