Seolah menjawab keraguan para traveler yang enggan disebut alay, kali ini Hipwee Travel akan mengajakmu untuk kilas balik. Bagaimana tempat-tempat wisata ini hancur karena ulah traveler alay yang memang nggak bisa menghargai kehidupan! Ya, inilah beberapa tempat wisata yang hancur akibat ulah traveler alay!

Hamparan bunga langka yang dirawat sedemikian lama, hancur seketika. Traveler alay mengakhiri hidup taman bunga Amarylis, Jogja.

Salah via liburmulu.com

Nggak mungkin kamu lupa dengan tragedi ini. Taman bunga Amarylis milik Sukadi hancur dalam waktu sekejap ketika para traveler alay datang menyerang. Cuma gara-gara jiwa ‘pamer’ para pelancong ini, taman bunga yang dirawat sedemikian hingga oleh sang pemilik, sehari langsung habis diinjak-injak. Kalau udah begini, siapa yang harus disalahkan?

Seolah ingin diakui keberadaannya, traveler alay ini beraksi lagi di Festival of Light. Taman lampu pun bisa hancur diinjaki loh! Keren banget kan traveler alay ini?

Kesetrum boleh, Sis? :))) via www.dream.co.id

Bukan masalah seberapa keren kamu bergaya ketika difoto. Tapi ‘kan sayang banget, kalau cuma gara-gara foto, nyawamu terancam. Untung, nyawa para traveler dan orang-orang nggak bertanggung jawab ini masih bisa selamat, ketika menginjak-injak taman lampu di Kaliurang, Jogja ini. Yawla, untung pada nggak kesetrum!

Advertisement

 

Beralih ke Malang, Pulau Sempu yang sebelumnya merupakan cagar alam, oleh traveler alay dijadikan ‘pulau sampah’. Kelewatan!

Rusak! 🙁 via ceriwis.net

Percaya nggak percaya, Pulau Sempu yang sempat menjadi cagar alam dari Jawa Timur ini sudah berada di ambang kehancuran. Bukan di ambang, melainkan memang telah memasuki ‘masa tua’ untuk dikunjungi. Lihat saja, ekosistem kera di Pulau Sempu ini. Mereka telah kehilangan rumah dan sumber makanannya. Mau nggak mau mereka harus makan sampah yang menumpuk. 🙁

Masih di Jawa Timur, danau cantik Ranu Kumbolo pun harus ikhlas menerima nasibnya. Gunungan sampah mulai berdiri di jalur pendakian Gunung Semeru ini!

Gunungan sampah di muka Ranu Kumbolo. 🙁 via www.boombastis.com

Danau Ranu Kumbolo yang paling favorit bagi para pendaki ini ternyata menyisakan tangis berkepanjangan. Lihatlah, timbunan sampah yang menggunung itu! Siapa lagi yang mesti disalahkan, kalau bukan pendaki alay pembawa kertas bertuliskan “Indonesia itu indah” dan pendaki-pendaki yang nggak bertanggung jawab?

Coba deh tanya sama temanmu yang anak Jakarta. Pulau Tidung di Kepulauan Seribu masih secantik dulu nggak?

Sampah di Tidung, 2014. via esteraprillia.com

Padahal, Pulau Tidung ini sempat naik daun beberapa tahun silam. Namun, semakin banyak orang yang tahu tentang keindahan pulau yang berada di Kepulauan Seribu ini, makin banyak pula sampah yang ‘terkumpul’. Miris nggak tuh?

Dari Negeri Serambi Mekah, tragedi runtuhnya jembatan gantung hutan kota Langsa mungkin jadi perhatian menarik. Untuk merutuki kebodohan traveler alay.

Nah. via smeaker.com

Jembatan gantung hutan kota yang berada di desa Paya Bujok Seuleumak, Kecamatan Langsa Baro ini putus ketika puluhan hingga ratusan orang berdesakan memadatinya. Padahal, jembatan ini baru jadi sehari sebelum dibuka untuk umum. Dan, puluhan orang yang kebanyakan adalah perempuan tercebur dalam danau buatan itu.

Satu lagi taman bunga yang hancur karena traveler alay. Taman Raya Baturaden jadi korban selanjutnya.

Hancur juga. via redaksicepat.com

Seolah mengulang tragedi taman bunga Amarylis di Gunung Kidul, para traveler alay ini juga menyerang Taman Raya Baturaden. Konon, kata sang penjaga, rusaknya taman ini diakibatkan oleh para perempuan yang pengin banget foto di taman bunga itu.

Yang terbaru, sebuah saung di taman wisata permainan di Bengkulu roboh karena kelebihan kapasitas. Rebutan selfie yang berakibat cukup fatal.

Satu kata yang langsung terlontar, mungkin, adalah ‘untung dangkal’. Kejadian ini sama persis dengan jembatan gantung hutan kota di Langsa. Bedanya hanya pada jumlah orang yang tercebur dan lokasi kejadian. Persamaannya adalah saung ini rusak karena manusia! Banyaknya pengunjung yang ingin selfie di salah satu taman wisata permainan yang terletak di desa Pasar Pedati, kecamatan Pondok Kelapa, Bengkulu Tengah ini berakhir petaka. Ya, begitulah kira-kira akhir dari cerita ‘manis’ traveler alay.

Nah, itulah beberapa tragedi di tempat wisata yang diakibatkan oleh ulah para traveler alay. Mungkin kamu nggak mau dan nggak merasa sebagai traveler alay. Tapi orang lain dan alamlah yang bisa menilaimu sebagai traveler. So, ada baiknya, mulai sekarang, berikanlah barang sedikit perhatianmu pada alam dan lingkungan sekitar. Jaga alam kita tetap nyaman, ya!