Entah siapa yang memulai, tapi selfie atau swafoto seolah menjadi ritual wajib untuk mengabadikan momen saat traveling ataupun sekadar berkumpul dengan teman-teman. Demi mengakomodasi hobi masyarakat posmo itu terciptalah teknologi-teknologi selfie mulai dari tongsis, GrinSnap, hingga kamera podo. Ya, selfie memang tidak dilarang, selama tidak merusak atau merugikan diri sendiri.

Sayangnya masih banyak pecandu selfie yang kurang punya kesadaran diri. Lupa bahwa mengambil foto diri sendiri harus memperhatikan banyak hal. Selfie yang niat awalnya untuk mengambil foto demi mengabadikan kenangan, justru merusak tempat-tempat wisata yang harusnya dijaga. Hal yang seharusnya mengabadikan momen bahagia, justru berakhir petaka.

Dear traveler, selfie adalah hak. Tapi harus tetap hati-hati dan bijak dalam bertindak ya.

1. Rusaknya patung dari abad pertengahan itu berbuah larangan selfie bagi pengunjung. Mungkin itu aturan paling bijak untuk menghadapi pengunjung yang kurang bijak

Patung St. Michael yang sudah rusak via www.dailymail.co.uk

National Museum of Ancient Art baru-baru ini mempertimbangkan larangan untuk selfie bagi pengunjungnya. Larangan ini bukan tanpa alasan, karena sebelumnya seorang pengunjung menabrak dan menjatuhkan patung St Michael, sebuah patung peninggalan dari abad ke-18Seorang pengunjung dari Brazil berusaha mengambil selfie sambil berjalan mundur, akhirnya menabrak patung St. Michael hingga jatuh ke lantai dan pecah menjadi beberapa bagian yang tidak bisa diperbaiki lagi.

Advertisement

Berita ini menjadi viral setelah salah seorang pengunjung memposting foto patung yang sudah rusak ke akun facebook-nya. Sebelumnya di bulan Mei, seorang turis juga menjatuhkan patung di Stasiun Kereta Rossio saat mengambil selfie. Gara-gara ini, pemerintah mulai mempertimbangkan untuk melarang selfie. Ngomong-ngomong, di beberapa museum lain seperti Museum Van Gogh Belanda, hal ini sudah dilarang lho. Yah, mungkin itu cara terbaik yang bisa diambil, sampai kita bisa cukup dewasa untuk jadi traveler anti alay.

2. Di Indonesia, selfie yang merusak bukan hal baru lagi. Taman Bunga Amarillys di Jogja adalah salah satu korban selfie-selfie tak bertanggung jawab

Duh, rasanya pengin ngejitak 🙁 via www.dailymotion.com

Seperti di Portugal, di Indonesia beberapa kali terjadi aksi selfie yang merusak lingkungan. Yang paling membuat publik geram tentu peristiwa rusaknya Taman Bunga Amarillys di Jogja, gara-gara ulah pengunjung yang alay dan tidak bertanggung jawab. Pak Sukardi, pemilik taman bunga jelas murung saat melihat taman bunganya yang digadang-gadang seperti taman bunga di Eropa, rusak seketika setelah sekelompok orang datang dan asyik foto-foto di sana. Berawal dari seorang pengunjung yang membagi keindahan taman bunga di media sosial, yang membuat ribuan orang lainnya datang. Mereka sibuk berfoto dan mencari angle yang eksotis, dan malah menginjak-injak tanaman. Duh, kalau ujungnya begini, lebih baik kalau ketemu tempat indah, jangan bilang siapa-siapa deh.

3. Taman bunga di Baturaden jadi korban selanjutnya. Larangan menginjak bunga diabaikan demi satu-dua pose yang cantik untuk instagram

“Dilarang menginjak tanaman” via news.detik.com

Seminggu setelah kejadian taman bunga Amaryllis, di kebun raya Baturaden, Banyumas, hal yang sama juga terjadi. Membludaknya pengunjung di masa liburan yang mencapai 2000 orang perhari, membuat  taman bunga acak-acakan. Gabungan antara lokasi yang tidak mampu menampung pengunjung yang membludak dan ditambah dengan sikap mereka yang kurang bertanggung jawab membuat tanaman terinjak-injak. Meski berkali-kali petugas sudah mengingatkan untuk tidak menerobos pagar dan menginjak tanaman, masih saja ada pengunjung yang melanggar demi sebuah foto yang mengagumkan. Ironisnya, ada papan larangan menginjak tanaman yang ikut roboh. Duh, bisa terbayang dong bagaimana rusuhnya pengunjung? Dan di dunia maya, seperti biasa, netizen saling menyalahkan.

4. Sebuah jembatan gantung di Aceh roboh karena tak mampu menahan beban. Semua wisatawan berebut selfie tanpa mempedulikan keamanan

Jembatan ambruk karena kebanyakan yang selfie via alfido.com

Kisah selfie di Hutan Bale Jurong, Aceh, ini berujung bahaya. Hutan kota yang punya sungai buatan itu memang memiliki sebuah jembatan gantung yang cantik dan sip banget dijadikan lokasi selfie. Tapi hari itu, pengunjung yang datang membludak, dan semuanya berebut ingin foto di jembatan yang sama. Padahal pada jembatan sudah disematkan peringatan bahwa batas maksimal jembatan hanya bisa dinaiki 40 orang. Tapi yang berebut foto ratusan! Tak heran bila akhirnya tali jembatan putus dan jembatan roboh ke danau. Ratusan orang yang sedang ber-selfie ria ikut tercebur ke sana. Meskipun danau buatan, tapi kedalaman danau sampai 3,5 meter lho. Untungnya tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Ada yang menyalahkan petugas yang tidak ada di tempat untuk memberikan peringatan. Hmm, namanya juga Indonesia ya. Apalah artinya papan peringatan. Ah bisa dilanggar.

5. Ada juga yang berujung petaka. Serombongan yang remaja selfie di pelintasan kereta, harus rela kehilangan satu temannya karena lupa memperhatikan sekitarnya

perlintasan kereta api via www.penting.id

Kisah sedih ini berasal dari kota Madiun, sekitar awal tahun 2015 silam. Seorang remaja bernama Tommy Lucky Saputra tewas setelah tersambar kereta di sebuah perlintasan kereta. Tadinya bersama teman-temannya yang berjumlah lima orang tengah asyik selfie, dan tidak melihat kereta datang dari arah belakang. Empat orang selamat, dan satu orang tidak sempat menyingkir sehingga tertabrak kereta dan tewas ditempat. Yang lebih membuat miris, setelah kejadian beredar foto terakhir yang diambil Tommy dan teman-temannya, yang sekaligus merekam kedatangan kereta yang melaju di arah belakang. Meskipun soal kematian adalah rahasia Tuhan, namun seandainya saja mereka lebih cermat memilih lokasi selfie, mungkin kejadian ini tidak perlu terjadi.

6. Di Merapi, seorang pemuda terpeleset ke kawah saat mencari angle yang wah. Bukan maksud menyalahkan, namun kalau sudah begini apa selfie punya faedah?

Foto terakhir Eri sebelum terpeleset via www.instagram.com

Tidak kalah tragis dengan kisah Tommy, kisah duka juga datang dari Gunung Merapi. Eri Yunanto, mahasiswa Universitas Atmajaya tewas setelah terjatuh ke kawah Merapi. Menurut Dicky, rekan Eri yang ke puncak bersamanya, sejak awal Eri memang terobsesi untuk menaklukkan dan berfoto di Puncak Garuda yang terkenal ekstrem tersebut. Eri sempat duduk dan berfoto-foto di puncak Garuda, sementara Dicky hanya menunggu di bawah. Diduga, saat hendak turun batu pijakannya runtuh sehingga Eri Yunanto terpeleset dan jatuh ke kawah. Puluhan relawan dan TIM SAR serta berjam-jam usaha, akhirnya Eri ditemukan di kedalaman 200 meter kawah merapi dalam kondisi tewas. Kematian Eri menjadi pelajaran sekaligus pengingat bagi kita semua bahwa alam bisa jadi teman dan membahayakan. Mengabadikan keindahannya boleh-boleh saja, tapi tentu tak perlu membahayakan diri hanya untuk mendapatkan angle foto yang cantik.

7. Entah apa yang mereka pikirkan. Mungkin lupa bahwa traveling adalah untuk menikmati dan menghargai keindahan, bukan merusaknya atau menantang bahaya

lupa keselamatan demi foto yang mengguncang via www.youtube.com

Kasus-kasus di atas hanya sebagian saja dari selfie yang merusak ataupun yang berujung petaka. Masih banyak kasus-kasus lainnya yang tidak kalah tragis dan miris. Traveling memang dimaksudkan untuk mengunjungi dunia di luar kota sendiri, menikmati keindahan semesta yang kaya, dan mengabadikan hal-hal yang tidak kita alami sehari-hari. Menyimpan keindahannya dalam bentuk foto di kamera sah-sah saja, namun bila akhirnya justru membahayakan jiwa sendiri, lalu untuk apa? Apakah keindahan di foto jauh lebih penting dari keindahan yang sebenarnya sehingga boleh saja merusak taman bunga yang penting keindahannya sudah terekam kamera?

8. Hanya demi terlihat keren di media sosial, banyak hal yang dikorbankan. Padahal selain ‘like‘ dan ‘love‘, apa lagi yang kamu dapatkan?

Imbalannya hanya ‘like’ dan ‘love’ di media sosial via www.japantimes.co.jp

Punya koleksi foto-foto yang bagus memang memberi keuntungan sendiri. Selain bisa menyimpan memori yang menyenangkan, foto-foto yang indah juga akan mengundang decak kagum orang-orang. Bila rajin membagikannya di media sosial mungkin akan membuatmu menjadi selebgram. Dan untuk itu, banyak hal yang dikorbankan. Merusak lokasi wisata, menghancurkan apa yang seharusnya dilestarikan, hingga membahayakan nyawa sendiri hanya sekadar demi ‘like‘ dan ‘love‘ yang kalau dipikir-pikir lagi, memang apa fungsinya?

Sebuah foto memang bisa menyimpan memori. Namun apalah arti foto bagus bila di balik foto itu, ada yang rusak ataupun kehilangan? Mungkin ada baiknya kita kembali ke era foto studio saja. Lokasi foto aman, dan tak rentan gengsi atau kecewa hanya karena yang kasih jempol sedikit.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya