Dan inilah keputusanku

Lima tahun yang lalu, 2011 kala itu, pertama kali kita bertemu, di puncak Gunung Semeru. Kau bersama rombonganmu, dan aku dengan segelintir karibku. Mahameru jadi saksi, dua hati yang pada akhirnya saling mengisi, hingga sudah lima tahun ini. Terimakasih telah menjadi partner mendaki, Sayang.

Awalnya kita memang jadi pasangan idaman. Selalu mendaki beriringan, dengan puncak yang jadi tujuan

terimakasih Semeru, karenamu kita saling menemukan via walterpinem.me

Semeru, Ijen, Bromo, Batur, Argopuro, Arjuno, Penanggungan, Lawu, Merapi, Gede-Pangrango, Sindoro-Sumbing, Merbabu, Rinjani, Kerinci, dan entah bukit dan gunung mana lagi yang telah berhasil kita daki. Saat kita masih sama-sama jadi mahasiswa, dan sekarang aku sudah dua tahun bekerja, aku bahkan sudah punya usaha, sambil melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya. Dan kamu bagaimana? Kamu masih di tempat yang sama, Sayang. Statusmu masih sama, sebagai mahasiswa. Sejak kita bertemu di puncak Semeru, hingga mungkin sekarang kucing pun sudah mampu mengucap rindu. Haha. Aku baik-baik saja, tenanglah. Kabarmu yang lebih patut kau khawatirkan.

Hingga akhirnya, sayang. Aku sampai pada satu titik. Menjalani hubungan ini denganmu, sama halnya ketika kita mendaki gunung Prau, awal tahun lalu.

maafkan aku, kala itu di Prau pertama kali aku meninggalkanmu via dzargon.com

Advertisement

Aku akan mencoba menggali ingatanmu, Januari 2015 lalu kita memilih merayakan tahun baru di Prau. Awalnya kita memang berjalan beriringan. Saling berbincang dan melempar candaan. Namun entah apa pasal, lama kelamaan kau terus menerus mengeluh kelelahan. Istirahat dan membuang waktu yang kau lakukan. Maafkan kalau aku jadi jengah dan tak sabar, hingga aku memilih berjalan sendiri di depan. Dan yang ku dengar, kau berkata akan menyusulku walau perlahan. Aku menunggumu, aku me-nung-gu. Hingga pohon-pohon ikut lelah menunggumu.

Prau memang tak setinggi Semeru atau Merbabu. Kalau dulu kita bisa beriringan hingga puncak, kenapa yang ini tidak?

aku menunggumu, sayang via pendakicantik.com

Aku bilang, aku akan menunggumu di puncak. Tapi lama wajahmu tak kunjung terlihat, sudah satu jam lewat. Ada apa denganmu? Apa saking bahagianya kau bersanding denganku membuat berat badanmu berlipat, dan langkah kakimu makin berat? Kau mau menyalahkanku? Silahkan. Kalau dulu terjalnya jalur trekking membuat kita saling menguatkan, kenapa sekarang malah saling meninggalkan. Ketika aku masih bersikukuh berjuang, kenapa sekarang kau memilih mundur ke belakang, Sayang?

Aku juga minta maaf. Bisa jadi aku yang makin punya banyak tuntutan. Kalau dulu curamnya tanjakan membuat kita saling mengingatkan, kenapa sekarang aku jadi tak sabaran. Tolong Maafkan…

karena ternyata, menunggu itu ada batasnya via phinemo.com

Berkaca pada pengalaman di Prau, aku menilik lagi pada hubungan ini. Aku sudah melangkah sejauh apa, dan kau masih ada dimana. Banyak orang bertanya, sampai di batas mana aku akan menunggumu. Kenapa aku tak kunjung melepasmu? Apa karena takut tak punya kawan meraih puncak-puncak gunung lagi? Ku rasa, aku tak pernah jadi sedangkal itu.

Sayang, sebelum kejadian di Prau, aku masih mau menunggumu, berjalan bersisian menuju kulminasi, yang orang sebut itu puncak. Hingga akhirnya, di Prau mungkin aku merasa lelah, mungkin kesabaran milikku menjadi rendah, dan aku memilih lebih dulu melangkah. Maaf kalau keputusanku kala itu salah. Sama halnya dengan hubungan ini sayang, aku tak bisa berjanji untuk selalu mendampingi. Aku hanya bisa bertutur, ku tunggu kau di puncak sukses.

Kau mau bilang aku matre? Silahkan. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Bukankah realistis itu juga perlu? Kalau sunrise misalnya yang jadi tujuan pendakian, lantas apa yang jadi sasaran hubungan kita ini?

selamat berjuang di jalur pendakianmu, ya sayang via zonasingkat.blogspot.com

Bukankah suatu hal yang mungkin lucu, kalau kau ingat pendakian terakhir kita di Merapi bulan lalu? Itu pula yang menjadi titik balikku. Melalui trekking 5 jam di gunung Merapi tepat hari Minggu, sama halnya menjalani hubungan ini 5 tahun denganmu. Aku sudah sampai di pasar bubrah, tapi kamu masih hanya di pos 1 sayang. Aku sudah siap melepasmu. Aku sedang berusaha merelakanmu. Seturunnya dari Merapi, aku bilang padamu,

“Kamu mungkin sudah mengkhatamkan banyak jalur pendakian, hingga kau lupa kalau seharusnya hubungan ini bertujuan. Apa kau lupa, kalau aku perempuan? Untuk apa kita bersama bertahun-tahun, kalau pada akhirnya tak berujung di pelaminan? Tapi sebelumnya, tata hidupmu dulu sayang. Selesaikan sekolahmu, kuliahmu. Hidupi dirimu sendiri dulu, bahagiakan Ayah Ibumu. Jika jodoh, maka kita akan bertemu.”

Tepat satu bulan, aku melepasmu. Maafkan aku yang tak bisa lebih lama lagi menunggu. Mungkin juga tanpa sengaja, selama ini justru aku yang menghambat jalan suksesmu. Bisa jadi kan? Aku pernah berujar, mari kita bertemu di puncak sukses masing-masing. Tapi akhirnya aku juga menegaskan padamu,

“Sekarang, kita punya jalur trekking masing-masing. Kita harus melaluinya sendiri-sendiri, bagaimanapun terjal dan curamnya jalanan itu. Kalau di persimpangan jalan, kau bertemu dengan seseorang yang mau berjalan bersisian denganmu, mendampingi hingga puncak suksesmu, silahkan kau jaga dia. Dan biarkan dia mengawalmu. Aku pun begitu.”

“Selamat berjuang, Sayang”

Dariku, Mantan Partner Pendakian (Cinta)mu