Myanmar kini sedang dalam sorotan dunia. Dunia internasional tengah mendesak Myanmar menyelesaikan masalah kemanusiaan dan HAM terhadap etnis Rohingnya di Rakhine state. Apakah benar masalah pelanggaran HAM di Myanmar berawal dari sentimen agama atau etnis? Seperti yang selama ini diperdebatkan. Kami punya jawaban yang lebih realistis, akar masalahnya adalah persoalan tambang.

Kami mewawancarai Harry Lie, seorang traveler yang pernah memasuki kawasan konflik di Myanmar, tepatnya di Shan Area. Lokasi tambang permata yang cukup besar di Myanmar. Berikut ini petualangan Harry ketika menyelinap di lokasi tambang Shan Area. Memang bukan di Rakhine, namun pola terjadinya konflik kurang lebih sama. Yuk simak!

Tahun lalu, Harry sangat tertarik mengunjungi Myanmar karena dua hal, keindahan Bagan dan pesona permata bernama Pigeon Blood…

bagan, myanmar via yangonlife.cdn3.mspiral.biz

Perjalanan ke Myanmar bukanlah sebuah perjalanan biasa. Negara yang dulunya dikuasai junta militer ini memang sangatlah misterius dan menggetarkan nyali. Terlalu banyak ruang-ruang informasi yang sengaja ditutupi dan seakan tabu untuk diungkapkan kepada publik dan dunia internasional. Oleh karenanya, Harry tertantang untuk mencari tahu sendiri. Menguak kenapa banyak rahasia di negara yang sering dikalahkan Indonesia dalam pertandingan sepakbola ini.

Bagan menarik perhatian Harry untuk mengunjungi Myanmar. Keindahan candi-candi dengan balon udara yang memukau, jadi salah satu destinasi wajib yang akan dia datangi. Namun, rasa penasarannya terhadap negara ini justru membuatnya tertantang untuk melakukan hal nekat yang tak semua orang berani melakukannya.

Ya, Harry ingin memasuki kawasan konflik di Shan Area. Dia sangat penasaran untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di kawasan konflik di Myanmar. Dia tahu rencana ini akan tidak mudah untuk dieksekusi. Tapi tekadnya sudah bulat, ia akan ke Shan Area, bagaimanapun caranya.

Advertisement

salah satu pemandangan di shan area via www.go-myanmar.com

Panjang sekali prosedur yang harus Harry lewati untuk menembus zona konflik Myanmar. Ia menghubungi pihak kementerian pariwisata namun tidak mendapat izin. Melalui rekomendasi temannya, Harry kembali menghubungi pemerintah Myanmar, kali ini melalui Kementrian Minerba karena lokasi konflik itu berada di kawasan tambang. Ia kemudian dikenalkan kepada orang yang bersedia membantu untuk pengurusan izin masuk ke Shan Area. Lokasi tambang permata yang berharga sangat mahal. Salah satunya permata ruby, Pigeon Blood yang melegenda.

Tak mudah memang masuk ke sana. Harry diwawancara via email dan data pribadinya pun diminta. Dia pun diminta mentransfer uang dalam jumlah yang tidak sedikit, sekitar 20 juta rupiah. Proses seleksi yang cukup rumit untuk sekedar izin berwisata.

Sayangnya, prosedur itu pun tak menjamin Harry bakal mendapat izin masuk. Keputusan sepenuhnya di Kementrian Minerba dan Kementrian Keamanan Myanmar. Meskipun sudah bayar pun belum tentu dapat izin. Kalaupun dapat izin dan detik-detik terakhir izin itu dicabut, itu juga hak pemerintah Myanmar. Jika hal itu terjadi, uang yang sudah dibayarkan pun tak bisa dikembalikan. Sadis memang, tapi Harry lanjut terus.

Perjalanan menguji adrenalin dimulai. Setelah perjuangan panjang, Harry mendapat izin untuk masuk ke kawasan konflik di Shan Area

surat izin memasuki shan area via www.facebook.com

Harry mendarat di Mandalay dengan pengawasan yang begitu ketat. Dia sudah diawasi oleh intel dan ia sangat paham dengan konsekuensi tersebut. Maklum, data penerbangan, aktivitas hingga hotel semua sudah ditandai oleh pihak keamanan. Bisa dibayangkan bagaimana perjalanan wisata dipantau terus-terusan. Rasanya tentu tegang dan takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Sempat ia mencoba untuk kabur dari pengawasan tersebut, tapi takutnya izinnya bakal dicabut. Akhirnya, meski penuh pengawasan, Harry menikmati awal perjalanannya di Mandalay. Jadilah Harry seperti turis baik yang seakan polos dan tak mengerti apa-apa.

Sedan mewah Toyota Crown bersiap mengantarkan Harry ke Shan Area di pagi buta. Sebelumnya, dia sudah mendapatkan briefing dari pihak keamanan agar tidak bertindak macam-macam. Dia pun mendapatkan 2 pengawal yang akan mengantarkannya ke Shan Area. Semua bawaan Harry dicek, sampai jumlah uangnya dicek pula. Sosial medianya pun semuanya harus diberikan kepada mereka. Kalau berani macam-macam, tentu pria ini bisa terancam bahaya. Sepanjang perjalanan, dia masih mendapatkan wawancara ringan tentang profil dan juga aktivitasnya. Tak ingin semakin tertekan, Harry pun mengambil kesempatan untuk berbincang mengenai negara Myanmar, mulai dari pertanian, ekonomi sampai pemerintahannya.

