Kasus mahasiswi yang viral gara-gara menghujat ibu hamil di Facebook seolah membuka mata kita semua. Apa yang sebenarnya terjadi dengan perempuan ini? Apakah memang sikapnya yang berlebihan, atau memang ia lahir dari sistem transportasi yang selama ini ia gunakan? Hal ini perlu kita telisik lebih jauh, alih-alih hanya menghujat dan merisak si mahasiswi dengan nasihat sekaligus sumpah serapah tak berkesudahan.

Gerbong wanita KRL, memang sejak dulu diidentikkan dengan tempat yang begitu mengerikan karena timbul persaingan berebut kursi ataupun sekedar pegangan. Namun yang jadi perhatian, kenapa sih tempat yang identik dengan kaum hawa yang berperasaan justru jadi tempat pertarungan tak berbelas kasihan?

Setidaknya ada beberapa alasan yang menjadikan gerbong KRL sebagai arena ‘hunger games‘ yang mengerikan. Berikut ini ulasannya.

Faktor pertama adalah persamaan kekuatan antar kaum perempuan. Selama ini di gerbong campuran, perempuan lebih defensif karena menyadari kekuatannya yang tak sedominan para lelaki. Namun di gerbong wanita, semua punya kekuatan yang nyaris sama

kereta khusus wnaita via www.depokpos.com

Kisah-kisah seperti Shafira yang sedang ramai jadi pembicaraan khalayak bukan hal yang baru kok. Dari dulu juga sudah ada, cuma memang tidak tereskpose karena tidak ‘diadukan’ di media sosial. Tiga tahun lalu, Dinda sudah terlebih dahulu viral dan menyita empati ‘semu’ publik. Orang-orang menghujat Dinda, namun perilaku pengguna gerbong wanita tetap sama. Banyak Dinda-dinda yang lain yang melakukan hal senada.

Advertisement

Faktor utama gerbong wanita jadi seperti ajang pertarungan diawali karena hal yang sebenarnya mendasar, power atau kekuatan. Latar belakang lahirnya gerbong wanita apa sih? Ya, karena posisi perempuan yang rentan untuk didominasi laki-laki dalam ‘pertarungan’ fisik atau pelecehan seksual yang marak terjadi dalam hiruk pikuknya kereta. Secara power, perempuan yang seakan kalah justru disediakan arena pertarungan dengan power yang seimbang. Dan hal ini mengakibatkan perebutan dominasi menjadi seru, siapa yang agresif-lah yang akan ‘merasa’ menang. Dan sedihnya adalah, semuanya menjadi jauh lebih agresif setelah tahu lawannya punya power yang tak jauh beda.

Kekuatan yang seimbang mengakibatkan muncul persaingan yang lebih ganas. Jangankan cuma menghujat ibu hamil yang merebut tempat duduknya, kisah-kisah sadis mulai jambak-jambakan, hingga umpatan kasar sudah jadi kebiasaan…

masuk terus walau udah penuh via media.viva.co.id

Kalau dikatakan persaingan adalah niscaya, ya memang demikian adanya. Tapi persaingan yang bagaimana dulu? Kalau sampai hilang empati dan sampai mengintimidasi dengan fisik maupun verbal, tentu ada yang tidak beres di sini. Ada masalah kolektif yang muncul akibat tekanan masyarakat perkotaan, terutama pengguna transportasi umum macam KRL atau busway.

“Posisi mereka setara dan berjuang lebih besar. Mereka mengerahkan tenaga lebih untuk dapat tempat duduk. Ada persaingan karena kan mereka merasa sesama perempuan. Kalau di gerbong umum kan biasanya para pria yang lebih mengalah ke wanita,” papar Tiara Puspita, MPsi seperti dilansir di Detikcom.

Saling berebut tempat duduk, saling curiga, saling dorong meskipun kereta sudah penuh, adalah bukti perempuan adalah kaum yang sulit mengalah terhadap jenisnya sendiri. Jangankan sinis ibu hamil, banyak kok yang sampai menghujat secara verbal hingga jambak-jambakan untuk sesuatu yang bagi para lelaki adalah hal yang kurang penting, seperti rebutan kursi.

Faktor lainnya adalah perempuan jadi lebih egois ketika naik gerbong wanita. Peduli amat dengan penumpang lain, pokoknya aku harus segera sampai. Begitu pikir mereka…

gerbong wanita masuknya aja begini via www.kompasiana.com

Bolehlah kalau menyebut kalau tak semuanya egois ketika naik gerbong wanita. Tapi skema gerbong wanita ini memang menyebabkan egoisme kolektif yang terbentuk karena permasalahan yang sama yakni waktu. Mereka harus segera sampai ke tempat kerja maupun ketika pulang ke rumah. Untuk itu mereka akan mati-matian masuk ke dalam gerbong kereta meskipun manusia di dalamnya sudah penuh sesak. Tak peduli, selama pintu belum tertutup, mereka merasa berhak masuk.

Kursi prioritas pun dengan ‘senang hati’ diduduki oleh mereka, perempuan muda yang masih sehat dengan headset di telinga sambil memejamkan mata. Padahal banyak ibu hamil, lansia hingga penyandang disabilitas yang kesulitan di dalam kereta. Rebutan tempat duduk pun sudah biasa. Hingga saling melukai pun bukan seperti hal yang memalukan.

Begini salah satu contoh ‘pertarungan’ para penumpang KRL di gerbong wanita cuma untuk berebut kursi yang cukup viral. Kok sampai segitunya ya…

Shafira lagi-lagi menjelaskan kepada kita semua bahwa ada yang tidak beres dengan sikap para penumpang gerbong wanita. Dengan kejadian ini seharusnya kita lebih bisa menghormati dan menghargai penumpang lainnya, sesama kaum perempuan. Agar kejadian ini tak terulang dan perjalanan dengan KRL pun kian nyaman dan aman.

Semoga tak ada lagi kejadian Shafira lainnya. Menghujat memang mudah, tapi yang sulit adalah kemauan untuk berubah.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya