Mendaki gunung sudah menjadi bagian dari kegiatan traveling yang digemari banyak orang. Selain mencari kepuasan lewat suasana dan panorama alam yang ditawarkan, beberapa orang merasa lebih tertantang untuk melakukan perjalanan menuju puncak gunung dengan segala kesulitan yang dihadapinya.

Dibalik keseruan dan pengalaman yang bisa didapatkan dari mendaki, beberapa gunung dipercaya sebagai tempat yang sakral dan gaib. Sehingga jangan heran jika kamu menemukan peraturan-peraturan yang dianggap kurang lazim dan harus dipenuhi sebelum melakukan pendakian. Diantara peraturan-peraturan tersebut, juga terdapat beberapa pantangan atau larangan tertentu yang jika dilanggar maka dipercaya akan berakibat fatal bagi para pendaki.

Salah satu pantangan yang diterapkan adalah larangan untuk mendaki dengan jumlah pendaki ganjil. Beberapa destinasi pendakian yang memberlakukan aturan ini antara lain Gunung Lawu, Gunung Slamet, Gunung Arjuna, Gunung Welirang dan Gunung Semeru. Ada apa ya, dengan angka ganjil?

Konon katanya, jika kamu mendaki gunung dengan rombongan berjumlah ganjil, hal itu bisa mendatangkan kesialan. Masa, sih?

pamali kalo ganjil via goborobudur.com

Ketika akan melakukan pendakian di gunung-gunung tertentu, kamu akan menemukan larangan-larangan baik dalam bentuk tertulis maupun anjuran secara langsung oleh tim pos penjagaan. Salah satu diantaranya adalah kamu disarankan untuk nggak membawa anggota dengan jumlah ganjil.

Advertisement

Menurut mitos, jika kamu tetap nekat dengan anggota berjumlah ganjil, maka rombonganmu akan digenapkan oleh penunggu gunung tersebut. Dengan kata lain, akan ada anggota rombongan pendakian yang entah tersesat ataupun sengaja disembunyikan.

Kok seram, ya? Oke, coba kita telusuri dari salah satu spot, yuk!

Sebagai pusat spiritual di Pulau Jawa, Gunung Lawu memiliki ‘keunikan’ tersendiri. Hal inilah yang membuat para pendaki nggak boleh sembarangan dalam melakukan pendakian

jalur pendakian Gunung Lawu via hielmy10.blogspot.co.id

Gunung Lawu memang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan gunung lain di Pulau Jawa di mana aura mistis dapat dirasakan secara langsung. Menurut Bintang Lawu, sosok yang sangat mengenal seluk beluk Gunung Lawu, gunung dengan ketinggian 3265 mdpl ini merupakan pusat spiritual di pulau Jawa dan sebagai tempat peradaban pertama kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa. Konon, raja pertama dipercaya sebagai utusan dewa dari kayangan yang terkesima melihat pesona yang tersimpan di Gunung Lawu.

Gunung yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini juga memiliki tingkat misteri yang nggak kalah menyeramkan dibandingkan dengan banyaknya gunung angker di Pulau Jawa. Bahkan dengan keberadaan banyaknya makam di sekitar gunung ini yang dipercaya adalah makam para raja zaman kerajaan dahulu, membuat semua pendaki nggak boleh sembarangan dalam melakukan pendakian atau akibatnya akan fatal jika melanggar aturannya.

Mungkin karena hal-hal bersifat sejarah yang sakral dan agak mistis inilah, maka diberlakukan aturan untuk nggak melakukan pendakian dengan jumlah anggota rombongan yang ganjil. Di mana angka ganjil ini kerap dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistis.

Tapi, kenapa harus ‘ganjil’ yang jadi permasalahannya? Padahal masih banyak hal lain yang bisa dijadikan aturan keselamatan untuk pendakian

kenapa harus ganjil? via tympanifkunjani-ar.blogspot.co.id

Angka ganjil adalah angka yang apabila dibagi dengan angka 2 hasilnya nggak akan bulat atau dengan kata lain akan menjadi bilangan desimal. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa angka ganjil memiliki kekuatan magis, diantaranya ada yang berpendapat akan mendapat kejadian aneh dan juga kejadian yang nggak menyenangkan apabila mereka berhubungan dengan angka ganjil.

Jika mendaki dengan jumlah ganjil, banyak kejadian aneh yang dialami pendaki. Salah satunya acapkali terjadi di Gunung Slamet. Banyak cerita yang mengisahkan tentang bertambahnya jumlah rombongan ketika berjumlah ganjil. Misal dari 3 jadi 4 orang, dari 7 jadi 8 orang.

Salah satu pendaki bercerita bahwa ia mendaki Gunung Slamet bersama 2 temannya. Jadi total bertiga. Nah ketika mereka tidur di tenda, ia terbangun pada tengah malam. Ia heran, kok ada 4 orang di tendanya. Tanpa pikir panjang ia kembali tidur sembari ketakutan. Besok paginya ia bercerita kepada teman-temannya dan sontak bulu kuduk pun merinding.

Kadang nggak cuma pas tidur aja. Kisah lain menyebutkan, ada satu orang yang ‘disembunyikan’ oleh makhluk ghaib sehingga jumlahnya kembali genap. Atau, dia suka iseng ikut berfoto bersama pendaki untuk menggenapkan yang ganjil. Kadang-kadang juga ikut mendaki bersama rombongan. Serem abis ‘kan?

Padahal jika ditelisik lebih jauh, mendaki gunung dengan jumlah anggota ganjil juga punya beberapa keuntungan, lho!

lebih mudah ambil keputusan via solid-goldberjangka.com

Meskipun beberapa spot pendakian telah memberlakukan aturan untuk membawa anggota rombongan dengan jumlah genap, sebenarnya para pendaki dengan jumlah yang ganjil juga nggak keliru-keliru amat.

Saat rombongan mengalami kebingungan dan membutuhkan keputusan dengan cepat, jumlah anggota yang ganjil akan memudahkan proses pengambilan suara jika diperlukan.

Namanya juga perjalanan satu rombongan, masing-masing kepala pasti memiliki perbedaan persepsi yang harus disamakan untuk mengambil keputusan bersama. Coba bayangkan, jika anggota rombongan pendakian berjumlah genap, bisa jadi kesulitan saat dilakukan pengambilan suara karena memungkinkan terjadinya kesamaan jumlah suara. Masuk akal, kan?

Selain itu, beberapa anggapan dan kepercayaan lain justru menganggap angka ganjil sebagai sebuah keberuntungan. Ada pula masyarakat yang menganggap keganjilan nggak ada pengaruhnya pada kehidupan mereka sehari-hari, angka ganjil adalah angka yang sama dengan angka lainnya.

Meski masih dianggap sebagai kepercayaan yang melekat pada masyarakat, alangkah baiknya kamu mengambil sikap yang bijak untuk menanggapi mitos ini

jadi pendaki yang bijak via www.tonfeb.com

Terlepas dari segala mitos dan kemungkinan-kemungkinan bersifat gaib yang mungkin menimpa kita saat mendaki gunung, baiknya kamu membuka pikiran lebih jauh. Semua itu tergantung bagaimana kita melihat dan menyikapi fenomena-fenomena yang pernah dialami oleh sebagian orang.

Mungkin ada kalanya kita harus mematuhi peraturan yang ditetapkan saat akan mendaki gunung, karena namanya peraturan dimanapun harus dipatuhi. Apalagi jika status kita adalah sebagai pendatang. Tapi juga jangan menjadi fanatik dan nggak berpikir secara logis. Kehidupan berkembang, suatu saat mitos juga akan hilang seiring berjalannya waktu. Tetap berhati-hati, ya!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya