Harga tiket yang relatif mahal dinilai cukup worth it oleh para wisatawan yang berkunjung ke Dieng Culture Festival (DCF) 2016. Sebab, kejutan yang dijanjikan panitia penyelenggara Jazz Atas Awan benar-benar dialami mereka yang datang untuk menikmati musik jazz dari ketinggian Dieng, tanggal 5 dan 6 Agustus kemarin.

“Ini benar-benar kejutan untuk kita yang sudah membayar mahal untuk menikmati musik jazz,” kala salah seorang pengunjung asal Pangandaran, Dian Melawardani (26).

Dian yang datang bersama rombongan merasa terhibur dengan penampil yang nggak ada dalam pamflet. Kejutan tersebut, bahkan sudah dijanjikan oleh panitia penyelenggara. Kejutan itu sengaja tidak diinformasikan kepada calon pengunjung yang sudah rela datang menikmati pertunjukan. Ada siapa aja sih di panggung Jazz Atas Awan dua malam kemarin? Sebutlah si Wira Nagara, komika yang bikin pengunjung ketawa-ketiwi dengan stand up comedy-nya.

Lalu yang paling mengejutkan ialah penampilan dari Anji sebagai kejutan pertama yang dijanjikan panitia penyelenggara. Tentu saja dengan lagu miliknya sendiri dan beberapa lagu cover milik band lain. Lalu, apa sih komentar Anji dan beberapa orang yang datang ke DCF 2016 tentang acara tahunan ini? Simak Yuk!

Dieng pas Festival, sedikit mirip dengan Jakarta. Banyaknya pengunjung dan kendaraan yang datang bikin macet nggak ketulungan

Dieng rasa Jakarta~ via media.radarbanyumas.co.id

Advertisement

“@duniamanji Pemerintah perlu menyiapkan akses jalan dan tempat parkir lebih baik. Saya yakin tiap tahun akan makin ramai. #DiengCultureFestival #DCF2016”

Kamu yang sempet kesana weekend lalu, setuju nggak dengan pendapat Anji? Soal tiap tahun makin ramai, siapa sih yang masih meragukannya? Nyatanya, tahun 2014 silam ada sekitar 26 ribu pengunjung yang datang, lanjut ke 2015 ada sekitar 60 ribu wisatawan yang bertandang, dan tahun 2016 ini nyaris 100 ribu orang Indonesia dan mancanegara yang menyemarakkan Dieng Culture Festival. Kalau macetnya aja udah banget, bayangin nggak tahun depan atau dua tahun lagi macetnya bakal kaya gimana? Tempat parkirnya mungkin bisa dibikin khusus yang lebih luas, pun dengan akses jalan yang lebih teratur kali ya. Kalau dari pertigaan semua diarahkan ke kiri, harusnya yang dari kanan nggak boleh lurus dong.

Soal sinyal, memang begitu berguna bagi para pekerja media dan untuk melambungkan nama Dieng di sosial media. Tapi menurutmu pribadi, gimana?

ini Anji bareng sama krunya, kamu ngefans dia dan nggak kemari? ahh kamu rugi via twitter.com

“@duniamanji Andai di Dieng sinyal bagus, pasti #DiengCultureFestival atau #DCF2016 jadi trending topic beberapa hari ini.”

Yang ini, tweet Anji tanggal 7 Agustus lalu. Ketika dia berandai-andai, kalau saja Dieng memiliki sinyal bagus, pasti negeri ini bangga lantaran event budaya itu menjadi perbincangan paling hits di sosial media. Kalau banyak yang berkeinginan seperti itu, mungkin ada baiknya, sebelum DCF tahun depan digelar, panitia koordinasi gitu sama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga beberapa provider untuk bangun beberapa tower. Berguna buat promosi kan?

Anji menilai, event ini luar biasa sukses dan menakjubkan. Dia berharap, daerah-daerah berhawa dingin di Nusantara bisa mencontoh apa yang dilakukan Dieng

kalau Dieng bisa, kenapa yang lain enggak? via twitter.com

“@duniamanji Tempat-tempat di Indonesia yang berhawa dingin, potensial sekali sebenarnya untuk punya acara seperti #DiengCultureFestival .”

Sebutlah Jazz Atas Awan di Dieng, Jazz Gunung di Bromo, Ijen Summer Jazz di Gunung Ijen Banyuwangi. Acara-acara ini memiliki konsep sama, persis. Menghadirkan musik jazz, memasyarakatkannya hingga ke ketinggian, menikmatinya di tengah dinginnya udara puncak gunung. Acara macam ini sukses? Selalu. Jadi, kenapa dataran tinggi atau gunung lain nggak mencontoh apa yang mereka lakukan? Semua orang makin kenal musik jazz, pendapatan masyarakat lokal pun semakin meningkat. Kamu sepemikiran dengan Anji?

Nggak cuma ada Anji, Pak Ganjar Pranowo yang ganteng itu juga datang lho pas acara puncak. Melalui twitter, beliau dapat laporan juga soal betapa macetnya Dieng

aduh pesonamu pak! via hipwee.com

“@rienda87 – Pak @ganjarpranowo nyuwun tulung pak…Jalan dieng macet skalii..saya sudah 2 jam kejebak ndak gerak , ga ada petugas ingkang ngatur pak”

“@ganjarpranowo Ada yg atur, sy dr sana… Kapasitas parkir tdk cukup, tamu #DiengCultureFestival mbludak”

Iya, macetnya parah memang. Seperti yang dilaporkan akun @rienda87 kepada Pak Ganjar, kemacetan selama 2,5 hingga 3 jam terjadi setelah parkiran kendaraan roda empat menuju arah ke luar Dieng. 2,5-3 jam itu hanya dalam jarak sekitar 500 meter lho. Gimana menurutmu? Ya jawaban pak Ganjar juga nggak salah sih, udah ada yang atur, ada banyak polisi yang sudah disiagakan, tapi kemacetan udah nggak bisa diatasi. Tamunya begitu membludak, kendaraan besar seperti bus juga nggak sedikit.

Kalau si Wira Nagara sih nggak complain apa-apa, tapi dari cuitannya di twitter, dia nampak bahagia ada disana

yang bisa ketawa saat suhu mencekam di Dieng kemarin, berterimakasihlah pada orang ini via twitter.com

“@wiranagara Terima kasih seluruh panitia @FestivalDieng dan Pokdarwis Dieng. Sekumpulan hebat yang membuat kita berkumpul di negeri atas awan.. #DCF2016”

“@wiranagara Kaki melangkah pulang menandai selesainya #DCF2016. Mari resapi hari ini bukan akhir melainkan awal kisah baru. Hati-hati di jalan, kawan!”

Sama satu lagi sih sebenernya, semoga lebih jelas lagi ya koordinasi antara pemerintah Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, jangan berebut ah. Terlepas dari itu, bukankah Wira Nagara berhasil menghangatkan Sabtu malammu saat Jazz Atas Awan kemarin? Ini kedua kalinya dia hadir di DCF, dan kayanya dia sih mau banget buat diundang lagi. Hehe. Kamu gimana? Tahun depan siap hadir lagi kah? Sama siapa? Selamat mempersiapkan pasangan diri untuk DCF tahun 2017 mendatang!