Tak ada yang menduga kala klub bernama Chapecoense berhasil mencapai babak final Copa Sudamericana 2016. Suasana tegang ruang ganti sepanjang pertandingan berubah ceria. Gemuruh tawa terdengar riuh dari dalam ruang ganti klub asal Brasil ini. Untuk kali pertama sejak klub berdiri, mereka mencapai partai final Copa Sudamericana. Kejuaaraan terbesar kedua di Amerika Selatan. Bangga.

“Akhirnya kita lolos ke final!,” ujar salah satu pemain.
“Kita akan merajai Amerika Selatan,” teriak pemain lain.

Wajar. Kebanggaan tersebut merupakan cerminan budaya Brasil. Brasil memang terkenal dengan budaya dan kecintaannya pada sepak bola. Suasana meriah di ruang ganti Chapecoense, mulai dari jajaran pemain, staf kepelatihan hingga manajerial memancarkan raut muka bahagia. Ada yang meluapkannya dengan tawa hingga tangis bahagia. Perjuangan mereka sebagai tim tak diunggulkan menuliskan cerita manis dalam dongeng dunia sepak bola.

Itu terjadi tepat 6 hari sebelum mereka pergi. Ya, benar-benar pergi dari dunia ini.

Sebagai klub kecil di Brasil, mereka masih menghuni divisi bawah liga Brasil sebelum tahun 2014 lalu. Wajar kalau tak ada yang tahu

Siapa sih mereka? via cnn.com

Advertisement

Jujur saja. Dunia kurang begitu mengenal klub-klub di luar zona Eropa. Terlebih di liga Brasil sana. Kalau untuk tim nasional, Brasil bisa jadi memang salah satu unggulan. Namun klub-klubnya, paling hanya Santos, Sao Paolo dan Corinthians saja yang dikenal dunia.

Chapecoense? Siapa sih mereka?

Clapecoense adalah klub Brasil yang selama ini dianggap semenjana. Tapi semua berubah di tahun 2016. Mimpi mereka untuk menjadi klub besar di Amerika Selatan perlahan terbuka. Selepas kemenangan atas San Lorenzo, mimpi mulai melambung tinggi. Raut bahagia dan bangga terukir jelas di wajah seluruh pemain, staf, manajerial, hingga fans klub berjuluk Verdao tersebut.

Karenanya wajar jika sorak-sorai Chapecoense menggemuruh. Mencapai partai final Copa Sudamericana dan membayangkan mereka memenangkannya, rona bahagia terpancar dari wajah mereka

Bahkan saking bahagianya, selepas pertandingan melawan San Lorenzo pada 24 November kemarin, gemuruh tawa terdengar dari ruang ganti klub Brasil ini. Mereka menari, tertawa, berteriak lepas meluapkan bahagianya. “Kita akan menjadi juara Amerika Selatan!” Teriakan salah satu pemain tersebut semakin memacu kebahagiaan ruang ganti Chapecoense.

“Jika saya harus meninggal hari ini, saya akan meninggal dengan bahagia”

– Ciao Junior, pelatih kepala Chapecoense

Tak tanggung tanggung-tanggung, pelatih utama Chapecoense sampai berani mengucap kalimat tersebut saking bahagianya. Pun demikian dengan pemain-pemainnya. Rona bahagia terpampang jelas di wajah Tiago da Rocha Vieira. Setelah mendapat kabar bahwa ia akan menjadi seorang ayah pada Selasa minggu lalu, lolosnya Chapecoense ke final Copa Sudamericana jelas menjadi tahun paling bahagia dalam hidupnya.

Dengan begitu banyak kebahagiaan yang terjadi di tahun ini bagi Chapecoense, wajar jika riuh bahagia di ruang ganti klub pecah. Tak ada yang menduga jika di antara tawa bahagia mereka, ‘takdir’ menyaksikannya sembari memberikan senyumnya.

