Dewasa ini, pembangunan infrastruktur dan tata kota terus digenjot pemerintah dengan masif. Tak terkecuali relokasi beberapa wilayah guna menunjuang kenyamanan dan kerapian kota. Dan, Malioboro nggak mau ketinggalan loh. Usut punya usut, ternyata nggak cuma kali ini aja Malioboro mengalami pemugaran.

Nah, sebagai pusat wisata yang nggak boleh ketinggalan untuk kamu kunjungi, Hipwee Travel pengin mengungkap seperti apa wujud Malioboro dari masa ke masa, hingga dampak relokasi yang dialaminya. Berikut ulasannya!

Mengenang Malioboro dari masa ke masa. Sebuah garis imajiner yang menjadi sentra perbelanjaan unik di Yogyakarta.

Malioboro. via anekatempatwisata.com

Apa yang kamu lihat dari Malioboro saat ini jauh berbeda dengan Malioboro di masa silam. Jalanan yang pernah menjadi saksi bisu penangkapan Bung Besar, Soekarno saat Agresi Militer II (pertempuran 6 jam) ini telah berubah pesat. Yang semula hanyalah jalanan penghubung antara Keraton, Gunung Merapi, dan pantai selatan ini, sekarang menjadi pusat wisata yang menarik bagi para pelancong. Melihat animo masyarakat akan magnet Malioboro, membuat pemerintah berpikir serius untuk mengembangkan potensi pariwisata di kawasan ini. Dari mulai pemugaran beberapa bangunan di sekitarnya, hingga pemugaran muka jalan di Malioboro. Alhasil, jadilah Malioboro sebagai sentra perbelanjaan unik dari Yogyakarta yang termasyur hingga mancanegara.

Tapak tilas kegamangan pemerintah dalam penyempurnaan Malioboro. Ternyata bukan cuma kamu aja yang galau, pemerintah juga bisa galau!

Pagar merah pembatas ruang gerak pejalan kaki. Galau lagi. via elantowow.wordpress.com

Advertisement

Kelabilan pemerintah mulai terbaca pada akhir tahun lalu. Di mana terpasang sederet pagar besi berwarna jingga, yang konon membutuhkan dana sampai setengah milyar, di sepanjang jalan Malioboro. Kepala UPT Malioboro Syarif Teguh, pada saat itu mengatakan bahwa kebijakan pemasangan pagar ini adalah untuk mendukung konsep pedestrian Malioboro yang sedang berjalan.

Pengadaan pagar ini justru membatasi gerak laku para pejalan kaki. Mungkin tujuannya adalah untuk memperlancar laju lalu lintas di sepanjang jalan Malioboro, kali ya? Padahal, pemerintah sebelumnya pernah berjanji akan menjadikan Malioboro sebagai kawasan ramah pejalan kaki dan disabilitas.

Jauh sebelum itu, pada tahun 2002-2003, pemerintah melakukan pemugaran di kawasan Malioboro dengan penambatan pot-pot raksasa dan relokasi para pedagang kaki lima (PKL). Tamanisasi ini malah mengurangi ruang ekspresi dan aksesibilitas para pejalan kaki. Hem!

Berlanjut pada tahun 2012, jalanan Malioboro ditanami patok peluru. Tujuannya sih biar pengendara nggak nyerobot hak pejalan kaki alias trotoar. Bagus sih maksudnya, memperluas fleksibilitas pejalan, tapi malah kasihan penyandang disabilitas! Mereka yang harus berjalan menggunakan kursi roda, harus susah payah untuk menikmati jalanan Malioboro. Belum lagi zebra cross yang ujungnya nggak bisa dilewati pejalan kaki buat menyeberang. Ditanami rerumputan biar lebih indah, malah diinjak-injak para pengunjung. Dan, kamu tahu berapa total biaya yang dikeluarkan untuk pemugaran pada tahun 2012 ini? Enam puluh juta!

Dan yang masih teringat betul adalah relokasi pada akhir 2015 lalu. Di mana pemerintah bermaksud untuk merapikan kesemerawutan jalan Malioboro dengan membangun pagar portable setinggi 1,5 meter. Hasilnya, pagar ini membatasi ruang gerak para pejalan kaki.

Duh, ini sih labil banget. Konsep revolusi yang masih jauh dari kata matang!

Setelah hampir 14 tahun lebih kebijakan pemerintah yang nggak jelas, akhirnya Malioboro bertransformasi menjadi kawasan ramah bagi pejalan kaki dan disabilitas.

Asyik, bukan? Nongkrong bebas tanpa ada ribuan motor yang mengganggu. :p via www.jogja24jam.com

Malioboro kini: sudah tidak ada tamanisasi, pagar berwarna jingga, patok peluru, dan zebracross yang nggak berujung. Akhirnya, relokasi yang berhasil diterapkan dua hari lalu ini dinilai cukup memuaskan. Malioboro yang sekarang sudah cukup rapi dan enak dipandang mata. Selain itu, pejalan kaki dan penyandang disabilitas bisa menikmati jalan di sepanjang garis imajiner Yogyakarta ini dengan nyaman. Janji inilah yang diharapkan masyarakat atas pemugaran kawasan Malioboro yang ramah dengan pejalan kaki dan disabilitas.

Meski riuh akan pro dan kontra, pemerintah telah mengupayakan langkah yang cukup visioner. Inilah hasilnya, Malioboro yang rapi dan tertib sebagai garis imajiner.

BARU DIMINTA JANGAN LEWAT SITU! via www.jogja24jam.com

Ujung dari kelabilan pemerintah dalam penataan distrik Malioboro adalah wajah baru yang lebih bersahabat. Saat ini, kantung parkir di sepanjang jalan udah nggak ada. Udah nggak semerawut seperti beberapa tahun lalu. Udah asyik buat para wisatawan yang mendambakan jalan kaki. Mungkin, manifestasi inilah yang diharapkan seluruh lini masyarakat atas jalanan Malioboro. Semoga kedepannya Malioboro tetap ramah pada siapapun juga. Ingat, ya, buat para pesepeda, jangan gunakan jalur pejalan kaki dan difabel! 🙂

Keresahan ratusan Jukir di Malioboro telah terjawab. Mereka ‘dipindahtugaskan’ ke parkir portable Abu Bakar Ali.

Parkir portable ABA. via www.jogja24jam.com

Buat para juru parkir (Jukir) Malioboro, tampaknya nggak perlu khawatir akan kehilangan pendapatannya. Sebab pemerintah telah merelokasi mereka ke parkir portable Abu Bakar Ali. Ya, meski nggak semuanya bisa mendapatkan pekerjaannya kembali, seenggaknya beberapa dari Jukir yang telah terdaftar bisa melanjutkan hidup dengan menjaga kendaraan para pengunjung. Paling nggak masih ada pekerjaan halal yang bisa mereka dapatkan. 🙂

Kita doakan semoga Malioboro bisa jadi icon wisata yang selain bersih juga tertata rapi dan makin dicinta. Selamat berlibur di Jogja, kawan!