Kerja-Gajian-Berburu tiket murah-Liburan-Repeat

Hidup sendiri di ibukota sebagai gadis berusia 25 tahun yang sudah mandiri sejak lulus kuliah memang tak mudah. Banyak pergolakan batin yang mau tak mau mesti ditanggung seorang diri. Ya, contohnya saja jika sedang jatuh hati sakit. Siapa lagi yang mau merawat kalau bukan diri sendiri? Dan satu lagi, ‘hidup sendiri’ yang saya tuliskan di atas memang literally sendiri alias tidak punya pasangan.

Sejak masih mengenakan seragam putih abu-abu, saya memang sudah terbiasa sendiri. Di saat kedua kakak perempuan saya dulu kalau ke mana-mana suka diantar-jemput, berbeda dengan saya yang seringnya naik-turun angkutan umum. Dari dulu saya memang hobi bereksplorasi. Saya pun mulai menyukai traveling ketika duduk di bangku kuliah semester dua, dan itu di tahun 2009. Kota-kota pertama yang saya sambangi kala itu ialah Jogja-Solo-Malang. Dengan bermodalkan uang 500 ribu dari hasil menabung uang jajan, saya bersama ketiga teman perempuan saya menjelajahi ketiga kota tersebut.

Lalu apa efek dari perjalanan itu? Ketagihan! Ya, traveling menjadi candu bagi saya karena saya bisa melihat, mengenal, mempelajari, dan mendapatkan banyak pengalaman. Wawasan saya pun semakin berkembang, ditambah lagi saya jadi memiliki banyak teman di luar sana. Saya pun jadi rajin menabung demi bisa mendatangi daerah-daerah lainnya yang ada di Indonesia. Hingga akhirnya saya lulus lalu mendapat pekerjaan, keinginan saya semakin besar, yakni menjelajahi berbagai negara.

Sering ditanya kenapa liburan terus tapi kok nggak pernah kelihatan bareng pasangan. Lupa kalau umur sudah 25?

sendiri juga gak apa-apa, yang penting bahagia via www.instagram.com

Advertisement

Mama: Kamu bulan depan nggak pulang, mau jalan ke mana lagi?

Saya: Ke mana-mana hati ini senang Mak

Mama: Jalan-jalan terus kapan nikahnya? Umur udah 25 juga.

Saya: Nanti kalau udah ditakdirin Tuhan

Ya, anak bungsu satu-satunya yang belum menikah emang selalu jadi bahan pertanyaan ‘kapan nyusul kakaknya?’. Gimana mau nikah kalau pasangan aja belum ada? Saya memang bisa dibilang santai atau bahkan terlalu buying time dalam urusan percintaan. Bukannya nggak mau cari pendamping hidup, tapi saya masih ingin menikmati kebebasan saya untuk bereksplorasi.

Di usia saya sekarang ini memang sangat rentan mengalami quarter life crisis. Saya pun sudah dan sedang mengalaminya saat ini. Saya mulai mempertanyakan ‘gue mau jadi apa sih di dunia ini?’. Ketika satu persatu teman saya sibuk menyebar undangan pernikahan mereka, saya masih saja sibuk mencoret-coret tanggalan untuk bisa berpergian. Ketika teman-teman saya pada menggondong bayi mungil mereka di sosial media, saya justru sibuk mempersiapkan catatan untuk ber-traveling ria. Gue emang gitu anaknya!

Tabungan habis untuk jalan-jalan, kapan kumpulin uang buat masa depan?

traveling is priceless via www.instagram.com

Saya akui, saya memang selalu menghabiskan tabungan demi bisa jalan-jalan. Mau bepergian seorang diri atau bersama teman, saya harus melakukan perjalanan setidaknya 3-4 kali dalam satu tahun. Entah itu ke luar ataupun dalam negeri, yang penting saya nggak melulu stuck di depan laptop untuk bekerja. Kata ‘reward yourself’ selalu saya tanamnkan dalam diri saya. Karena ketika kita sudah memiliki penghasilan sendiri dan tidak membebani orangtua lagi, itulah saatnya kita membahagiakan diri kita dengan cara masing-masing. And in my case is traveling. 

Lalu bagaimana dengan tabungan dari penghasilan yang masih dalam nominal level staf biasa? Ya gitu aja udah. Yang penting kebutuhan primer nggak terbengkalai, asuransi kesehatan juga tetap jalan, dan sikit-sikit punya tabungan emergency. Nah kalau untuk urusan masa depan, biarkan semesta yang akan membantunya kelak. Yang penting jangan lupa untuk tetap usaha.

Ketika ditanya dalam 3 tahun ke depan saya melihat diri saya sudah menjadi apa, saya memiliki jawaban yang sedikit agak berbeda

senyumin aja ya kan… via www.instagram.com

Kebanyakan dari teman saya, khususnya para kaum hawa akan menjawab melihat diri mereka memiliki keluarga dengan dua anak yang menggemaskan. Sedangkan saya membayangkan diri saya di 3 tahun ke depan ialah tengah menatap aurora yang diselimuti galaksi bimasakti di tengah malam yang syahdu. Itu salah satu keinginan terbesar saya dalam hidup ini.

Kembali lagi, bukannya tak ingin membangun dan membina keluarga, hanya saja rasa-rasanya saya belum siap lahir dan batin. Berada pada satu komitmen seumur hidup bersama seseorang yang akan menemani setiap hari hingga tua nanti, masih jauh dari bayangan saya kini.

“You only live once.”

Kita memang hidup cuma satu kali. Oleh karena itulah, cintai apa yang kamu miliki saat ini. Lakukan segala hal dengan hati tanpa merasa terbebani. Biarkan orang lain mau berkata apa tentang pilihan hidup kamu. Selama kamu merasa bahagia dengan apa yang kamu punya, hidup bisa lebih tenang dan tentram sebagaimana mestinya.

#HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu 

Baca tulisan #HipweeJurnal dari penulis lainnya di sini!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya