Menjadi turis di negeri orang memang serba salah. Mereka harus nurut dengan peraturan yang ada di tempat tersebut. Misalnya, ketika seorang turis atau pelancong yang hendak menginap di sebuah hotel di tempat yang ia kunjungi. Otomatis, turis tersebut harus patuh dengan peraturan yang telah dibuat oleh pihak hotel. Bukankah begitu seharusnya?

Berbicara mengenai hotel dan turis, beberapa hari belakangan ini ada sebuah unggahan video di media sosial Facebook yang cukup ramai diperbincangkan orang. Banyak yang naik pitam dan mengelus dada karena adegan yang dipertontonkan dalam rekaman berdurasi lebih dari 10 menit ini. Adalah sebuah rekaman percakapan seorang tamu yang komplain atas ketaknyamanannya menginap di salah satu hotel di Indonesia. Sebelum menyimak ulasan ini, ada baiknya kamu jangan menilai buruk dari kedua pihak. Berikut akan Hipwee Travel ulas kejadiannya. Yuk!

Tamu hotel ini merekam kekecewaannya atas sikap staf hotel yang ‘mengusirnya’ dari dalam kamar. Begini kronologinya menurut si tamu

Hotel megah~ via www.yiannaki.gr

Saat sedang beristirahat di dalam kamar hotel yang telah ia sewa bersama keluarganya, tiba-tiba pihak hotel meminta si tamu untuk meninggalkan hotel tersebut. Alasannya adalah tingkat keamanan dan kenyamanan. Padahal, menurut si Bapak (tamu hotel) yang merekam kejadian ini, ia nggak diperbolehkan menginap di hotel ini karena satu kamar dihuni oleh empat orang. Tapi ketika meminta kamar yang lebih gede, malah nggak dikasih. Sementara Bapak penyewa hotel ini sudah membayar biaya kamar. “Hotel macam apa ini!” katanya.

Alasan pihak hotel yang nggak memberinya kamar yang lebih besar, karena nggak ada yang kosong. Dari situlah percekcokan dimulai, dan si Bapak mulai merekam kejadiannya di depan meja resepsionis.

Usut punya usut, ternyata Bapak ini terdiri dari enam orang; istri, dua anaknya, dan dua babysitter-nya. Dan pihak hotel meminta untuk memesan dua kamar, tapi mereka menolak

Advertisement

Sekeluarga, tanpa babysitter. via www.mounterrigal.com

Awalnya si Bapak ini mengaku menyewa kamar untuk empat orang (diawal dialognya). Tapi, setelah ia dan staf hotel bersama manager security ngobrol, ia mengaku bersama dengan istri, dua anaknya yang masih berumur 2 tahun dan 1 tahun, serta dua babysitter-nya. Kalau dari pihak hotel menyarankan mereka untuk membuka dua kamar, agar keamanan dan kenyamanan hotel bisa bersinergi. Tetapi bapak ini mengelak, dia udah minta untuk diberi kamar yang lebih besar, eh, tapi malah nggak dikasih. Lalu ia menolak kalau disuruh sewa dua kamar, “Saya nggak mau, saya satu keluarga. Saya nggak mau dipisahkan!” Bahkan, dengan intonasi yang meninggi, Bapak ini mengatakan, “Kalau ada yang muat 10 orang, saya bayar!”

Menurut pihak hotel, mereka mengatakan bahwa nggak ada kamar di hotel itu yang menyediakan kamar untuk empat orang dewasa, meski sudah menyewa extrabed. Sementara si Bapak ini tetap ngotot dan nggak mempermasalahkan kapasitas kamar. Walah, percakapan dua arah jadinya ini mah. -__-

Percakapan yang alot ini berakhir kentang alias kena tanggung. Nggak ada kelanjutan videonya. Katanya sih udah dihapus oleh si Bapak yang mengunggah di Facebook

Sayangnya, percakapan seru ini nggak sampai akhir. Cuma menyisakan penasaran buat penonton. Hehe. Katanya sih video ini udah dihapus dari Facebook si Bapak tadi.

Jauh sebelum mengunggah video kekecewaannya, si Bapak tadi berpendapat bahwa rekaman ini akan menghancurkan citra hotel

Abandoned hotel~ via blog.thecheaproute.com

Nah, satu yang unik dari kejadian ini adalah pernyataan si Bapak yang mengatakan bahwa semua sudah bersistem online. Dan dialog komplain atas ketaknyamanan hotel ini akan diunggahnya di media sosial, dengan tujuan agar citra hotel ini rusak. (?)

Dengan bersikap tak memihak, coba deh kamu nilai, siapa yang kurang dewasa dalam kasus ini. Jangan terhasut dengan pendapat para komentator di rekaman ini, ya!

Sementara buat kita yang hanya jadi penonton, coba deh kita menilai, siapa yang bersikap kurang dewasa dalam kasus ini. Menurutmu, siapa yang penyebab kekacauan? Tulis di kolom komentar, ya!

Setelah kamu tahu di mana letak salah-kelirunya, kalau kamu yang ada dalam masalah seperti ini, upayakanlah untuk tetap berbicara dengan kepala dingin. Berpikir sebelum bicara. Bersikap tenang justru akan menyelamatkanmu dalam desakan konflik. 🙂