Indonesia kembali dirundung duka. Kali ini datangnya dari puncak gunung di Nusantara. Sebenarnya sudah banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari beberapa ‘gunungan duka’ yang terjadi di negeri kita ini. Tapi seolah para pendaki tak mengindahkan hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik. Entah siapa yang harus disalahkan, tetapi jangan pernah menganggap puncak gunung bisa melakukan kesalahan. Puncak akan selalu berada di puncak, tinggal bagaimana kita menuju ke sana dengan bijak.

Ada tiga sumber air mata yang datang sekaligus minggu ini di kalangan pendaki Indonesia. Hipwee Travel merangkumnya dalam duka pendaki Indonesia. Semoga doa senantiasa kita curahkan untuk mereka.

Seorang pendaki sekaligus tenaga kerja di Freeport, mengakhiri petualangannya di Cartenz, Jayawijaya. Lagi, Hipotermia menjadi kambing hitam yang merenggut nyawa

Evakuasi Erick Erlangga. via www.facebook.com

Erick Erlangga (30), menjadi korban keganasan Cartenz Pyramid, (17/4). Pada pukul 07:00 WIT, melalui siaran pers PT Freeport Indonesia (FI) di Jayapura, Erick dikabarkan telah menghembuskan napas terakhirnya di Yellow Valley, Areal Grasberg Mine yang berada di Distrik Tembagapura. Geotech underground PT Freeport Indonesia di Tembagapura Kabupaten Mimika ini sempat mendapatkan pertolongan pertama dari tim Emergency Preparedness & Respone (EP&R) PT Freeport Indonesia yang turut dalam rombongannya. Tapi, badai salju di Cartenz Pyramid nggak bisa menyudahi penderitaan Erick. Hipotermia berat menjadi akhir petualangan Erick sebagai pemandu 32 pendaki lainnya dalam ekspedisi PT Freeport Indonesia untuk memeringati Hari Kartini di puncak Cartenz.

Lelaki asal Tasikmalaya ini meninggalkan seorang istri yang tengah mengandung tiga bulan dan seorang anak berusia 3 tahun. 🙁

Advertisement

Meski sebenarnya Erick termasuk pendaki pro yang telah berpengalaman dan menjadi pemandu untuk 32 pendaki lainnya, Erick nggak bisa menghindar dari maut hipotermia. Seberapa besar pun pengalaman dan jam terbangmu dalam pendakian, nggak bisa menghindarkanmu dari cuaca buruk di gunung yang datangnya nggak pernah terduga. Jangan pernah menyepelekan keadaan seperti ini. Erick telah menjadi bukti sahih bahwa pengalaman dan jam terbang nggak bisa menjamin keselamatanmu dalam mendaki gunung!

Minggu kemarin, Mapala UI pun jadi korban. Terpeleset dalam perjalanannya pulang dari puncak Gunung Slamet.

Puncak Surono Gunung Slamet via Bambangan, Purbalingga, Jawa Tengah. via www.instagram.com

Selang sehari, kabar duka menghampiri pendaki Indonesia lagi. Setelah Erick Erlangga di Cartenz Pyramid, kini giliran Gunung Slamet yang melahirkan air mata. Pemuda bernama Irfan dikabarkan tewas dalam perjalanan menuruni puncak di Gunung Slamet melalui jalur Guci-Baturaden, (17/4). Sekadar catatan, jalur Baturaden memang terkenal sangat ekstrem. Banyak turunan terjal dan akar-akar pohon besar yang malang melintang.

Irfan mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia, Depok. Belum diketahui pasti penyebabnya, Irfan diberitakan terpeleset ke jurang hingga mengakibatkan patah tulang pinggang. Diberitakan pula oleh beberapa media nasional, hingga pagi ini Irfan masih sadar, masih hidup. Pagi ini tim SAR masih mengevakuasinya, menjemput Irfan dari jalur Baturaden. Sebab posisi terakhir Irfan dan kawan-kawannya berada di persimpangan jalur antara Baturaden dan Bambangan, lebih tepatnya di batas vegetasi Plawangan. Semoga masih bisa tertolong!

Dua hari sebelumnya, seorang pendaki wanita juga terpeleset di lembah Gunung Rinjani. Beruntung, Tuhan masih sayang padanya.

Kasihan. 🙁 via www.facebook.com

Nggak disebutkan namanya, pendaki wanita yang tergabung dalam grup kecil pendakian di Gunung Rinjani diberitakan terpeleset ketika hendak turun dari puncak Rinjani. Dikutip dari fanspage FB Backpacker Nusantara, pendaki ini mengalami patang tulang pinggang setelah dievakuasi dan dibawa ke rumkit oleh petugas Taman Nasional Gunung Rinjani, (16/4).

Ketiga tragedi ini bukan sepenuhnya salah semesta. Kita yang harusnya bijak dalam menyikapi segala kemungkinan buruk yang ada.

Cuaca begini, siapa yang bisa bertahan? via www.timesofisrael.com

Dalam pendakian, alam memang sering banget menjadi penentu keselamatan. Nggak jarang, hujan, badai, dan angin ribut menyertai perjalananmu. Kepergian Erick, kecelakaan yang menimpa pendaki cewek di Gunung Rinjani dan Irfan di Gunung Slamet memang nggak sepenuhnya salah alam. Hujan badai yang menyerang Erick dan timnya memang nggak bisa dihindari. Tetapi andai saja Erick dalam keadaan fisik yang baik, bukan nggak mungkin Erick bisa kembali bekerja dan menemui calon anaknya yang baru berusia 3 bulan dalam kandungan istrinya di Tasikmalaya.

Hipotermia nggak bisa dihindari lagi. Erick membeku di Yellow Valley. Sementara dua pendaki di Gunung Rinjani dan Gunung Slamet, mereka terpeleset dari treknya menuju ke rumah. Turun gunung lebih membahayakan daripada naik gunung, bukan? Tolong perhatikan setiap langkah kakimu selama menuruni lembah!

Perjuanganmu baru dimulai setelah meninggalkan puncak dan berfoto ria dengan berbagai pose. Pulang ke rumah adalah ujian sesungguhnya.

Hati-hati, ya! via www.stateeitc.com

Perjuangan baru dimulai ketika kamu sudah sampai puncak, bukan ketika kamu hendak berangkat. Jangan pernah berpikiran berfoto ria di puncak gunung dengan berbagai pose, dan pulang dengan sealbum foto yang menawan. Gaes, perjuanganmu baru dimulai setelah kamu meninggalkan puncak dan camping ground!

Mungkin masih banyak dari kamu yang berpikir jalan turunan akan sangat mudah dilalui tanpa menguras banyak energi, daripada waktu mendaki. Yasalam! Sudah banyak loh, pendaki yang menjadi korban atas kelalaian mereka sendiri ketika turun gunung. Ingat kembali, pulang ke rumah adalah ujian sesungguhnya dalam pendakian!

Kamu tahu, sebesar apa kesedihan bagi keluarga yang ditinggalkan? Plis, pikir ulang sebelum naik gunung, ya!

Jangan galau pas udah sampai di puncak. Pikirkan sebelum naik! via www.greenland.com

Tentu nggak ada pendaki yang pengin pulang dengan nggak selamat. Ketika kamu memutuskan untuk mendaki, persiapkan diri dan peralatanmu dengan benar dan matang. Jangan asal naik! Beberapa dari pendaki yang gugur dalam perjuangannya adalah mereka yang masih suka lalai dalam menghadapi ujian di gunung. Peralatan minimalis dan kehilangan konsentrasi menjadi faktor utama kegagalan mereka. Ingat, Gaes, ada keluargamu yang menunggumu kembali dari perjalananmu mendaki gunung!

Gaes, cobalah pikir kembali sebelum mendaki. Masalah cuaca, pendaki mana pun hanya bisa memprediksi, tapi cuma Tuhanlah yang bisa menentukan. Kamu hanya perlu hati-hati, fokus, dan bersikaplah dewasa. Perhatikan kesehatanmu sebelum mendaki! Jangan jadi pendaki alay yang hanya bisa menyusahkan pendaki lainnya.

Terakhir, mari panjatkan doa untuk mereka yang baru saja berduka. Semoga kejadian ini nggak terulang lagi.