Siapa yang bisa menyangkal keelokan pantai-pantai yang menghampar di sepanjang garis pantai selatan Gunung Kidul, Yogyakarta? Ombak berkejaran menuju pantai berpasir putih, dikelilingi tebing-tebing karst yang tenang. Benar-benar pemandangan yang memanjakan mata, apalagi ketika kamu menikmatinya sendiri atau bersama orang-orang yang kamu kasihi.

Bagi penggemar wisata pantai, Gunung Kidul memang gak pernah mengecewakan. Walau tentu, tak semua aktivitas bisa kamu lakukan di sini. Misalnya, sulit untuk menemukan spot yang baik untuk snorkeling karena ombak pantai-pantai di Gunung Kidul ini lumayan berbahaya. Pernah suatu kali saya mendatangi pantai Sadranan yang konon punya spot snorkeling oke. Ujung-ujungnya kecewa juga, karena yang disebut “spot snorkeling” itu cuma ada saat air pasang di siang hari — itupun tingginya cuma setinggi paha orang dewasa.

Tapi kali ini, saya gak akan bercerita tentang Pantai Sadranan maupun pantai-pantai lain yang sudah ramai dikunjungi wisatawan. Di antara perbukitan kapur itu, masih banyak pantai-pantai tersembunyi yang harus diakses dengan jalan kaki. Ke sanalah kita akan menuju, menenggelamkan diri dalam keelokan Pantai Sedahan yang masih perawan.

Kita semua punya cara untuk memperingati hari spesial. Saya dan teman-teman merayakannya dengan keindahan pantai Sedahan.

Teaser si perawan / Foto: Wildan Adiguna via www.facebook.com

Memperingati hari jadi komunitas parkour yang saya ikuti, kami sepakat merayakannya dengan suatu kegiatan yang bisa dinikmati bersama: “memerawani”—pastinya bukan ABG, kalau iya tentu tulisan ini gak bakal lolos di meja editor —sebuah pantai di Gunung Kidul bernama Pantai Sedahan. Saya sendiri sebelumnya belum pernah datang ke pantai ini. Mendengar namanya saja baru kali ini.

Advertisement

Trekking dan beach camping di pantai yang masih belum pernah dijamah orang. Menarik,” pikir saya.

Karena niatnya beach camping, kami tak bisa asal berangkat. Butuh waktu beberapa minggu untuk melakukan persiapan, seperti menyewa peralatan camping, sewa alat transportasi, dan membeli logistik. Gak tanggung-tanggung, kami berencana nyepi selama dua malam di sana.

Kami menentukan titik temu dan sepakat untuk berangkat segera dari situ selepas salat Jumat. Namun sayang, karena hujan yang mengguyur Jogja sejak pagi, kami baru bisa lepas landas sekitar pukul 3.30 sore.

Mengingat medan yang tak ramah kendaraan, truk bisa kamu jadikan pilihan untuk pergi ke Sedahan.

Siap meluncur. via www.facebook.com

Dari Yogyakarta, kami memilih gak naik motor, mobil, atau bus. Alasannya jelas: bawa peralatan dan logistik yang seabrek dengan sepeda motor itu cari mati. Maklum, rombongan kami terdiri dari 25 orang, 5 buah galon air, 2 buah kompor gas plus tabung gas elpiji warna hijau yang kayaknya bakal meledak kalau dilempar. Opsi paling murah meriah adalah menyewa sebuah truk; bukan truk pasir yang biasa digunakan mengangkut sapi, melainkan truk militer yang untungnya cukup mengangkut kami semua.

Syahdan, kami pun berangkat dengan sukacita; nyanyi-nyanyi, bercanda, dan sebagainya. Tapi, kegembiraan itu cuma bertahan kurang lebih setengah perjalanan. Aroma solar yang menguar ditambah dengan medan yang berkelok-kelok membuat isi perut kami bergolak. Akhirnya kami memilih diam atau tidur untuk menahan mual.