Mobil sampai di pos pemeriksaan yang berisi barak tentara dan juga senapan kaliber besar dan kedua pengawal itu turun dan melapor ke tentara di pos. Harry dilarang turun dari mobil ataupun mengambil gambar sama sekali…

Pos pemeriksaan, dokumentasi Harry via www.facebook.com

Lama sekali dua pengawal itu berada di pos pemeriksaan. Suasana semakin tegang, apalagi ketika mereka tak kunjung datang. Harry sangat jenuh menunggu kembalinya dua pengawal itu, di pos pemeriksaan yang terlihat tak bersahabat itu.

Tak berapa lama, mereka berdua kembali ke mobil. Bedanya, kali ini wajah mereka tampak pucat dan seperti ketakutan. Mereka cuma diam dan melanjutkan perjalanan ke Shan Area. Suasana pun hening. Perjalanan pun kian tak nyaman. Apalagi masih ada beberapa pos yang harus dilewati. Untungnya, di pos-pos berikutnya mereka bisa melenggang dengan aman.

Sesampainya di Shan Area, Harry bertemu dengan masyarakat dan berbincang dengan mereka melalui perantara pengawal tersebut. Ia menggali informasi yang cukup mendalam dengan orang-orang di sana.

bersama pengawal, dokumentasi harry via www.facebook.com

Di Myanmar, setiap state (negara bagian) mempunyai tentara sendiri. Tentara ini berafiliasi pada sebuah faksi atau golongan, di mana tugasnya adalah mengamankan area tambang. Tentara inilah yang dibayar oleh pemilik tambang. Tambangnya pun tak sembarangan, tambang permata. Wajar apabila persenjataan mereka teramat canggih sampai helikopter dan tank. Sementara itu, tambang rakyat dilindungi oleh tentara militan yang dibentuk oleh rakyat sendiri. Pertarungan antara tentara faksi dengan tentara rakyat inilah yang memunculkan perang saudara selama puluhan tahun. Konflik horizontal ini sengaja dipelihara agar tidak tercipta kedamaian sehingga pemerintah tak bisa masuk ke sana.

Pertanyaan Harry selanjutnya adalah, kenapa tak ada satupun tentara pemerintah di area konflik?

ilustrasi tentara myanmar via internasional.republika.co.id

Jawabannya adalah, jika tentara pemerintah masuk ke lokasi konflik, maka semua tentara itu akan diserang oleh semua tentara faksi. Mereka takut jika pemerintah masuk dan mengendalikan situasi, lahan tambang jadi sulit untuk dikuasai. Pundi-pundi dolar dari tambang permata akan jatuh ke pemerintah. Maka dari itu, tentara pemerintah tidak akan berani mengusik area konflik dan mengisolirnya agar tidak meluas. Hal ini terjadi di banyak state karena banyaknya lahan tambang di Myanmar. Salah satunya Rakhine yang menyimpan cadangan minyak dan gas.

Konflik semacam ini jelas akan menimbulkan korban dari sipil, terutama suku-suku kecil yang cinta damai. Mereka akan terusir dari tanah mereka, atau dijadikan budak tambang oleh tentara. Suku Karen salah satu contohnya. Itu lho suku yang lehernya panjang-panjang. Kini suku Karen banyak yang mengungsi ke Thailand dan sebagiannya masih berada di Myanmar. Berbeda dari suku lainnya yang mengalah, etnis Rohingya tidak mau ditindas dan akhirnya melawan. Perlawanan inilah yang akhirnya melahirkan Arakan Rohingnya Salvation Army (ARSA). 

Pusaran konflik ini sebenarnya akarnya adalah perebutan sumber daya alam. Entah di Shan Area ataupun Rakhine, kurang lebih sama polanya. Hanya tambangnya saja yang berbeda. Konflik inilah yang membuat tentara faksi membutuhkan persenjataan yang harus disuplai dari luar negeri. Senjata api itulah yang akan dibarter dengan hasil tambang. Maka jika kamu tahu siapa penyuplai senjata ke Myanmar, dengan mudah ketahuan siapa dalang di balik tragedi kemanusiaan di Myanmar, baik terhadap suku Karen ataupun Rohingya. Jangan tertipu dengan pemberitaan yang menggiring ke arah agama. Memang harus diakui ada juga sentimen suku dan agama, tapi faktor utamanya adalah persoalan ekonomi alias hasil tambang.

Harry menutup perbincangan dengan menyisakan beberapa puzzle. Ada beberapa hal yang memang tak bisa ia ceritakan begitu gamblang. Perbincangannya dengan para pengawal dan warga di Shan Area sungguh sangat beresiko dan bisa mengancam nyawanya. Hanya sampai sejauh ini dia bercerita dan ia berharap konflik ini segera terhenti. Tentu kita semua berharap hal yang sama.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya