Pada artikelnya sebelumnya, Hipwee Travel berhasil bikin banyak orang mupeng dengan hasil tentang hal-hal yang bakal kamu temui di Rumah Kamera. Kamu belum baca? Coba klik dulu ini (Ngaku Traveler Hits dan Kekinian? Nggak Sah Kalau Belum Mengunjungi Rumah Kamera di Magelang!) deh sebelum lanjut baca.

Tapi, kamu tahu nggak? Di balik Rumah Kamera, yang mulai dikenal ke berbagai penjuru Indonesia, terdapat sosok rendah hati yang sungguh menginspirasi. Beliau adalah maestro dunia seni yang tak pernah berhenti mengabdikan diri untuk perkembangan dan pengembangan bidang ini. Pria keturunan Tiongkok ini mungkin bukan seniman yang wajahnya sering nongkrong di layar kaca, tapi dari obrolan dengan beliau ada banyak yang bisa dipelajari kita.

“Saya ingin memberikan sisa umur hidup saya untuk desa ini.”

Begitu katanya saat ngobrol santai bersama Hipwee beberapa waktu lalu.

Ingin tahu lebih lanjut tentang sosok di balik Rumah Kamera ini? Yuk simak wawancara Hipwee dengan beliau!

Biar dekat, kenalan dulu yuk sama Pak Tanggol!

Advertisement

Tanggol Angien Jatikusumo. via hipwee.com

Sosok yang kita bicarakan saat ini adalah Tanggol Angien Jatikusumo. Pria kelahiran Semarang, 26 Januari 1952 ini bukanlah seniman biasa. Hasil karyanya sudah melanglang buana dan menghiasi dinding-dinding kediaman orang penting di Indonesia, bahkan luar negeri.

Pak Tanggol, begitu orang-orang memanggilnya, mendalami dunia lukis sejak tahun 1967.

“Saya dulu mengagung-agungkann Affandi. Guru saya adalah Pak Dullah, mantan pelukis istana negara zaman Bung Karno. Darinya saya belajar banyak,” ujar Pak Tanggol.

Selama tinggal di Bali, Pak Tanggol pernah satu rumah dengan komposer Bengawan Solo.

Pernah tinggal serumah dengan Pak Gesang. via kanalsatu.com

Pak Tanggol sudah merantau ke beberapa kota di Indonesia untuk berkarya. Sebelum memutuskan diri untuk tinggal di Magelang, ia pernah tinggal lama di Bali, Batam dan Jakarta.

Pada kesempatan tersebut, ada pernyataan yang cukup menarik perhatian Hipwee. Pak Tanggol bercerita pernah tinggal satu rumah dengan legenda musik Indonesia yang juga pencipta lagu Bengawan Solo, Gesang Martohartono.

“Di Bali, saya satu rumah sama Pak Gesang. Selain musik, dia pelukis juga lho,” ungkap Pak Tanggol.

Punya cita-cita mulia menjadikan Desa Majaksingi sebagai desa seni. Kayak Ubud di Bali.

Ubud Bali via www.ghmhotels.com

Di balik pembangunan Rumah Kamera, Pak Tanggol ternyata punya cita-cita mulia. Ia ingin menjadikan Desa Majaksingi – desa tempat Rumah Kamera berdiri – sebagai sebagai desa seni. Menurutnya, Rumah Kamera adalah embrio awal untuk Desa Majaksingi sebagai desa seni ke depannya.

“Cita-cita saya menjadikan Majaksingi sebagai desa seni. Seperti Ubud di Bali. Di sini ‘kan dekat Candi Borobudur yang namanya sudah sampai ke mancanegara. Jadi dengan nama besar itu, kalau kita bikin perkampungan seni bisa lebih mudah.”

“Ke Bali rasanya belum lengkap kalau kita gak ke Ubud. Nah, kalau di sini, main di daerah Candi Borodubur belum lengkap rasanya kalau belum ke Majaksingi,” tuturnya sambil tersenyum.

Rumah Kamera sebagai embrio desa seni Majaksingi. via hipwee.com

Dengan begitu, kata Pak Tanggol, segala potensi yang ada di Majaksingi bisa tereksplor, termasuk sumber daya manusia.

Terenyuh dengan keadaan masyarakat di Desa Majaksingi. Ia ingin warga desa lebih sejahtera jika cita-cita menjadikan Majaksingi sebagai desa seni tercapai.

Kelak, kata Pak Tanggol, ketika Desa Majaksingi sudah terealisasi jadi desa seni, otomatis masyarakat akan lebih terangkat statusnya. Tak ada lagi kisah yang bisa membuatnya terenyuh seperti beberapa tahun lalu.

