Baru-baru ini, ada protes anak muda tentang kerusakan jalan di Lampung Timur yang viral di media sosial. Mereka membuat sindiran dalam ‘Wisata Jeglongan 1000’ alias wisata di lubang-lubang berisi genangan air di jalan raya. Sindiran sarkas tersebut ramai di media sosial dan akhirnya pemerintah langsung turun tangan memerbaiki jalan. Luar biasa bukan?

Masih ada yang lebih luar biasa dibanding gerakan anak muda tadi. Jika di Lampung anak muda membuat kampanye atau gerakan sosial, sementara di Sragen, ada orang tua yang langsung menjadi solusi. Namanya Mbah Sadiyo, alih-alih protes, ia mencoba jadi solusi dengan menambal jalan berlubang di Sragen. Mbah, kami malu Mbah 🙁

Mbah Sadiyo, warga Sragen yang sudah lanjut usia ini rela menambal jalan berlubang di Sragen selama 5 tahun sejak 2012! Luar biasa Mbah Sadiyo ini…

mbah sadiyo via regional.kompas.com

Mbah Sadiyo yang bernama lengkap Sadiyo Cipto Wiyono tinggal di Gondang, Sragen. Kakek berusia 65 tahun ini punya aktivitas yang begitu menggetarkan hati. Mbah Sadiyo menambal jalan berlubang di Sragen selama 2012 sampai sekarang, sekitar 5 tahun. Beliau menambal jalan dengan uang dan tenaganya sendiri. Mbah Sadiyo tidak ingin orang lain celaka di jalan raya hanya karena jalan berlubang. Mulia sekali Mbah…

Pada awalnya, Mbah Sadiyo mengalami kecelakaan karena sempat terjatuh gara-gara ada jalan berlubang. Mulai saat itu Mbah Sadiyo bertekad untuk menambal jalan berlubang yang ia temui…

pemulung baik hati via images.solopos.com

Advertisement

Mbah Sadiyo sehari-harinya bekerja sebagai pemulung. Alasan mengapa beliau menambal jalan adalah karena pada tahun 2012 becak beliau sempat mengalami kecelakaan gara-gara nyemplung di jalanan berlubang. Mulai saat itu Mbah Sadiyo menambal jalan dengan material yang beliau miliki dan juga uangnya sendiri. Kadang juga dapat sumbangan dari orang yang sedang bangun rumah.

“Awalnya dulu pas berangkat memulung, becaknya masuk lobang yang cukup dalam. Ban saya rusak dan terpaksa diperbaiki. Setelah bisa pulang, saya teringat masih memiliki persedian pasir dan ada sedikit rezeki buat beli semen. Saya bawa semen dan pasir dan menambal lobang itu, tapi ternyata tidak hanya satu, ada kurang lebih tujuh atau delapan yang saat itu saya tambal,” kata Mbah Sadiyo, Senin (28/2/2017) dilansir dari Kompas.

Penghasilannya dari memulung hanya 100 ribu per minggu. Sebagian penghasilan yang sudah minim itu beliau gunakan untuk menambal jalan. Agar tidak aja pengendara yang masuk lubang. Malu rasanya dengan Mbah Sadiyo…

mbah sadiyo via faktualnews.co

Dari usahanya menjual barang bekas, Mbah Sadiyo mendapat penghasilan ‘hanya’ 100 ribu seminggu. Kadang-kadang bisa mendapat 150 ribu. Ya sebesar uang jajan mahasiswa dalam satu hari ‘kan? Dari uang sekecil itu, Mbah Sadiyo menyisihkan sebagiannya untuk membeli material. Awalnya orang tak peduli dengan aktivitas Mbah Sadiyo. Namun kelamaan ada yang membantunya dengan memberi makanan maupun uang, yang akhirnya dibelikan semen oleh Mbah Sadiyo.

Selain itu, Mbah Sadiyo yang tinggal bersama istrinya, Tumirah, juga menghidupi cucunya yang kini telah yatim setelah kedua orang tuanya meninggal karena sakit. Mbah Sadiyo juga kadang menyediakan bensin premium di becaknya jika ada yang kehabisan bensin. Pernah ada satu ibu dan bayinya kehabisan bensin, dan Mbah Sadiyo memberikan bensin yang telah disiapkan. Sisi kemanusian Mbah Sadiyo memang patut kita contoh bersama. Teladan!

Entah mengapa, sedari 2012 sampai 2017, pemerintah baru bergerak sekarang. Apa karena viral di media sosial? Apa memang pemerintah baru akan bergerak setelah viral? Kenapa sejak dahulu merespon jalanan berlubang yang memang ada anggarannya?

warga bergerak via news.detik.com

Pemerintah daerah lewat Bupati Sragen mengapresiasi sikap Mbah Sadiyo setelah kisah ini viral di media sosial. Bupati Yuni pun menginstruksikan untuk sama-sama memperbaiki jalan pada hari ini, Jumat (3/3/2017) sepanjang 1,5 km di Sidoharjo. Ratusan warga bergerak untuk melakukan tambal jalan ini. Lihat betapa Mbah Sadiyo, tanpa sedikitpun protes, namun mampu menggerakkan masyarakat. Sejatinya bukan Bupati yang membuat warga tergerak, namun Mbah Sadiyo!

Semoga kelak kisah heroik Mbah Sadiyo bisa menginspirasi kita semua agar rela berkorban untuk kepentingan orang banyak. Meskipun tak ada yang apresiasi dan banyak yang tak peduli selama 5 tahun ini. Semoga jalanan kembali mulus. Tak perlu ada Mbah Sadiyo dulu ‘kan baru ada perbaikan jalan?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya