Cerita ini belum lama terjadi, sekitar 1 tahun yang lalu. Dan kisah ini nyata dengan perubahan seperlunya. Waktu itu aku sedang camping bersama kawan-kawanku sesama pendaki. Bukan, kali ini kami bukan berniat mendaki. Ya, mungkin bisa dikatakan reuni kali ya. Meskipun belum sampai 3 bulan kami bertemu terakhir kali. Namanya juga kangen. Nggak papalah…

Kami bertemu dalam perjalanan ke Gunung Rinjani. Ya, kami disatukan oleh nasib yang sama, jomblo. Agak ngenes sih, tapi justru karena itulah kami jadi makin dekat seperti ini. Perasaan senasib sepenanggungan kali ya. Aku nggak pernah menyangka mereka bakal jadi sahabatku seperti sekarang pada awalnya. Hingga baru berpisah 3 bulan saja sudah tak karuan rasanya.

Kami bertemu di Jogja akhir tahun lalu. Saat nuansa kota sedang romantis-romantisnya. Kadang gerimis disertai awan kelabu menggelayut tanpa jeda. Langit tak kunjung cerah meski tanah pun tak terlalu basah.

Perjalanan kami dimulai. Aku mengajak mereka berkemah di salah satu bukit di pelosok Jogja. Lagi ngehits kalau kata anak-anak muda…

tempatnya oke via piknikasik.com

Kami naik motor ke sana beramai-ramai, 9 orang. Perjalanannya tak begitu jauh, cuma sekitar satu jam saja. Keseruan kami berlanjut ketika sampai di sana. Ya maklumlah lama tak jumpa. Aku selalu membikin suasana agar ceria. Suasana sore itu pun penuh tawa. Mungkin sebelum mereka tahu bahwa sedari tadi ada yang mengawasi di belakang tanpa diketahui…

Ayunan itu begitu indah, tapi ternyata ada gadis kecil yang terlampau marah…

Advertisement

gadis kecil itu marah via www.vebma.com

Salah satu kawan kami tiba-tiba berlari kecil menuju ke sebuah ayunan. Dia ingin selalu serba yang pertama, apalagi ke tempat yang lucu seperti itu. Kabar buruknya adalah, di ayunan itu sudah ada yang menduduki. Gawatnya lagi, jelas-jelas ia bukan manusia. Anak perempuan masih kecil, berambut panjang dikepang dua, dengan baju putih ala retro dengan gaya lama. Ketika kawanku tadi menduduki ayunan, sontak ia kaget dan beranjak dengan begitu kesal. Saking marahnya, ia langsung balik ke belakang. Maaf, hanya kepalanya saja yang berbalik, sementara tubuhnya tetap menghadap ke depan. Kemudian ia berlari menjauh dari tempat itu…

Untungnya, hanya aku yang bisa melihat…

Tak disangka, ia mengadu kepada keluarganya. Datanglah mereka meneror kami!

padahal banyak bintang via www.wiranurmansyah.com

Tak berapa lama kemudian, ada sesosok makhluk hitam datang berdiri di sampingku. Tampaknya, ia segera tahu bahwa aku bisa melihatnya. Dan lagi-lagi kawanku yang merebut ayunan tadi belum kapok juga. Ia bermain-main karet dan menjepretkannya padaku. Nggak masalah kalau aku yang kena, asalkan bukan makhluk di sampingku saja. Dan benar, jepretannya mengenai si makhluk tadi dan terpental. Kamu bisa menyaksikan karet terpental tanpa mengenai sesuatu. Mungkin hal ini sulit kamu percaya, tak apa toh aku cuma mau bercerita saja…

Selang sejam kemudian, kami gantian menjaga tenda. Saat giliranku, terjadi kejadian yang sulit aku lupakan!

Aku menjaga tenda ketika yang lain gantian untuk sholat Maghrib. Kami bertiga saja duduk-duduk di luar tenda. Dan tiba-tiba kejadian mengejutkan terjadi. Ada suara berisik, seperti ada seseorang di dalam tenda. Kali ini kedua temanku mendengar hal yang sama.

Kresek-kresek, kresek-kresek! Tiba-tiba ada sesuatu menyembul di pintu tenda. Ada sesosok kepala pocong muncul dan melihat kepadaku. Belum selesai rasa kagetku, ia sudah menghilang begitu saja!

kaget woi via cdn.klimg.com

Kedua temanku cuma bengong saja melihat mukaku yang sempat terkejut. Aku coba biasa saja dan tiduran di atas matras. Kebetulan ada SMS penting dari ayahku sehingga harus aku balas segera. Namun lagi-lagi hal aneh terjadi, handphone-ku tiba-tiba berganti dari menu SMS menjadi menu kamera depan aktif. Ya kamera depan seperti untuk selfie. Tanpa aku pencet kamera lho! Dan dalam layar kamera yang otomatis menjadi cermin itu, ada wajah pocong tadi muncul mengagetkanku sekali lagi.

Aku sedikit berteriak dan si pocong kemudian berpindah ke samping temanku yang satunya. Ia seolah enggan pergi mengganggu kami. Untungnya hal itu tak berlangsung lama. Beberapa detik kemudian ia terbang dan hilang. Kami pun bergegas masuk ke dalam tenda. Pengalaman di bukit ini membuatku sadar, bahwa manusia tetap harus sopan kepada makhluk tak kasat mata. Kalau tidak, mereka bisa meneror sampai seperti itu.

Ternyata, di bukit dengan pemandangan indah itu, ada makam yang bersemayam di sana. Wajarlah kalau tempat ini cukup angker. Mereka mungkin kesal dengan banyaknya manusia yang datang ke sana, juga tanpa sopan santun. Entah pengunjung yang bakal pergi atau mereka yang akan mengalah, tiada yang tahu. Semoga saja kamu tidak mengalami hal serem kaya gini ya…

NB : Kisah nyata dengan perubahan seperlunya

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya