Sejak Januari 2013 hingga Februari 2016, tercatat sudah ada 52 kematian yang terjadi di atas gunung di seluruh Indonesia. Lebih dari setengahnya bahkan tergolong dalam usia yang masih sangat produktif. Berita duka yang menyeret 52 pendaki ini disinyalir disebabkan oleh kelalaian para pendaki itu sendiri dan beberapa teman yang kurang responsif terhadap temannya.

Minggu ini, berita duka datang lagi dari Gunung Merbabu. Seorang pemuda bernama Oky Kumara Putra (17), telah meregang nyawa di Gunung Merbabu, Minggu (7/2). Siswa asal Mustokoweni, Plombokan, Semarang, yang masih duduk di bangku SMK kelas 2 ini menjadi kemelut duka para pendaki di awal tahun ini.

Kalau diperhatikan, ada dua faktor utama yang bisa menyebabkan kecelakaan atau kematian di gunung: faktor human error serta faktor alam.

Kita memang tak pernah tahu kapan ajal akan menyambut. Tapi, ketika kamu tak memiliki kesiapan yang matang dalam pendakian, bisa saja ajal bisa menemuimu ketika mendaki. Bukan maksud untuk menggurui, tetapi ada baiknya mari introspeksi diri. Apakah kamu termasuk pendaki yang masih sayang pada keselamatan diri sendiri atau pendaki yang hanya bermodal nekat dan berani. Semoga dengan ulasan ini, rentetan catatan duka di gunung hanyalah sebuah masa lalu yang semoga tak akan terulang di kemudian hari.

Kurangnya pengetahuanmu soal keadaan gunung. Hal yang mendasar aja kamu belum tahu, udah asal naik aja!

Pelajari keadaan gunungnya dulu, Guys! via albinger.me

Advertisement

Kesalahan mendasar dalam pendakian adalah ketika kamu nggak tahu sama sekali soal track gunung yang akan kamu daki. Dengan bermodal ‘insting’, kamu ajak teman-temanmu mendaki gunung, yang sama-sama memiliki jiwa petualang. Duh, Dek! Nggak sedikit loh, kasus seperti ini menghiasi headline koran-koran nasional atau bahkan mancanegara. Kabar tentang pendaki yang ditemukan tak bernyawa di gunung kini cukup marak.

Kabar duka terakhir yang tersiar di dalam negeri adalah pendaki asal Semarang, Oky Kumara Putra, yang mengembuskan napas terakhirnya di Gunung Merbabu. Disarikan dari Koran Sindo, Rafika Putri Kumala Sari, kakak Oky menyatakan bahwa ini merupakan pendakian pertamanya. Dan ketika pengevakuasian jasad, Oky berada di dalam tenda bersama orang lain, bukan rombongan pendakiannya. Ada kemungkinan dia berpisah dengan teman-temannya di perjalanan.

Keterbatasan pengetahuan dan informasi seputar gunung yang kamu daki bisa menjadi malapetaka buatmu. Pelajari dengan cermat dan tepat gunung yang akan kamu daki. Sesungguhnya persiapan adalah modal utama sebelum kita turun ‘perang’.

Buruknya manajemen P3K, logistik, dan kurangnya persiapan pendakian. Soal perut dan kesehatan pendaki di gunung itu penting

Barang penting nih! via www.instructables.com

Selain pengetahuan tentang keadaan gunung yang akan kamu daki, manajemen P3K dan logistik juga merupakan hal fatal yang nggak jarang diabaikan oleh para pendaki pemula. Meski kamu kuat buat nahan perut lapar dan udara dingin, rupanya gunung nggak akan memaafkan siapapun yang meremehkan kesehatan. Alam bisa membuat siapapun bertekuk lutut di dalamnya. Makanya, susun P3K dan logistik yang betul. Jangan sesekali ngawur deh kalau naik gunung.

Masih pada kasus yang sama. Oky yang mungkin terpisah dari rombongannya, hanya membawa beberapa perlengkapan yang sangat tidak memadai sebagai pendaki gunung. Menurut kakaknya, Fika, perlengkapan yang dibawa Oky memang hanya sedikit. Setahunya, anak kedua dari empat bersaudara ini hanya membawa satu celana pendek, satu celana panjang, kaos oblong, jaket, dan sarung tangan, yang ia masukkan ke dalam carrier, serta tak ketinggalan, tongsis.

Sebagai pendaki, setidaknya harus ada kotak P3K dan logistik yang bersarang di carrier-mu. Jangan biarkan kamu tidak membawa obat maupun makanan. Kalau kamu terpisah dengan rombongan, dan kamu nggak bawa apa-apa di carrier, kamu bisa membayangkannya, bukan?

Perhatikan musim yang baik untuk mendaki. Musim hujan kadang kurang bersahabat, apalagi tanpa bekal sepatu dan jas hujan yang baik

Safety tracking. via fitbodynow.wordpress.com

Hal kecil yang nggak jarang dilupakan para pendaki, jas hujan dan sepatu. Memang remeh sih jas hujan itu, tapi dia punya jasa yang nggak kecil untuk keselamatanmu di gunung. Menjagamu dari basah dan menjauhkanmu dari hipotermia. Meski jas hujan nggak bisa jadi barometer gejala hipotermia yang melandamu, setidaknya, kamu nggak kedinginan karena hujan. Apalagi sepatu tracking. Tapi saat ini, untungnya, sepatu gunung sudah jadi lifestyle bagi remaja yang hobi mendaki. Dari harga dan motif yang beraneka ragam, tentu sepatu ini nggak cuma akan bikin kamu aman, tetapi juga jadi lebih kece.

Musim hujan seperti ini memang cukup bahaya untuk mengagendakan waktumu untuk mendaki gunung. Pertama karena faktor cuaca yang nggak bersahabat yang bisa membuat perjalanan makin sulit, dan kedua karena kondisi kesehatan pendaki sangat dipengaruhi cuaca. Sekali lagi, kematian Oky menjadi tamparan bagi para pendaki di Indonesia. Kelalaian dalam mengantisipasi tingginya curah hujan menjadikan kabar duka bagi kita semua. Kembali ke poin sebelumnya, persiapan matang memang sangat dibutuhkan dalam pendakian! Dan berhati-hatilah ketika pendakian kamu lakukan di musim hujan.

Jangan remehkan cuaca yang bisa menyebabkan hipotermia. Ingat, hipotermia bukan kesurupan, ya!

Nah, neduh juga boleh. via travelingneverdies.com

Seperti kasus pendaki berusia 16 tahun asal Bekasi, Shizuko Rizmadhani, yang takluk karena cuaca dingin di Kandang Batu Gunung Gede Pangrango, salah seorang temannya mengatakan bahwa gadis ini kesurupan. Bahkan dalam kesurupannya itu, dia minta beberapa bungkus kopi untuk dikonsumsi, tanpa air! Padahal, kafein dalam kopi bisa membuat seseorang dehidrasi. Apalagi kalau hingga 6 bungkus coba! Dan kejadian ini dikira kesurupan.

Kasus duka terbaru yang terjadi di Gunung Merbabu menjadi bukti bahwa hipotermia tidak bisa dianggap remeh. Oky yang ditemukan tewas dalam tenda, dinyatakan mengalami hipotermia. Pagi pukul 5:30 ketika seorang pendaki yang setenda dengannya hendak membangunkan Oky dari tidurnya, ternyata sudah tidak bernapas. Petrus Asbirianto (28), pendaki asal Ciburial, Bogor, menyatakan bahwa Oky sudah tak bergerak pada pagi itu (7/2), maka dia segera mencari teman-teman Oky untuk mencari pertolongan.

Evakuasi dilakukan oleh beberapa pihak, antara lain SAR Kompas dan Manggala Merbabu, SAR Bumi Serasi (Buser), SAR Pinos, BPBD Kabupaten Semarang, Basarnas Kantor SAR Semarang, dan juga Muspika Getasan. Dari keterangan Kadus Takelan, Zupriyo Tarzan, pengevakuasian sedikit terganggu dengan track yang terjal serta cuaca yang tak mendukung (hujan deras).

Pastikan bisa mengukur kemampuan diri masing-masing. Bila memang tidak kuat, jangan memaksa untuk melanjutkan perjalanan karena kelelahan. Harus istirahat,”

Humas Basarnas Semarang Zulhawary Agustianto.

Dehidrasi memang menjadi momok bagi para pendaki. Tapi cuaca yang menyebabkan hipotermia menjadi mimpi buruk bagi siapapun. Hipotermia adalah gejala di mana suhu tubuh melemah dari biasanya. Penurunan ini disebabkan oleh cuaca yang kadang tidak bisa diterima oleh keadaan tubuh orang normal. Akibatnya, orang tersebut akan jatuh dan menggigil dengan nggak wajar. Saat-saat seperti inilah orang-orang di sekitarnya harus cekatan untuk segera menolong. Jangan pernah remehkan gejala hipotermia ini!

Sebuah keraguan yang kamu rasakan, bisa jadi penanda bahwa kamu harus menunda pendakian. Kadang, firasat tak pernah salah dalam menentukan arah.

Jangan pernah ragu dalam melangkah. Ragu berarti mundur. via www.salomon.com

Seharusnya kita dan alam adalah harmonisasi. Bukan tentang harga atau pembuktian diri!

Sebuah pendakian haruslah memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, dengan memperhatikan kemampuan diri. Ketika kamu ragu dalam pendakian, sebaiknya urungkan saja niatmu. Keragu-raguan, secara psikologis menandakan bahwa kamu belumlah siap. Akan menjadi lebih buruk ketika kamu ragu untuk mendaki gunung, karena kamu merasa masih ada yang kurang dalam persiapanmu atau kesehatanmu yang agak terganggu.

Belajar dari tragedi yang menimpa Oky Kumara Putra, pelajar di SMKN 10 Semarang yang tewas dalam pendakiannya di Gunung Merbabu (7/2). Sebagai kakak kandung, Rafika menanyakan kesiapan Oky dalam pendakian perdananya (6/2). Fika mengaku, adiknya masih bingung; antara berangkat atau tidak. Tetapi paginya Oky tetap berangkat dan pamitan kepada orangtua dan kakaknya itu. Dan sebuah malapetaka menghampiri keluarga ini. Oky dikabarkan tewas di dalam tenda yang bermalam di Pos Watu Gubug, pada ketinggian kurang lebih 2.723 mdpl. Keraguan yang akhirnya membawa pemuda asli Semarang itu menghadap pada Sang Pencipta.

Dari semua ulasan di atas, kamu masih sering menyepelekan yang mana, Guys? Hipwee berharap kamu tetap menjadi pendaki gunung atau travelers yang cerdas! Ingat,

Tujuan naik gunung adalah turun gunung!

– Sumihar Tampubolon, pendaki dari Medan.

Sungguh disayangkan memang, sebuah berita duka yang datang dari para pendaki di Indonesia. Semoga kejadian ini tak berulang dan berhenti di angka 52 saja, serta dapat mengilhami seluruh pendaki di Indonesia untuk lebih berhati-hati!

Dear Oky, mudah-mudahan kisahmu ini jadi kisah terakhir tentang sebuah nyawa yang terlepas di gunung. Semoga engkau tenang di sana, kawan.

Stay Safe, Trekkers!