Semenjak tahun lalu, Indonesia melarang pengecer kecil sampai minimarket untuk menjual bir dan minuman beralkohol jenis lainnya. Dan sejak tahun itu pula, beberapa pihak — khususnya mereka yang berada di DPR — mulai merancang sebuah aturan yang lebih tegas mengenai minuman beralkohol.

Permintaan larangan tersebut diprakarsai para wakil rakyat dari fraksi, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dikutip dari Liputan 6, draf Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Larangan Minol di Bab III Pasal 5 sendiri mempunyai isi yang berbunyi, setiap orang dilarang memproduksi minuman beralkohol (minol) golongan A, B, C, minuman beralkohol tradisional, serta minuman beralkohol campuran dan racikan. Artinya tak ada tempat untuk minuman beralkohol dengan kandungan satu persen sampai 55 persen.

Namun dengan adanya rancangan aturan tersebut, bukan berarti polemik berhenti. Ada kecemasan bahwa pelarangan alkohol sepenuhnya akan mempengaruhi jumlah turis mancanegara. Menurut laporan Kontan, sebanyak 10,41 juta wisatawan mengunjungi negara ini pada 2015.

Praktisi yang bekerja di bidang pariwisata menilai larangan minuman beralkohol cuma bakal jadi batu sandungan untuk dunia pariwisata Indonesia

Peraturan tersebut langsung memicu perdebatan yang meluas di negara yang penduduknya memeluk agama Islam. Salah satunya dari bidang pariwisata. Kita tahu, Indonesia sendiri memiliki potensi pariwisata yang luar biasa dan menjadi magnet tersendiri bagi para wisatawan asing. Dengan datangnya wisatawan mancanegara ke Indonesia, maka devisa negara bertambah.

Advertisement

Salah satu pihak yang mencemaskan aturan tersebut adalah perwakilan Hotel Indonesia dan Restaurant Association (PHRI). Ketua PHRI, Hariyadi Sukamdani, menyatakannya dengan secara serius terhadap keputusan pemerintah akan larangan minuman alkohol secara nasional.

Kepada The Jakarta Post, Hariyadi berkata, Jika RUU tersebut lolos, bisnis kami akan habis. Soalnya, para wisatawan, yang sebagian besar berasal dari Eropa, minum alkohol setiap waktu.”

“Itu akan sangat menyusahkan bagi mereka (turis) kalau nggak bisa menemukan alkohol.”

Hariyadi berpikir bahwa meskipun negara ini punya potensi dengan sejuta keindahannya, tetap saja ketakutan dengan adanya ketentuan soal minuman beralkohol. Ia takut banyak turis yang nggak kepengen ke Indonesia. Pria yang juga anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) ini juga berkata,

“Turis biasa minum bir, nah kalau dilarang, mereka tidak akan datang ke Indonesia. Ini yang harus diwaspadai, kalimat-kalimat larangan yang terkait dengan habit atau kebiasaan wisatawan.”

Menurut Hariyadi, sudah ada negara yang memberi persepsi negatif soal draf aturan tersebut. Salah duanya: Jerman dan Australia

Hariyadi juga mengakui draf aturan tersebut sudah mendapat persepsi negatif di luar negeri. “Harusnya pembatasan, masa orang dilarang sama sekali konsumsi bir, terutama wisatawan. Jerman sudah punya persepsi negatif atas isu RUU Larangan Minol. Mereka bilang nggak usah saja datang ke Indonesia, sudah biasa minum bir malah tidak boleh,” tambahnya.

Selain Jerman, beberapa turis yang rutin mengunjungi Indonesia, khususnya Bali, menunjukan komentar negatifnya terhadap draf aturan tersebut. Kenny Baker asal Australia, misalnya. Baker sudah jadi langganan untuk menikmati Bali selama 22 tahun terakhir, dan mengatakan, jika alkohol dilarang ia nggak akan datang lagi ke Bali.

“Nggak akan ada Bali yang sama tanpa bir. Itu nggak akan sama. Alasan mengapa saya datang ke Bali adalah minum bir sambil menikmati pantai,” kata Baker dikutip News.com.au.

Di sisi lain, sepasang suami istri Sharon dan Phil Shaw menjadikan Bali sebagai destinasi favorit setiap tahun selama lima tahun terakhir. Phil mengaku nggak akan datang kalau alkohol dilarang. Meskipun bukan peminum berat, bersama keluarganya, dia sangat menikmati bersantai dengan adanya minuman di pantai atau ketika makan malam.

“Harusnya yang jadi perhatian itu minuman yang nggak legal.”

Sudah jadi gaya hidup mereka via i.dailymail.co.uk

Seorang juru bicara Association of British Travel Agents (ABTA) menyampaikan pendapatnya kepada Daily Mail. Dia mengatakan, meskipun alkohol bukan alasan utama para pelancong dari Britania Raya untuk berlibur mengunjungi Indonesia, melarang penjualan minuman beralkohol punya potensi dalam membuat beberapa wisatawan urungkan niat kunjungi tujuannya.

“Pulau Bali akan mendapat dampak negative atas pelarangan minuman beralkohol. Sebab Bali sudah kadung terkenal dengan sebutan pulau party bagi anak-anak muda sini. Daripada melarang alkohol, pemerintah Indonesia harusnya fokus untuk menindak penjualan alkohol illegal, yang telah menyebabkan kematian beberapa wisatawan dan penduduk setempat selama bertahun-tahun.”

“Melarang penjualan minuman alkohol punya efek yang nggak diinginkan dan malah bisa membuat masalah jadi lebih buruk.”

Terlepas dari kumpulan argumen yang nggak setuju, setiap orang pasti punya pendapat sendiri megenai larangan minuman alkohol secara nasional. Dan Hipwee pun yakin kalau kamu punya pendapat untuk mengomentari polemik tersebut. Jangan ragu buat nulis pendapatmu di kolom komentar yak~