Artikel ini dipersembahkan oleh Traveloka. Aplikasi traveling yang memudahkan dan memberi harga termurah dalam upayamu merencanakan perjalanan.

Cinta kita tumbuh di tempat-tempat biasa. Hiruk pikuk mall setiap akhir pekan dan dinginnya AC bioskop yang menusuk badan tak pernah jadi kebiasaan. Bisingnya peron kereta api, sepatu yang berat karena tersisipi pasir di sol kaki, hingga kesibukan packing di basecamp awal pendakian lebih sering kita akrabi.

Sekian lama mengenalmu, kegiatan traveling dan mendaki adalah harga mati yang tak bisa diganggu gugat lagi. Jujur, sesekali aku cemburu pada mereka yang mudah mengajak prianya kencan ke tempat baru setiap waktu. Atau pada gadis yang teras rumahnya selalu dikunjungi saban Malam Minggu. Tapi aku tak pernah keberatan soal hal-hal remeh macam itu.

Sebab, anehnya, masa depan terasa lebih nyaman dijalani bersamamu

Di sisimu aku belajar tentang sebenar-benarnya kompromi. Panggilan dari Puncak Tertinggi dan berbagai destinasi membuatku harus rela tak dikunjungi

Puncak-puncak tertinggi harus membuatku ikhlas tak dikunjungi via tumblr.com

Kamu memang berbeda. Saat pria lain berlomba-lomba menunjukkan perhatian lewat kedatangan yang tak ada hentinya, bagimu batasan justru bisa dihargai sedemikian rupa. Setiap akhir pekan tiba, batang hidungmu jarang kutemui muncul di depan pintu. Ada puncak gunung atau tempat baru yang lebih menarik perhatianmu.

Pada awalnya tidak mudah buatku menerima sifat acuhmu. Tak cuma sekali aku bertanya, “Bukankah dulu aku adalah wanita yang ia kejar sedemikian rupa? Kenapa sekarang aku justru diacuhkan tanpa banyak kata?” Untuk urusan fokus pencapaian pribadi kamu memang tak perlu diragukan lagi. Kalau sudah ingin melakukan sesuatu tak ada yang bisa menahanmu bertahan di sisi.

Bersamamu, aku mengenal sebaik-baik kompromi. Tak semua keinginanku harus dipenuhi. Di sisimu, akhir pekan berarti melepasmu membolang atau naik gunung bersama teman-teman. Mengikhlaskan waktu kencan demi membiarkanmu mengunjungi tempat-tempat yang membuatmu berkembang.

Kau selalu bilang tempat-tempat fancy bisa menunggu nanti. Semasa muda, gunung dan berbagai destinasi lebih layak untuk dikunjungi

Sebagai wanita, jelas sekali-dua kali aku merengek manja. Kamu perlu tahu– tak enak rasanya menghabiskan malam sendirian, sementara teman-teman lainnya punya bahu untuk bersandar dan tangan yang bisa digenggam.

Mendengar keluhan randomku, kau lebih sering mengusap kepala sembari berkata tegas:

“Mall, bioskop, dan semua kafe unyu tidak akan ke mana-mana. Tapi kita tidak punya waktu selamanya untuk menyambangi tempat-tempat terindah di dunia.”

Kau pun lihai memainkan peran. Mengerti gadismu ini masih sering ingin keriaan ala anak urban, pelan-pelan kau geser sedikit demi sedikit permainan. Awalnya masih kau ikuti keinginanku ke bioskop atau jalan-jalan ke mall tanpa tujuan. Tapi pekan selanjtnya kau ajak aku memanjat gunung purba, lalu naik ke landas pacu demi bisa lekat memandang senja.

Lama-lama, aku mulai mengerti apa yang kau maksud selama ini. Sorot lampu pusat perbelanjaan dan film terbaru berating box office tak ada yang bisa menggantikan ini. Perasaan kerdil, rasa ingin berjuang, gelegak segar dalam diri setiap perjalanan membuat kita melangkahkan kaki.

Tak seperti pria kebanyakan yang kembali kekanakan, semua hal kau persiapkan matang. Di sisimu aku tak hanya merasa genap — tapi juga tenang

Kawan-kawanku sesama wanita yang sudah berpasangan selalu bilang:

Boys will always be boys. They just changing their toys.”

Untuk urusan ini aku sempat sepakat. Dengan mata kepala sendiri kulihat bagaimana teman-teman priaku tetap suka main game sampai pagi menjelang, nongkrong tanpa tujuan demi rasa senang, atau mengumpulkan mainan action figures yang rumit dan sulit dipasang.

Sempat kukira hal yang sama juga akan terjadi padamu, pada kita. Tapi ternyata kau memang jauh dari kata seragam dan serupa. Waktu pria lain seumuranmu sibuk modif mobil dan motor, kau lebih sering memelototi promo tiket murah lama-lama. Mencari harga penerbangan terendah yang bisa membawamu sampai ke Tambora.

Aplikasi Traveloka lebih sering kau buka dibanding Instagram dan Path yang berisi humble brag di mana-mana. Matamu lebih sering berbinar ketika waktu promo tiba, seperti saat Traveloka menawarkan Promo Appsolutely-nya.

“Sayang, aku dapat tiket murah ke Ambon nih. Promo Appsolutely Traveloka emang asyik ya? Cuma pesan tiket lewat Aplikasi Traveloka harganya jauh lebih miring dari pesan di web maskapainya. Berangkat yuk 3 bulan lagi. Masih bisa nabung ‘kan?”

Mendapati diri bisa selangkah lebih dekat ke destinasi impian, tercetak senyum bahagia di wajah seperti saat tim bola andalan menang di laga pertandingan.

Setelah tiket di tangan, kau pun akan mempersiapkan sungguh-sungguh etape perjalanan. Jika naik gunung dan traveling itu ibadah, kau adalah hamba khusyuk yang selalu datang pertama di barisan depan. Menghitung bujet, mempersiapkan barang bawaan, sampai melatih fisik agar tak ngos-ngosan.

Sifatmu yang satu ini membuatku merasa tenang. Jika perjalanan saja kau siapkan, kuyakin kau pun bisa segigih itu mempersiapkan masa depan.

Kau jelas bukan pecundang yang mudah menyerah pada keadaan. Kegigihanmu berjalan tercermin dalam berbagai pilihan


Bahu, hati, dan tubuhmu sudah hapal di luar kepala bagaimana rasanya digembleng di luar batasan. Sudah pernah kau alami rasanya menahan keinginan makan enak sebulan penuh, saat harus berhemat demi tiket murah di promo Appsolutely Traveloka yang bisa mengantarmu melihat bunga Sakura di Fukuoka.

Di lain kesempatan kau juga pernah dipaksa mengalahkan diri sendiri. Waktu kaki dan betismu dihajar tanjakan berpasir Mahameru yang membuatmu hampir merasa tak sanggup lagi. Di setiap ceritamu kau selalu bilang, di alam manusia cuma punya 2 pilihan: menyelamatkan diri sendiri atau memilih menunggu diselamatkan tim SAR.

Kau memilih berjuang sampai titik darah penghabisan. Pendakian ke Gunung Slamet yang penuh petir dan hujan deras sempat membuatmu hampir hipotermia, tapi kau tetap berjalan demi menyelamatkan nyawa. Di Cina kau pun sempat dibodohi supir taksi yang ingin menggetok tarif seenaknya — dengan bahasa isyarat kau ajukan upaya diplomasi, sebab kehilangan beberapa ribu Yuan berarti harus makin mengirit makan.

Kau jelas jauh dari kata pecundang. Bagimu, hidup yang berarti adalah hidup yang diperjuangkan. Di situ, sebagai pendampingmu diam-diam senyumku mengembang.

Walau tidak sering kau temani, gadismu berjanji tak akan mudah mengeluh lagi. Sebab di sisimu, masa depan terasa lebih yakin kujalani

Biar. Cinta ini memang tidak tumbuh di tempat-tempat yang menurut orang lain istimewa. Sebab apa yang menyilaukan mata dari emperan all night karaoke di Jepang tempat kita memilih menginap murah? Tidak ada pula yang bisa dibanggakan dari dua pasang sepatu penuh lumpur, hasil menjelajah Ungaran dan Lawu hampir setiap minggu.

Tapi justru cinta yang tumbuh di tempat sederhana ini yang kuyakini akan bertahan lama. Untunglah, kau tak memanjakanku dengan selalu makan di tempat baru, atau menonton premiere setiap film box office tayang perdana. Bersamamu keriaan ala anak muda memang jarang kurasa, namun bersamamu pula kau dampingi aku berkembang sebagai manusia.

Lewat candaan idealis di atas dudukan keras kapal Pelni, atau dalam perbincangan kasual kita demi menghalau lelah saat mendaki, kutemukan satu hal yang pasti. Di sisimu hidup tidak akan serta merta ringan dijalani. Tapi kau punya daya juang yang mampu membuat kata menyerah pergi.

Kau adalah pria keras kepala yang belum akan berhenti sampai impian tergenapi. Kau juga orang yang selalu percaya, bahwa kekuatan diri selalu muncul dari apa yang otak yakini — bukan sekadar fisik yang mumpuni.

Anak-anak kita akan mewarisi keyakinan yang sama seperti Bapaknya. Merek akan tumbuh jadi pejuang-pejuang gigih yang rajin mencumbui tiap jengkal Indonesia. Pun tak takut berkelana ke luar negeri saat kesempatan itu tiba.

Jelas kau jauh dari kata sempurna. Namun di sisimu aku bisa percaya.