Selasa 29 November, Pesawat yang mereka tumpangi jatuh membawa serta mimpi dan tawa yang sempat dibawa terbang tinggi

Mimpi mereka dibawa jatuh via thebiglead.com

Tak ada yang menduganya. Kalimat pelatih Chapecoense, Ciao Junior, menjelma nyata. Setelah berhasil menjadi buah bibir media atas kesuksesan mereka mencapai partai final Copa Sudamericana, mereka kembali menjadi buah bibir di seluruh dunia. Sayangnya, alih-alih berita kemenangan, Chapecoense menjadi buah bibir karena tragedi yang menimpa mereka.

Perjalanan menuju Medellin menjadi perjalanan terakhir mereka. Pesawat British Aerospace 146 yang mereka naiki mengalami kecelakaan. Dugaan awal kecelakaan terjadi karena kurangnya bahan bakar serta masalah teknis. Sungguh sebuah akhir perjalanan yang tragis bagi Chapecoense yang sempat mengukir cerita manis di tahun 2016 ini.

Lagi-lagi tak ada yang menduganya. Bahkan sesaat sebelum pesawat lepas landas, seluruh jajaran tim sempat berfoto bersama. Bahkan beberapa pemain masih sempat mengunggah video di akun pribadi mereka selepas pesawat berangkat. Menunjukkan wajah bahagia mereka yang membayangkan menjadi juara Copa Sudamericana.

Namun takdir berkata lain. Pesawat yang mereka tumpangi jatuh membawa tawa yang sempat terlukis jelas di wajah mereka. Impian bahagia mereka berubah hitam legam seketika. Dari 76 penumpang, hanya 4 yang berhasil selamat.

Dunia sepak bola berkabung. Seluruh dunia menundukkan kepala tanda duka. Suasana raung ganti yang riuh 6 hari lalu, kini berubah hening dan legam

6 hari yang lalu, ruang ganti ini penuh suka cita via twimg.com

Tragedi ini membuat dunia berduka. Seluruh pecinta sepak bola dunia berkabung. Klub-klub sepak bola di seluruh belahan dunia, termasuk fans mereka memberi ucapan bela sungkawa. PSG mendonasikan sejumlah uang kepada Chapecoense, klub-klub di Brasil juga merelakan pemain mereka dipinjam dengan gratis oleh Chapecoense. Bahkan, Atletico Nacional yang menjadi lawan mereka di final Copa Sudamericana nanti meminta CONMEBOL untuk menghibahkan gelar juara kepada Chapecoense.

Dunia memberikan penghormatan terakhir mereka kepada Chapecoense. Seluruh dunia berkabung dalam doa untuk Chapecoense.

Kalau kita mengingat sejenak rekaman video kebahagiaan mereka minggu lalu ketika berhasil lolos ke partai final Copa Sudamericana, tentu ada rasa sesak yang menancap dalam dada. Melihat seluruh punggawa Chapecoense tertawa lepas dan menari-nari di ruang ganti dengan begitu bahagianya, kita hanya bisa menitikkan air mata.

Suasana riuh 6 hari lalu, kini berubah hening dan pilu. Para pemain yang tak ikut serta dalam perjalanan menuju Kolombia hanya bisa terdiam dan menangis di ruang ganti klub mereka. Perjalanan Verdao berakhir di tangan ‘takdir’. Mereka adalah juara. Jajaran pengurus klub terdiam dan menangis pilu, fans mereka tak kuasa menahan tangis duka dan keluarga yang ditinggalkan menangis sejadi-jadinya.

Begini suasana di dalam pesawat di mana mereka membuat video untuk terakhir kalinya.


Bagi Brasil yang memang kental dengan budaya sepak bolanya, Chapecoense akan selalu dianggap sebagai juara walau tanpa mahkota. Selamat jalan Chapecoense. Perjuangan kalian berakhir di tempat dengan jajaran trofi menghiasi setiap sudutnya. Bahagia bermain sepakbola di alam sana.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya