Kabar duka kembali terdengar dari gunung. Seorang mahasiswa Universitas Bina Nusantara (Binus) bernama Edward (20), meninggal dunia di kawasan Hutan Lindung Gunung Mas, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor pada Selasa 6 Desember 2016. Hipotermia diduga menjadi penyebab dari meninggalnya Edward. Amat disayangkan manakala Alm. Edward bersama 16 rekan pendakiannya, diketahui mengambil jalur pendakian yang ilegal. Selain itu, cuaca buruk pun semakin memperparah pendakian. Berikut ini rangkuman singkat kronologi meninggalnya Edward di Gunung Mas.

Hipotermia menjadi penyebab meninggalnya Edward. Pelajaran bagi para pendaki pemula untuk melakoni persiapan yang matang sebelum pendakian

Proses evakuasi. via newsokezone.com

“Dia meninggal terserang hipotermia. Saat itu di atas gunung cuacanya buruk,” kata Jefri, rekan Mapala Universitas Bina Nusantara Jakarta, Selasa (6/12/2016).

via news.liputan6.com

Edward diduga meninggal karena hipotermia. Adapun ketika ditemukan, mahasiswa Binus tersebut sudah dalam keadaan tak bernyawa dan berada di jalur pendakian yang letaknya sekitar 4 jam dari pos evakuasi. Kejadian ini kembali mengingatkan kita, terutama para pendaki untuk lebih waspada terhadap kemungkinan hipotermia. Pastikan kamu mengenakan pakaian yang cukup tebal untuk melindungi tubuhmu dari suhu udara yang kelewat dingin. Jangan memaksakan diri untuk mendaki jika kondisi tubuhmu kurang fit.

Fakta bahwa Alm. Edward bersama rekannya melalui jalur pendakian yang ilegal, amat disayangkan oleh banyak pihak

Jalur pendakian resmi lebih baik. via nationalgeographic.co.id

Advertisement

“Mereka lewat pos depan, beli tiket juga. Tapi tidak bilang untuk mendaki. Jadi mereka masuk secara ilegal,” ujar Tarya.

Tarya Nuryahya via nationalgeographic.co.id

Mendiang Edward bersama 16 rekannya bermaksud untuk mendaki Gunung Gede melalui jalur Hutan Lindung Gunung Mas. Yang mana kawasan tersebut bukan termasuk jalur pendakian resmi. Walaupun letak Hutan Lindung Gunung Mas tersebut berdekatan dengan Hutan Lindung Gunung Gede Pangrango. Amat disayangkan pula bahwa Edward dengan 16 rekan lainnya tidak berkoordinasi lebih dulu dengan pihak pengelola Gunung Mas. Jadi, pendakian tersebut tergolong ilegal.

Angin kencang dan cuaca buruk kala itu semakin menambah sulit proses pendakian mereka

Cuaca buruk memperparah proses pendakian. via trevelsia.com

Hujan berkabut dan angin kencang semakin memperparah proses pendakian 17 mahasiswa Binus tersebut. Pada akhirnya mereka tidak kuat menahan cuaca dingin di hutan. Salah satu dari 17 pendaki – Edward meninggal karena hipotermia, sementara 16 rekannya yang lain selamat dan dalam kondisi sehat. Ini bisa jadi pelajaran bagi para pendaki lainnya untuk lebih bersiap mengantisipasi cuaca buruk. Jika sekiranya cuaca terlihat tidak bersahabat, baiknya jangan gegabah melakukan pendakian.

Mendiang Edward bersama 16 rekannya, melakukan pendakian dalam rangka kegiatan orientasi kelompok

Mendaki dalam rangka masa orientasi. via alidestaadventure.wordpress.com

Tujuh belas pendaki dari Binus tersebut tengah mengadakan ospek kelompok mereka dari kampus Binus. Sayangnya jalur yang mereka ambil adalah yang ilegal. Seperti yang diketahui jalur menuju Taman Nasional Gunung Pangrango tidak ada yang dari Bogor, melainkan dari Cibodas, Gunung Putri, dan Salabintang (Sukabumi). Nah, ‘kan sekali lagi terjadi kejadian nahas dari jalur ilegal. Kapan perilaku seperti ini berhenti?

Kejadian ini membuat kita belajar untuk lebih menaati peraturan pendakian. Semoga tidak ada lagi kejadian pendakian ilegal

Semoga tak terulang kembali kejadian serupa. via sp.beritasatu.com

Baiknya ketika ingin mendaki lakukan persiapan dengan matang. Sesederhana membawa jaket tebal guna mengantisipasi udara dingin yang berpotensi menyebabkan hipotermia. Yang lebih penting lagi, pastikan melalui jalur pendakian yang resmi dan memberi konfirmasi pada petugas. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Satu hal lagi, seharusnya pihak pelaksana harus mempersiapkan acara dengan melihat kondisi para peserta. Memastikan perlengkapan dan kemampuan mereka untuk melakukan pendakian. Ijin resmi pun harus diajukan sebelumnya, agar pihak Taman Nasional bisa membantu kelancaran acara. Coba bayangkan, aktivitas di jalur tidak resmi selain akan menyulitkan perjalanan (karena tidak ada pos pemberhentian dan penunjuk arah) juga mempersulit Tim SAR untuk melakukan evakuasi. Untuk itu, pendakian ilegal tidak seharusnya dilakukan, sehebat apapun kemampuan mendakimu.

Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita untuk melakukan pendakian dengan jalur resmi saja. Nggak usah lah bergaya lewat jalur yang lain kalau membahayakan keselamatan jiwa. Semoga jadi pelajaran buat kita semua.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya