Libur panjang awal Mei kemarin Tim Hipwee Travel dapat kesempatan untuk meliput event pendakian bertajuk Jomblo Mendaki Rinjani edisi kedua. Agenda pendakian ini dimulai pada tanggal 4 dan berakhir pada tanggal 8 Mei 2016. Hipwee sudah kasih liputan pertama di artikel ini, Ketika Jomblo Berjuang Bersama untuk Mencumbu Puncak Rinjani. Mending kamu baca dulu deh sebelum lanjutin artikel ini. Biar nggak bingung nanti, hehehe.

Kalau udah baca yang pertama berarti siap lanjut di artikel kedua. Di artikel ini Hipwee Travel bakal kasih kamu pengalaman seru menuju puncak Rinjani 3.726 mdpl yang penuh perjuangan. Siap-siap Tarik nafas yang dalam ya, Jomblo Mendaki Rinjani bersiap untuk Summit Attack!

Plawangan Sembalun jadi titik awal jelang puncak. Kamu bisa foto bintang Milky Ways dulu di sana!

milky ways plawangan via www.facebook.com

Setelah melalui jalur super menyebalkan yaitu Tujuh Bukit Penyesalan kamu akan sampai di Plawangan Sembalun. Sebuah tempat di mana ada banyak tenda terhimpun jadi satu. Plawangan ini adalah tempat di mana jadi pemberhentian dua arah. Bisa untuk naik ke puncak Rinjani atau turun ke Danau Segara Anak. Dari sini, pemandangan danau terlihat nyata dan begitu indah terhampar.

Saking capeknya kami istirahat di luar tenda sambil menunggu makan malam. Tak ketinggalan kami melakukan pemotretan bintang yang sering disebut Milky Ways. Di atas gunung setinggi Rinjani, asalkan cuaca bagus, bintang-bintang di langit tampak begitu mengagumkan! Keindahan malam yang nggak terlukiskan dengan kata.

Advertisement

Daripada menginap di hotel bintang 5, lebih baik kita berbulan madu di bawah milyaran bintang, Dek!

It’s time to summit Attack! Perjalanan berat sudah menanti di depan, beradu dengan batu dan pasir demi menggapai Dewi Anjani

menuju puncak via www.sociotraveler.com

Pukul 02.00 WITA, tim bersiap untuk melakukan perjalanan menuju puncak. Persiapan perbekalan sudah lengkap. Senter, pakaian hangat, coklat dan minuman sudah disiapkan. Di tengah gulita dan dinginnya udara dini hari, kami menembusnya dengan penuh semangat. Tampak di punggungan arah puncak, senter-senter begitu riuh seakan ada antrian panjang arah puncak. Wah, kami merasa kalah cepat bangun tidurnya!

lelah, Dek via www.sociotraveler.com

Benar saja, medan berat sudah menanti bahkan di awal perjalanan. Trek pasir yang licin dan berdebu menyambut kami dengan angkuh. Di kegelapan malam, nafas kami saling memburu dan kaki kian berat untuk melaju. Tak jarang kami berhenti untuk minum atau sekedar meluruskan kaki. Perjalanan masih panjang dan trek puncak ini belum menunjukkan tanda-tanda sedikit bersahabat. Yah, perjalanan 6 jam ini bakal jadi salah satu perjalanan dalam hidup!

Seratus meter jelang summit adalah seratus meter terlama dan terberat dalam hidupmu. Puncak Rinjani sudah berada di depan matamu

antrean ke puncak via www.sociotraveler.com

Mentari pagi menyinari dengan begitu hangatnya. Memberi semangat baru bahwa perjalanan ini aka nada akhirnya. Trek yang sempat mudah karena hanya trek tanah (ya meskipun kanan kiri jurang), sudah habis. Saatnya 100 meter terakhir yang paling berat. Matahari sudah menyibak puncak Rinjani yang terasa amat dekat. Sayangnya trek kian curam, hampir 45 derajat kemiringannya. Menyisakan batu, kerikil, dan pasir yang bikin langkah kian berat.

Tiga langkah, kaki terbenam, kemudian merosot dua langkah ke belakang. Kalau gini terus, kapan sampainya?

Setelah perjuangan panjang yang benar-benar bikin lelah fisik dan mental, akhirnya puncak Rinjani sudah tampak di hadapan. Satu tikungan terakhir dan segera sampai. Eits, dari kejauhan terlihat puluhan pendaki memenuhi puncak. Riuh dan ramai sekali. Macet…

riuh di puncak via www.sociotraveler.com

Enam jam kemudian, Puncak Rinjani 3.726 sudah kami pijak. Rasanya begitu luar biasa. Tak terdefinisi dengan kata-kata…

Perihal mata air Sembalun yang rasanya seperti air surga. Rasakan sendiri kalau tak percaya

plawangan sembalun via www.facebook.com

Di puncak, kondisi begitu hiruk pikuk. Kemacetan Jakarta pindah ke puncak Rinjani. Puluhan orang berebut spot terbaik di Puncak. Saking penuhnya kami malah nggak kebagian buat foto bagus. Ngga papa lah, toh esensi pendakian bukan sekedar foto kan?

Saat menuruni puncak, kami berlari menyusuri trek yang sempat mematikan semangat kami tadi pagi. Kini, semua tampak mudah. Trek berpasir ini begitu nyaman untuk dituruni. Sampai di Plawangan, mata air Sembalun begitu menyejukkan kerongkongan yang kering. Entah terbuat dari surga mana, air dari Sembalun nggak ada tandingannya! Nikmat dan mengusir dahaga.

Perjalanan menuju danau terindah segera dimulai. Danau Segara Anak sudah menantimu dengan tidak sabar

sampai jumpa di danau via www.facebook.com

Misi puncak sudah tergapai oleh 6 jomblo saja. Sementara yang lain menyerah di tengah jalan. Tujuan kami sudah tercapai, tinggal menikmati perjalanan selanjutnya. Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan ke Danau Segara Anakan ketika sore hari. Panorama indah dari Plawangan bikin kami nggak sabar untuk segera sampai ke danau.

Perjalanan seru ini belum berakhir…