Mengindahkan saran Bung Karno, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang nggak pernah melupakan sejarahnya, ternyata ada benarnya juga loh. Kita nggak mungkin bisa seperti saat ini, kalau kita nggak pernah tahu dan menghargai masa lalu kita. Dengan begitu, kita bisa tahu seperti apa jati diri bangsa kita ini. Nah, kalau begitu, coba ucapkan terima kasih pada mantan yang telah mewarnai masa lalumu, ya! Nggak perlu balikan, cukup ucapkan terima kasih karena telah menyempurnakan kenangan.

Berbicara soal sejarah, kenangan, masa lalu, dan yang berkaitan dengan travel, kali ini Hipwee Travel akan ajak kamu untuk menapaktilasi masa lalu kota Pahlawan, Surabaya.

Penampakan Jalanan Tunjungan 1930. Masih nyaman buat jalan kaki, tanpa polusi yang mengganggu.

Tunjungan 1930. via www.facebook.com

Nah, kalau yang ini tahun 1950.

Jalan Tunjungan selepas masa Revolusi Perang Kemerdekaan awal 1950. via www.facebook.com

Advertisement

Bagaimana ya, rasanya jalan di jalan Tunjungan tanpa kemacetan seperti sekarang ini?

Hotel Yamato dan kisah heroik Arek Suroboyo dalam perobekan Belanda atas gagalnya perundingan Jendral Sudirman dan W. V. Ch. Ploegman.

Hotel yang sering berubah nama. via boombastis.com

Oranje Hotel, hotel yang dibangun pada tahun 1910 dan direnovasi pada 1936 ini memiliki nilai sejarah yang nggak bisa dilupakan begitu saja. Ya, hotel yang pernah memiliki nama Hotel Yamato ini merupakan tempat di mana Arek Suroboyo merobek warna biru pada bendera Belanda menjadi Merah Putih, bendera Indonesia. Hal ini semula berawal dari kegagalan perundingan antara Jendral Sudirman dengan W. V. Ch. Ploegman. Akibatnya, para pemuda Surabaya yang berada di depan hotel masuk ke dalam dan terjadilah pertempuran kecil, hingga akhirnya terkereklah bendera Merah Putih di atas hotel ini.

Mungkin kalau kamu cari hotel ini di Surabaya, sampai kamu menemukan jodohmu sekalipun, kamu nggak bakal bisa menemukan hotel ini! Ya, karena hotel ini telah berkali-kali berganti nama. Oranje Hotel, Hotel Yamato, LMS, Hotel Hoteru, hingga Hotel Majapahit. Nama terakhirlah yang sampai sekarang masih berdiri kokoh di Surabaya.

Penampakan Jembatan Merah tahun 1920-an, saksi pertempuran Arek Suroboyo melawan pasukan Mallaby. Darah itu merah, Jendral!

Jembatan Merah tahun 1900, masih adem tentrem, yo, Ker? via www.facebook.com

Siapa yang nggak tahu Jembatan Merah Surabaya? Jembatan yang menjadi inspirasi lagu Sang Maestro Gesang dalam lagunya, dan jembatan yang menjadi saksi bisu kematian Jendral Mallaby ini jelas bukan jembatan biasa.

Lalu lintas Jembatan Merah tahun 1950. via www.facebook.com

Kisah bermula dari perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato. Setelah kejadian itu, terjadilah pertempuran-pertempuran kecil antara rakyat Surabaya dengan pasukan AFNEI yang berujung pada kematian Brigadir Jendral Mallaby di dekat Jembatan Merah. Dari sinilah pertempuran 10 November dimulai. Tragedi dan perjuangan terbesar yang nggak akan pernah dilupakan masyarakat Indonesia, Surabaya khususnya.

Kampus kedokteran yang dibangun khusus untuk pribumi (1913). Cikal bakal kampus Kedokteran Unair.

Kampus Kedokteran Unair 1920-1925 via www.facebook.com

Dibangun pada 1913, gedung ini merupakan sekolah pendidikan kedokteran yang diperuntukan bagi penduduk pribumi. Sampai saat ini, gedung yang beralamat di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo ini menjadi bagian dari kampus kedokteran Unair.

Penampakan Gedung Pemuda tahun 1950. Ada yang beda?

Ada yang beda nggak? via www.facebook.com

Penampakan Gedung Pemuda tahun 1950, setelah berhasil direbut dari tangan Belanda. Awalnya, gedung ini milik sebuah komunitas atau perkumpulan orang-orang Belanda yang menamai diri sebagai ‘De Simpangsche Societeit’ untuk sekadar pesta.

Foto Masjid Ampel dari Perkampungan Arab, 1927. Sekarang kayak apa bentuknya, Guys?

Terlihat menara Masjid Ampel. via www.facebook.com

Foto ini diambil dari ujung jalan di perkampungan Arab di Surabaya 1927. Sekarang seperti apa?

Perebutan Gedung Stokvis yang menginspirasi bagi masyarakat Surabaya. Perempuran pada 12 September 1945 yang nggak terlupakan. (1915)

Sekarang jadi kantor bank. via www.facebook.com

Gedung ini dibangun pada tahun 1911. Awalnya, gedung ini adalah kantor Lindeteves Stokvis yang diarsiteki oleh Hulswit, Fermont & ED. N. V. Lindeteves Stokvis merupakan salah satu perusahaan raksasa Belanda yang menguasai jaringan niaga, produksi, jasa, industri berat, baja, dan sebagainya yang telah terdistribusi ke sejumlah negara. Namun ketika pada tahun 1942-1945, Jepang merebut gedung ini dari tangan Belanda, dan menamai gedung ini sebagai Kitahama Butai. Oleh Jepang, gedung ini dijadikan sebagai ‘bengkel’ mesin perang yang memproduksi peralatan tempur. Barulah kemudian pada 12 September 1945, Arek-arek Suroboyo berhasil merebut gedung ini dan berhasil menguasai beberapa alat tempur milik Jepang. Salute!

Gereja Santa Maria, cuma papan iklan yang membedakan. Hemm.

Gereja Santa Maria. via www.facebook.com

Sekilas memang nggak ada yang berbeda dari foto gereja di atas. Gereja yang terletak di Regen Straat (1940) dan di jalan Kepanjen, pada tahun 2014.

Ada yang tahu di mana Alun-alun Contong ini?

Pernah lihat ada alun-alun ini di Surabaya? Tua. via www.facebook.com

Sepertinya nggak ada yang tahu tentang alun-alun ini deh. Ya, karena alun-alun ini memang udah nggak ada. Sekarang lokasi ini dipakai sebagai tempat pertokoan. Makanya, sampai kapan juga kamu nggak akan bisa nemu Alun-alun Contong ini. Kecuali di masa lalu.

Nah, itu dulu rekam jejak Kota Surabaya di masa lalu yang tentu memberimu inspirasi. Mencintai sejarah, berarti mencintai masa depan yang cerah. Karena itu, belajarlah dari sejarah!