Umumnya, kematian adalah ajang kesedihan mendalam. Lain halnya di Tana Toraja, kematian menjadi pesta kegembiraan yang dirayakan ribuan orang dengan sangat meriah. Tak cuma itu, kuburan-kuburannya yang berserakan di banyak tempat menjadi atraksi wisata yang memikat wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Jelas Toraja sangat unik bukan? Sebagai travellers, kamu pasti tertantang dong untuk berkunjung ke daerah yang terletak di jantung Pulau Sulawesi, tepatnya di Provinsi Sulawesi Selatan.

Kamu wajib tahu, dalam bukunya yang sering jadi acuan para wisatawan dunia 1.000 Places To See Before You Die (2003), Patricia Schultz mengukuhkan Tana Toraja sebagai salah satu destinasi utama di dunia yang harus dikunjungi sebelum kamu mati. Waaah, selain wisata kematiannya yang eksotis, kamu juga akan menikmati suguhan bentang alam Toraja yang sangat memesona dan budaya masyarakat yang mengesankan.

Saya akan berbagi kisah bareng Hipwee Travel tentang destinasi apa saja yang bisa membuatmu berdecak kagum pada pesona wisata kematian ala Toraja.

Biar kamu tak kaget dengan istimewanya kematian di Tana Toraja, langkahkan kaki dulu ke Desa Kete Ketsu, miniaturnya kehidupan asli Tana Toraja

Kete Ketsu menjadi pesona paling lengkap di Tana Toraja via www.diasporaiqbal.blogspot.co.id

Kalau kamu pernah dikirimi kartu pos tentang Toraja, biasanya Desa Kete Ketsu lah yang jadi gambar ikonnya. Memang Kete Ketsu adalah desa budaya paling ikonik di Toraja. Kamu akan menyaksikan rumah panggung khas Toraja yang unik beratap seperti lambung perahu berbahan kayu yang ditumbuhi semak. Lihatlah tanduk-tanduk kerbau yang dipajang di depan rumah untuk menandakan kekayaan pemilik rumah. Selain tempat tinggal, tongkonan digunakan untuk menyimpan mayat sebelum dikuburkan melalui upacara Rambu Solo. Di hadapan Tongkonan, kamu akan berjumpa dengan Alang Suro, yakni lumbung padi orang Toraja.

Advertisement

Berjalanlah masuk makin dalam di Kete Ketsu, kamu akan mendapati peti-peti kayu tua tergantung di ceruk tebing. Sebagian sudah jatuh di dasar. Isinya adalah tengkorak dan tulang berserakan. Serem? Nggak ah. Dijamin lebih seram melihat foto pernikahan si mantan. Wkwkwk. Wisatawan malah biasanya berfoto bareng tengkorak dan tulang ini. Usia kuburan dan kerangka di Kete Ketsu ini sudah ratusan tahun lho dan dibiarkan berserak saja. Tahukah kamu? Untuk membenahinya perlu upacara adat yang biayanya sangat mahal. Ada juga beberapa menhir yang menjulang di atas hamparan rerumputan di Kete Ketsu.

Luar biasa! Bagaimana keras dan curamnya dinding tebing malah diukir untuk kuburan, kamu bisa kunjungi kuburan Lemo dan atau Suaya. Masing-masing punya keunikan lho

Tebing curam pun diukir sebagai kuburan. Luar biasa Toraja! via www.bongatoraja.com

Jiwa seni tradisi orang Toraja memang luar biasa. Tebing yang keras nan curam diukir untuk kuburan. Kamu datanglah ke Lemo, akan menjumpai lubang-lubang untuk menempatkan mayat di tebing. Di lubang tebing ini juga ada deretan patung Tau-tau yang mewujud boneka manusia. Tak semua mayat akan dibuatkan Tau-tau karena biasanya adalah keluarga bangsawan yang melakukannya dengan serangkaian upacara yang memerlukan banyak biaya. Di depan tebing, terdapat tongkonan mini untuk meletakkan peralatan pemakaman sang jenazah. Kuburan tebing Lemo adalah daftar destinasi wajib berkunjung di Toraja.

Ada kuburan bangsawan Muslim Toraja di Suaya Kings Grave. Indahnya toleransi via www.diaspraiqbal.blogspot.co.id

Ada satu lagi kuburan tebing di Toraja yang sangat unik, yakni Kuburan Raja-raja Suaya. Hampir sama dengan yang ada di Lemo, tapi di sini kamu bisa berjumpa dengan kuburan seorang Muslim yang dimakamkan di tanah. Ada bangsawan Toraja yang telah memeluk Islam dan berhaji tapi berpesan untuk dimakamkan di Toraja. Di sini kamu bisa belajar tentang indahnya toleransi di Toraja, Si bangsawan tetap menghormati tradisi leluhur dan sebaliknya keluarga besarnya menghargai ketentuan agama. Kamu perlu tahu bahwa tanah adalah elemen suci bagi orang Toraja sehingga penguburan tidak dilakukan di dalam tanah.

Tak cuma batu, pohon juga dijadikan sebagai kuburan yang diperuntukkan untuk bayi. Datanglah ke Kuburan Passiliran Kambira

Kuburan bayi yang nanti akan menyatu dengan pohon. via www.diasporaiqbal.blogspot.co.id

Bayi yang belum tumbuh giginya akan dikuburkan dalam sebuah pohon Tarra yang menjulang tinggi. Orang Toraja menganggap bayi seperti ini masih dalam keadaan suci. Pohon Tarra dipilih karena memiliki banyak getah yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu. Di Toraja, kuburan pohon seperti ini sebenarnya banyak tersebar, namun kamu bisa menemukannya mudah di daerah Kambira. Kamu akan menjumpai satu pohon Tarra yang dilubangi sebagai passiliran untuk menaruh mayat sang bayi. Nah, seiring berjalannya waktu, lubang-lubang ini akan menyatu lagi menjadi bagian pohon. Unik kan?

Tak ketinggalan, goa juga jadi tempat menaruh mayat. Kunjungilah Kuburan Londa dan cari tahu tentang kisah Romeo dan Juliet ala Toraja

Siapa takut dikelilingi tengkorak… via www.yukpegi.com

Di Londa ini, kamu akan ditantang untuk memasuki lorong goa yang remang dan menyaksikan peti-peti kayu dan ribuan kerangka yang teronggok berserakan. Di sekitar peti ini, kamu akan berjumpa dengan botol minuman, sirih pinang, rokok bahkan pakaian. Barang-barang ini adalah persembahan karena orang Toraja menganggap mereka sesungguhnya masih hidup. Kalau di tempat lain barangkali kamu akan bergidik ngeri, tapi di Londa ini kamu malah dikira aneh kalau sampai takut. Kunjunganmu ke Londa juga disuguhi dengan Tau-tau yang diletakkan di muka goa.

Yang tak boleh kamu lewatkan di Londa adalah menyimak kisah Lobo dan Andui yang sering dikenal Romeo Juliet ala ala Toraja. Konon sepasang kekasih ini mati bunuh diri bersama karena tak hubungannya tak direstui. Masih ada hubungan keluarga itulah yang menjadikan cinta mereka terlarang. Di antara ribuan mayat, kamu perlu menyaksikan tengkorak mereka dan merenunginya untuk jangan sampai kamu melakukannya. Cinta sih cinta, tapi kalau dilarang dan ikhtiar mentok ya sudah move on dong, cari yang lain di antara milyaran umat manusia. Gitu aja kok repot.

Karena Inggris punya Stonehenge yang masyhur, Toraja juga punya Bori Kalimbuang yang sesak dengan seratusan menhir yang menjulang

Sesak nan menjulang di Bori Kalimbuang. via www.diasporaiqbal.blogspot.co.id

Kamu kini akan berhadapan dengan batuan-batuan lonjong yang berdiri tegak menjulang. Sepintas mirip dengan Stonehenge di Inggris lho. Kawasan ini disebut sebagai Rante Kalimbuang. Sebenarnya di Toraja juga banyak dijumpai menhir seperti ini, tapi yang paling wah adalah di daerah Bori. Menhir-menhir ini dibangun untuk menghormati pemuka adat atau keluarga bangsawan yang meninggal dunia. Upacaranya pun harus megah nan istimewa yang dinamakan Rapasan Sapurandanan. Nah, tiap mendirikan satu menhir, dibutuhkan kerbau yang dikurbankan sebanyak minimal 24 ekor. Kerbau ini satu ekornya paling tidak harganya mencapai Rp 50 juta. Itu minimal. Bayangkanlah, pasti mahal sekali upacara ini.

Liat kantong, eh ada brosur doang, haha…

Jalan sebentar makin masuk di kawasan Bori, kamu akan berjumpa dengan batu oval besar yang diukir sebagai kuburan

Kuburan oval Liang Pa’ di Bori. Unik ya.. via www.diasporaiqbal.blogspot.co.id

Masih di Bori ya, kamu juga akan berjumpa dengan jenis kuburan lain khas orang Toraja, yakni Liang Pa . Mayat akan diletakkan di dalam lubang-lubang yang diukir pada sebuah batuan oval yang besar. Kamu juga akan menjumpai tumpukan tengkorak-tengkorak yang menyembul di beberapa lubang. Mayat yang masih baru biasanya diletakkan di lubang yang ditutupi oleh pintu. Kamu perlu tahu kalau setiap batuan oval yang dijadikan kuburan ini adalah milik satu keluarga besar. Sampai kini kamu sudah dapat berapa jenis kuburan di Toraja? Bisa menikmati dong wisata kematian khas Toraja.

Giliran batu-batuan lebih kecil untuk kuburan, mainlah ke Tinimbayo Lempo. Lalu lanjutkanlah ke Batu Tumonga untuk melihat panorama alam Toraja yang memesona

Batu-batu lebih kecil pun tak kalah untuk jadi kuburan. via travel.kompas.com

Ternyata, tak cuma batuan besar saja untuk kuburan, orang Toraja juga memanfaatkan batuan-batuan yang lebih kecil untuk meletakkan mayat. Di Tinimbayo Lempo, kamu akan menjumpai batuan-batuan berserakan di atas hamparan sawah bertingkat-tingkat yang digunakan untuk kuburan. Satu batuan biasanya dimanfaatkan oleh kuburan untuk satu keluarga. Uniknya setiap tahun ada ritual bersih-bersih kuburan yang dilakukan setiap kali setelah panen.

Untuk menikmati hamparan sawah yang lebih ciamik, lanjutkan perjalananmu ke kawasan Batu Tumonga. Inilah spot untuk melihat panorama alam Toraja yang terbaik. Di ketinggian 1800 meter dpal, kamu akan dihibur oleh sejuknya udara dan cakepnya lapis-lapis perbukitan. Datang saat musim panen akan membuat panorama makin menawan.

Perjalananmu ke Toraja akan hampa kalau tidak saksikan upacara penguburan Rambu Solo. Kalau tahu harga kerbau persembahannya, yakin kamu nggak bakal percaya

Serunya Rambo Solo. Ramai-ramai menggotong jenazah. via www.beritadaerah.co.id

Jika ingin tahu betapa semaraknya upacara kematian Toraja, datanglah saat upacara Rambu Solo berlangsung. Ribuan orang Toraja, terutama keluarga besar, akan berbondong untuk menyaksikan upacara penguburan mayat khas Toraja. Kamu perlu tahu kalau di Toraja ketika jasad meninggal tak langsung dikuburkan, tetapi menunggu keluarga bisa mengadakan upacara Rambu Solo. Upacara khas ini butuh kurban kerbau dan babi yang membutuhkan biaya yang banyak. Bahkan, saat bangsawan meninggal bisa membutuhkan 100 ekor kurban kerbau. Nah, wajib ada satu ekor kerbau khusus yang disebut tedong bonga alias kerbau belang yang harganya bisa mencapai setengah miliar. Gila kan!

Kamu wajib menyimak keseruan Rambu Solo yang paling dinanti yakni ketika sang penjagal menebas leher kerbau tersebut menggunakan sebilah parang dalam sekali ayunan. Selain, acara-acara kesenian Toraja pun dipertunjukkan dalam Rambu Solo. Tak ketinggalan, makan besar sehabis Rambu Solo menjadi daya tarik upacara menarik ini. Seru sekali deh pokoknya! Oh ya, paling banyak Rambu Solo dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus dan pastikan kamu tak ketinggalan menyaksikan upacara keren ini.

Kamu akan makin yakin kagum sama wisata kematian Toraja kalau sempat menyaksikan mistisnya upacara Ma nene

Mayat berdasi. Serem?? via www.blog.8share.com

Siapa yang tak tercengang dengan Ma nene ini? Kamu akan ditunjukkan suatu upacara istimewa yang mana mayat yang masih baik jasadnya akan dibersihkan dan diganti pakaiannya. Mayat ini akan dihadirkan di muka publik dan bisa berpakaian rapi berdasi lengkap dengan kaca mata hitam ala orang kantoran di ibukota. Sepintas hal ini seperti film Residen Evil dalam bentuk yang nyata, tapi yakinlah si mayat tidak untuk menyerang orang hidup. Upacara Ma nene dilakukan tiap tiga tahun sekali setelah musim panen dan biasanya jatuh pada bulan Agustus.

Dari upacara Ma nene ini, kamu makin yakin kalau bumi Toraja ini memang begitu mistis. Tapi eksotis.

Kalau sekedar membaca artikel ini, mungkin kamu masih terbayang ketakutan. Okeee.. Tak ada cara lain untuk mengusir ketakutan dan membuktikan kekagumanmu, selain travelling-lah langsung ke Tana Toraja. Cuusss, segeralah siapkan penerbanganmu ke Makassar. Lalu, sambung dengan transportasi bus yang akan memakan waktu 8 jam perjalanan jurusan Makassar Toraja. Ya, 3 hari di Tana Toraja sangatlah cukup untuk melemparkan dirimu pada dunia kematian ala Tana Toraja.

Mungkin setelah pulang dari Toraja, kamu akan terlatih melihat tengkorak dan kerangka yang benar nyata. Namun, saya tak bisa menjamin, kamu bisa kuat untuk kuat melihat mantan yang kini bahagia bersama pasangan halalnya.

Duuuh Kak!

Sumber Foto Cover

www.diasporaiqbal.blogspot.co.id