Yang terhormat,

Papa dan Mama

Di bumi yang bertabur cinta,

Dear kesayanganku,

Apa kabar Papa dan Mama di rumah? Baik-baik saja kan? Semoga kebahagiaan, kesehatan dan kebaikan tercurah untuk kalian berdua. Salam takzim nan penuh cinta dari Ananda. Gadis kecilmu yang kini sudah beranjak dewasa dan menua. Takkan pudar rasa sayangku kepada Papa dan Mama tercinta.

Teruntuk Papa tercinta,

Plawangan Sembalun via www.sociotraveler.com

Jutaan keindahan terhampar di bumi Nusantara, takkan habis satu manusia Indonesia menikmati semua keindahannya.

Itu pesan kuat darimu yang sejak kecil tertanam di benakku. Engkau mengajakku berkeliling kota, naik delman istimewa. Tak lupa selalu menjajakan kuliner paling spesial yang begitu lezatnya. Ananda juga ingat ketika Papa pulang dari dinas luar kota, tak lupa gantungan kunci dan Atlas senantiasa engkau bawa. Yah, sedari kecil, jiwa petualangmu ingin diturunkan ke dalam jiwaku, anakmu ini.

Pa, aku ingin mengutarakan keinginanku yang terpendam sekian lama. Aku sudah naik banyak gunung di Indonesia, tapi aku tak pernah diizinkan ke Rinjani. Ada apa, Pa? Mengapa Ananda tak diperkenankan menjejak atapnya yang begitu menakjubkan indahnya.

Advertisement

Ijinkan mendaki Rinjani via www.sociotraveler.com

Ananda begitu mendamba mendaki Rinjani, Pa. Entah sampai di Puncak atau sekedar duduk di Segara Anak saja. Bagi Ananda, Rinjani selalu hadir dalam lamunan dan mimpi setiap hari. Tanpa henti. Atau sekedar menembus savana atau Hutan Senaru yang katanya Dewi Anjani berada di sana. Tak lupa, Ananda ingin mencumbu Plawangan Sembalun dan Senaru nan legendaris itu. Izinkan pendakian Ananda ke sana, Pa…

Mamaku yang cantik,

segara anak via www.sociotraveler.com

Entah mengapa, aku rindu sekali dengan suaramu, Ma. Suara yang selalu berhiaskan kebaikan dan kelembutan tak terkira. Pelan dan penuh kasih sayang tak ada habisnya. Namun, suara indahmu itu tak muncul ketika keinginan mendaki Rinjani aku sampaikan kepadamu. Begitu hening dan senyap. Seolah harapanku harus dikubur sehening-heningnya. Sesenyap-senyapnya.

Dahulu Mama adalah perempuan perkasa yang melanglangbuana. Berkeliling dari satu pulau ke pulau lainnya. Tak takut dengan bahaya yang selalu ada. Menerjang semua masalah dengan penuh keberanian dan minim air mata.

Lantas, mengapa cita-cita Ananda enggan engkau permudah? Tanpa nada, tanpa suara dan tanpa restu.

Dear Papa dan Mama Sayang,

malam di rinjani via www.sociotraveler.com

Impian terbesarku saat ini adalah membahagiakan Papa dan Mama. Sebelum ada pangeran yang menjemputku nanti, cinta dan bakti ini seutuhnya untuk kalian berdua. Tak ada ragu untuk hal itu. Bahkan untuk impian yang paling Ananda inginkan, Gunung Rinjani. Ananda akan tunggu restu dan doamu. Tak akan kudahulukan ego mudaku hanya untuk menentangmu. Ananda cuma bisa berdoa semoga Tuhan membantu untuk meluluhkan hatimu, Pa, Ma.

Terakhir, Ananda hanya mau bilang, Ananda Rindu.

Salam sayang selalu,

Anakmu

Rinjani