Saya cukup terenyuh dengan keadaan desa ini. Saya beli jagung sekarung yang gak habis-habis dalam seminggu, coba tebak harganya berapa? Dua puluh ribu rupiah,” ujarnya.

“Masyarakat bisa lebih terangkat statusnya jika jadi desa seni nanti.”

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Pak Tanggol membuka kelas melukis gratis untuk warga sekitar hingga membangun panggung pertunjukan.

Itu adeknya lagi belajar melukis. via hipwee.com

Dalam merintis desa seni di Majaksingi, Pak Tanggol membuka kelas melukis gratis untuk warga sekitar setiap hari Minggu. Hebatnya, ia tak memungut sama sekali biaya kepada para muridnya.

“Saya kasih ini secara gratis, tanpa dipungut biaya. Supaya mereka bisa jadi penerus untuk jadi pengisi desa seni ini.”

Pak Tanggol menekankan, hanya karena dirinya seorang pelukis, bukan berarti Desa Majaksingi nantinya hanya desa seni lukis saja. “Apapun yang berhubungan dengan seni, seperti seni musik, seni tari dan lainnya.”

“Saya bahkan sudah merintis bikin panggung pertunjukan, seperti di Prambanan ada Sendratari Ramayana. Nah di sini nanti ada inginnya ada semacam itu.”

Untuk mewujudkan desa seni di Majaksingi tentu tak mudah. Kata Pak Tanggol, perlu banyak pihak yang kooperatif.

Butuh kerja sama banyak pihak. via hipwee.com

Dalam membangun desa seni, Pak Tanggol mengajak semua masyarakat Desa Majaksingi, termasuk seniman-seniman yang berasal dari sana untuk berpartisipasi.

“Kawan-kawan saya ‘kan di sini sudah kenal siapa penarinya. Jadi mereka akan mengisi (panggung pertunjukan). Kita komersilkan untuk turis-turis dan jual tiket ke hotel-hotel.”

“Mereka itu seniman murni. Tanpa disponsori pun mereka juga tampil pakai uang sendiri. Nah, saya sediakan tempat nanti ‘kan hasilnya untuk kelangsungan hidup mereka semua juga. Kita bagi-bagi.”

Menurutnya, seni tari di Majaksingi sedang dalam keadaan ‘hidup segan, mati tak mau’. Makanya, ia berusaha untuk memberi sarana supaya bisa hidup kembali.

Untungnya, sambutan perangkat desa sangat positif. Pelatihan seni di Majaksingi lebih digencarkan.

Pelatihan membatik lebih digencarkan. via img.jurnalasia.com

Ketika ditanya soal partisipasi perangkat desa tentang keinginannya menjadikan Desa Majaksingi sebagai desa seni, Pak Tanggol mengatakan sambutan mereka cukup luar biasa.

“Mereka juga ada aksi. Latihan membatiknya jadi lebih dikencangkan. Tarinya dulu di sini sudah hampir gak ada. Sekarang ada lagi untuk cari bibit baru.”

Pak Tanggol pun terbuka untuk siapa saja baik dari Desa Majaksingi atau luar yang akan menggelar pagelaran seni. Bahkan, kata Pak Tanggol, banyak yang datang secara sukarela untuk menggelar pagelaran musik di Majaksingi.

“Acara yang berhubungan dengan seni akan saya persilahkan. Mereka meminjam tempat, bahkan kadang saya sponsori konsumsi.”

Dan inilah wejangan Pak Tanggol untuk para pembaca Hipwee.

Simak baik-baik yakkk…. via hipwee.com

Sebelum mengakhiri obrolan bersama Hipwee, Pak Tanggol memberikan pesan-pesannya kepada kita semua. Menurutnya, dulu waktu masih muda, ia seorang pekerja keras. Keras dalam artian mengandalkan otot.

“Kalau kamu cari rezeki atau kongkritnya uang itu susah. Kamu kejar pun gak bakal ketangkep. Kenapa? Uang itu kakinya delapan. Yang bener itu uang yang mendatangi kamu kamu. Falsafah ini penting.”

Pak Tanggol bercerita, saat rapat seniman di wilayah Borobudur, salah seorang dalam forum berkata, “Cobalah belajar dari Pak Tanggol. Bisnis itu pakai otak.”

Selain itu, Pak Tanggol juga bilang manusia harus semeleh atau dalam bahasa Indonesia artinya berserah. Setelah itu pikiran bisa jernih.

“Kembali ke yang kuasa. Kalau kalian kan’ solat yang rajin. Lima waktu jangan ditinggal. Kalau saya, selalu meditasi,” tutupnya.