Pelajaran pertama: jangan meremehkan goyangan truk militer di jalan raya Jogja–Wonosari. Hot banget, lebih hot dari goyangannya Cita Citata. Benar-benar sakitnya tuh di sini. *nunjuk lambung yang kosong karena isinya keluar semua.*

Nyesel rasanya gak minum obat antimabuk dulu. Ini gara-gara saya jumawa karena gak pernah mabuk perjalanan sebelumnya. Gak kebayang gimana kami gantian muntah di kantong plastik yang sama. Yaiks. Mau gimana lagi, darurat sih. Perut yang menolak untuk kompromi memaksa kami meraih kantong apapun yang ada di depan kami.

Kami menepi ke Wediombo di malam hari. Laju kendaraan memang cukup sampai di sini — perjalanan selanjutnya harus dilakukan dengan kaki.

Bobok-bobok cantik. via www.facebook.com

Kenapa kami harus berhenti di pantai Wediombo? karena jalan aspal memang cuma bisa mengantar kami sampai di pantai itu, sisanya mesti ditempuh dengan jalan kaki sejauh 2 kilometer. Dengan wajah yang masih pucat karena efek goyang dumang-nya Cita Citata si truk hijau, kami menurunkan barang bawaan satu per satu. Karena hujan dan udah kemalaman, kami terpaksa untuk bermalam di lahan parkir Wediombo.

Untungnya sih masih ada warung plus toilet yang buka, jadi kami bisa menyelesaikan bermacam urusan di sana. Tapi, warung dan toilet tutup selepas jam 9 malam, jadi mesti melipir ke semak-semak kalau mau buang air. Di Pantai Wediombo harusnya sih ada toilet, tapi malas juga kalau mesti jalan beberapa ratus meter ke pantai cuma buat pipis.

Setelah makan malam yang ala kadarnya, akhirnya hari itu ditutup dengan bobok-bobok cantik di parkiran sepeda motor.

Setelah tidur sekadarnya, kami harus berjuang mendaki bukit lewati lembah dengan bawaan yang naudzubillah banyaknya.

Berasa Hattori: mendaki gunung lewati lembah. via www.facebook.com

Bobok-bobok cantiknya gak berlangsung lama, jam 2 dinihari kami sudah dibangunkan dan bersiap-siap untuk memulai trekking. Pak Sediyanto, warga lokal yang biasa memandu pengunjung ke Pantai Sedahan, sudah menunggu kami. Beliaulah yang akan mengantar kami menyusuri jalur menuju Sedahan.

Dengan mengenakan jas hujan poncho dan headlamp serta rasa pede yang masih setengah, perjalanan kami dimulailah. Hujan kemarin menyisakan gerimis dan jalur tanah lempung berlumpur yang menahan sandal-sandal kami yang gaul.  Biar memudahkan manuver, beberapa melepaskan alas kakinya—yah itung-itung pijat refleksi.

Kemampuan fisik anak parkour yang motonya to be strong to be useful pun diuji di sini. Udah dijelaskan ‘kan kalau kami membawa barang bawaan yang bejibun? Lima buah galon yang isinya masih utuh mesti kami gotong bergantian naik turun bukit. Belum lagi ransel kami masing-masing, tenda, kompor, tabung gas, serta bahan-bahan makanan.

Kok nekat bawa barang segitu banyak?

  • Pertama, kamu jelas gak akan menemukan warung atau sumber air minum di Pantai Sedahan, jadi kalau niat camping kamu wajib menyiapkan logistik sendiri.
  • Kedua, peserta kami banyak, dua puluh lima cowok dan cewek tangguh yang masing-masing porsi makannya kayak kuli.
  • Ketiga, lima galon air minum itu aja masih kurang. Serius. Beruntung hujan menyediakan air yang bisa kami tadah untuk masak dan lain-lain.

Hampir sampai! via www.facebook.com

Total ada sekitar empat jam kami trekking melewati jalur yang gelap, licin, dan naik turun. Pagi sudah mengintip begitu kami akhirnya melihat laut di puncak bukit.

Rasa lelah pun terbayar begitu kaki kami menjejak di pantai.

Pantai Sedahan / Foto: Paulus Risang via instagram.com

Gak pernah saya sesenang ini melihat pantai yang menghampar di depan mata. Bukan cuma karena pantainya keren banget, tapi juga karena akhirnya kami lolos dari uji derita sepanjang perjalanan kami.

Setelah sampai, tepat rasanya untuk langsung membagi-bagi tugas. Ada yang mendirikan tenda, ada yang buat dapur umum, ada juga yang memasak buat sarapan. Beberapa orang terlihat sibuk membersihkan lumpur yang menempel biar kembali cantik dan ganteng. ada pula yang menunaikan salat beralaskan tikar. Kalau saya? Tidur karena kecapekan. Hehehe.

Bedah tenda. via www.facebook.com

Pantai Sedahan ini terletak di Dusun Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul. Panjangnya cuma sekitar 100 meter aja, diapit dua tebing karst di kanan-kirinya. Pantai ini sangat bersih, gak ada sampah; sepertinya, satu-satunya penghasil sampah di sini ya kami ini.

Meski masih alami dan nyempil, pantai ini lumayan tenar kok di kalangan pemancing. Beberapa kali kami berpapasan dengan beberapa pemancing yang lengkap dengan kailnya.

Sebenarnya ada dua jalur untuk mencapai pantai ini. Yang pertama adalah jalur memutar yang kami lewati tadi. Yang kedua bisa kamu tempuh selama kurang lebih satu setengah sampai dua jam. Sayangnya jalur ini semacam jalur aliran air yang sulit dilalui saat sedang hujan. Untungnya kami bisa pulang lewat sini.

Menghabiskan beberapa malam di pantai memang selalu mengasyikkan. Ada banyak yang bisa dilakukan, dari menyulut kayu bakar hingga mengobrol dengan teman-teman.

Menghangatkan diri di perapian via www.facebook.com

Tadinya kami udah berencana bikin acara jelajah sekitar pantai. Tapi, hujan yang terus turun memaksa kami tetap tinggal di tenda siang itu. Yah, ada untungnya juga sih hujan turun, kami gak perlu repot-repot mikirin air bersih. Tinggal tampung aja di galon yang udah kosong, dan voila, persediaan air bersih buat masak dan sikat gigi pun penuh lagi.

Malamnya, kami pesta barbekyu di api unggun, menghabiskan persediaan makanan yang memang agak berlebihan. Kayaknya cuma kami deh yang pulang dari bertualang justru menambah berat badan.

Sarapan ala barak pengungsian via www.facebook.com

Sedikit tips untuk kamu yang pengen datang ke Pantai Sedahan:

  • Kalau kamu belum pernah kemari dan pengen benar-benar menikmati indahnya pantai ini dari berbagai sudut, minta warga lokal atau teman yang mengenal jalur trekking Pantai Sedahan untuk memandu kamu. Saking tersembunyinya pantai ini, ia belum punya penunjuk arah.
  • Datanglah saat musim kemarau. Kalau kamu gak berniat camping dan kehujanan, bisa repot karena gak ada tempat berteduh sama sekali.
  • Bawa makanan dan air secukupnya.
  • Kalau sempat, coba naik ke tebing untuk menemukan pemandangan yang berbeda.
  • Pulangnya, jangan lupa mampir ke Pantai Wediombo. Nanggung tinggal jalan beberapa ratus meter doang.

Foto dulu buat kenang-kenangan. via www.facebook.com

Seusai sarapan dan mengambil foto yang lumayan banyak, kami pun terpaksa mengucapkan selamat tinggal pada Pantai Sedahan. Meski ada agenda yang batal, kami gak kecewa, karena pengalaman menjamah perawannya pantai ini lunas sudah. Tak lupa membawa sampah yang tersisa, kami pun melangkah pulang, kembali dari sunyinya Pantai Sedahan.

Oh iya, kali ini gak lupa minum obat antimabuk, kok.

Signature jump dulu di Pantai Sedahan. via www.facebook.com

Terima kasih banget buat komunitas JUMPalitan yang udah memberikan pengalaman berkesan. Kapan-kapan kita menjamah perawan-perawan lainnya, ya!

Foto-foto: JUMPalitan dan Paulus Risang.

Kredit Feature Image: Paulus Risang.