Kalau disuruh memilih, kira-kira sosok seperti apa yang kamu bilang sebagai wanita yang cantik? Kamu mungkin akan bilang bahwa sosok seperti Scarlett Johansson, Song Hye-Kyo atau bahkan Dian Sastro yang jadi idola kalian. Seakan mereka adalah perwakilan dari cantik yang sempurna.

Mungkin di sekitaran kita begitu adanya, namun tidak jika kalian bertanya pada anggota suku Dinka di Sudan. Bagi mereka, cantik itu bukan yang kulitnya putih, mulus dan bersih. Justru mereka yang memiliki sayatan di wajah sosok cantik yang sebenarnya di mata suku Dinka!

Bagi wanita-wanita di suku Dinka, cantik itu mereka yang punya sayatan di wajahnya. Beda dari konsep cantik cewek kebanyakan

Bagi suku Dinka, yang seperti ini nggak cantik! via infoshutter.com

Ketika kamu mengakui konsep cantik adalah mereka yang berkulit putih, mulus dan bersih, wanita-wanita suku Dinka justru mempunyai konsep cantik yang berbeda. Bagi mereka, wanita yang memiliki kecantikan sejati adalah mereka yang memiliki tanda sayatan di tubuhnya, utamanya di wajah. Jika kebanyakan orang menganggap luka bekas sayatan itu adalah aib bagi kecantikan diri, mereka justru bangga dan menganggapnya sebagai tolak ukur cantik yang hakiki. Berani beda, nih!

Tak asal menyayat wajah, sayatan tersebut harus dilakukan oleh dukun yang sudah dipercaya. Yah, agar sayatannya punya makna yang tepat

Serem sih ini gambarnya… via beautifuldecay.tumblr.com

Advertisement

Adalah tradisi suku Dinka untuk memberikan tanda sayatan pada wajah warganya. Namun tak sembarang sayatan. Yang melukiskan sayatan haruslah sosok dukun yang sudah dipercaya oleh suku. Karena sayatan tersebut adalah salah satu bentuk tradisi budaya, jadi sayatannya haruslah bermakna dan tak asal. Pun demikian dengan alat yang digunakan untuk menyayat. Pisaunya pun haruslah pisau yang sudah dibakar hingga panas. Bayangin gimana sakitnya, tuh!

Namun, wanita yang disayat pun harus kuat. Akan ada sanksi malu bagi dirinya dan keluarga kalau sampai menangis saat prosesi penyayatan berlangsung

Nggak boleh nangis! via www.strangetruenews.com

Nah, kamu sudah tahu kan bahwa alat yang digunakan adalah pisau yang sudah dibakar hingga panas. Bayangkan betapa sakit dan perih yang dirasakan oleh mereka yang tengah menjalani prosesinya. Sepanjang prosesi mereka disiksa oleh pisau panas tersebut. Namun, kamu yang tengah menjalani prosesi dilarang keras untuk menangis, apalagi berteriak. Cukup tahan saja dalam hati. Kalau kamu teriak atau menangis, kamu dan keluargamu akan malu seumur hidup!

Itulah sebabnya jarang ada orang yang meneteskan air mata sepanjang ritual ini berlangsung. Hasilnya, mereka yang sukses menjalankan ritual penyayatan tubuh tanpa merengek adalah sosok yang kuat dan dipandang dewasa. Dia akan dipandang berharga oleh anggota suku lainnya.

Sebaliknya, jika ada yang menolak menjalankan prosesi ini, dia akan diasingkan karena dianggap menodai tradisi!

Rasa malu juga akan dirasakan oleh keluarga dari mereka yang menolak menjalankan prosesi ini. Wanita suku Dinka yang menolak menyayat wajahnya akan dikucilkan oleh anggota suku yang lain. Selain karena konsepsi kecantikan dan dewasa, mereka menganggap siapapun warga suku Dinka yang menolak adalah sosok yang telah menodai tradisi. “Orangtuanya memiliki tanda sayatan di tubuh mereka, namun kenapa dia menolak?” Dia yang menolak jelas dianggap pembelot dan akan dikucilkan oleh lingkungan.

Namun, ada kebanggan tersendiri dalam tiap sayatan di wajahnya. Tak cuma demi cantik, tapi karena mereka cinta tradisinya

Yah, meski memang bagi kita ritual ini terkesan sangat menyiksa, namun mereka bangga akan tanda bekas sayatan di wajahnya. Bagi mereka, lebih dari sekadar cantik, sayatan tersebut adalah lambang kecintaan mereka akan tradisi nenek moyang yang sedari dulu ada. Karena itu mereka rela wajahnya disayat. Toh adanya bekas sayatan itu malah akan membuat nilai mereka naik di mata lingkungannya. 🙂
Gimana? Ngeri nggak? Jadi ingat, cantik itu memiliki makna yang berbeda bagi tiap orang. Mungkin bagi kita mereka tidak secantik itu dengan sayatan di wajahnya, namun kalau lingkungan mereka menganggap itulah cantik yang sebenarnya, ya kita harus terima. Tapi tetap saja. Bagi kita anak muda Indonesia, “sampai segitunya demi cantik, ya?” adalah respon yang pasti kita katakan setelah melihat fenomena ini. Hehe