Kamu yang pernah punya luka bakar pasti paham betapa sakitnya terkena api. Panasnya bisa melepuhkan kulitmu, sakitnya akan terus terasa bahkan sampai ada bekasnya. Panas dan pedih, kan? Nah sekarang coba bayangkan bagaimana kalau sekujur tubuhmu malah digebukin menggunakan pelepah kelapa dan daun pisang yang dibakar. Ngilu nggak?

Hal itu mungkin yang bakal kamu rasakan saat kamu melihat tradisi “Perang Obor” di Jepara. Sebuah tradisi unik saling menggebuk dengan api! Pengen ikutan?

Berniat untuk menolak bala, tradisi berbahaya dari Jepara ini terkesan sakral dan epik. Kamu wajib datang ke sana!

“Ngapain sih pukul-pukulan pake api? Apa ya nggak kesakitan?”

Wajar jika kamu mempertanyakan hal itu. Membayangkan dipukul saja udah ngilu, gimana lagi kalau dipukul pakai pelepah kelapa yang dibakar? Tentu sensasi sakit, perih dan panasnya bakal menyiksa tubuhmu. Nah kalau memang sudah tahu kalau hal itu menyiksa, kenapa masih saja dilakukan?

Advertisement

Warga desa Tegalsambi, Jepara, ternyata memiliki makna saat mereka melakukan tradisi yang sekilas terlihat ‘menyiksa’ tersebut. Meski terkesan menyiksa, namun tujuan tradisi ini mulia. Ingin menolak bala, tradisi ini rutin dilakukan di Jepara.

Nggak sembarangan loh ya. Tradisi ini memiliki sisi sakral. Ada sesi doa sebelum ritual perang obor ini dilaksanakan. Selaras dengan niat awal untuk menolak bala, tentu saja doa agar perang obor berjalan lancar harus didahulukan. Jadi nggak asal pukul nih.

Kibasan api dari obor yang dimainkan pada tradisi perang obor terkesan indah. Layaknya sedang menari, percikan apinya membuat suasana makin meriah

Percikan apinya semakin memeriahkan suasana via harian.analisadaily.com

Ketika kamu mendengar berita atau artikel terkait soal perang obor ini, mungkin yang ada di bayanganmu adalah kengerian. Ya wajar sih. Mana ada orang yang nggak ngeri ketika membayangkan dirinya dipukul dengan pelepas kelapa yang diselimuti api.

Namun, jika kamu melihat dengan mata kepalamu sendiri kengerian itu seakan tertutup oleh indahnya. Ada suasana meriah, megah dan epik yang terpancar pada tiap kibasan apinya. Belum lagi percikan api saat obor mengenai tubuh salah satu peserta. Waah… Dijamin kamu bakal terpana dibuatnya.

Namun meski terkesan bahaya, tradisi perang obor nyatanya nggak sampai menimbulkan korban jiwa. Panitia sudah mempersiapkan segalanya

Ada ritual doanya dulu agar semuanya berjalan lancar via nabsirsusilo.blogspot.co.id

Dihajar dengan menggunakan pelepah kelapa yang dibalut api tentu saja ada peserta yang sampai terluka. Lecet-lecet dan perih karena luka bakar itu jelas ada. Pun demikian dengan sakitnya badanmu selepas digebukin. Bayangkan saja, ada 30 peserta yang bisa memukul siapa saja selama kurang lebih satu jam prosesinya berlangsung. Kalau kamu ada di sana, nggak mungkin badanmu bisa keluar tanpa luka.

Hebatnya, meski ritual perang obor sudah sering dilakukan, belum ada nyawa yang melayang. Panitia telah mempersiapkan segalanya guna melindungi peserta yang ikut dalam tradisi perang obor ini. Mulai dari mengawali ritual dengan doa, memohon kelancaran sepanjang ritual berjalan hingga mempersiapkan ramuan obat dari dedaunan yang dicampur minyak kelapa, terbukti mampu menanggulangi jatuhnya korban jiwa.

Jadi kalau kamu mau ikut, aman kok!

Jika diruntut dari sejarahnya, kamu bakal nggak percaya. Entah bagaimana caranya, percikan api malah bisa mengusir wabah

Ada sejarahnya loh via dititikgerimizku.blogspot.co.id

Mungkin kamu bertanya-tanya, “awalnya bagaimana sih kok sampai ada tradisi perang obor ini?”. Sebuah pertanyaan yang wajar mengingat tradisi ini cukup berbahaya. Kebanyakan orang pasti akan mempertanyakan asal mula tradisi yang menantang dan berbahaya ini.

Sejatinya, tradisi perang obor ini ditemukan secara ‘tidak sengaja’ oleh Kyai Babadan dan Ki Gembong. Menurut legenda, Kyai Babadan mempercayakan kambing-kambingnya untuk digembala kepada Ki Gembong. Namun karena terlena dengan ikan dan udang di sungai, ternak tersebut terlupakan sehingga sakit atau mati. Kyai Babadan yang tidak terima dengan kelalaian Ki Gemblong, memukul Ki Gemblong dengan obor dari pelapah kelapa.

Siapa juga sih yang mau manut saja jika digebukin dengan obor? Nah, untuk membela diri, Ki Gembong pun mengambil obor serupa. Mereka berdua pun saling memukul dengan obor yang menyala hinga timbul percikan api. Tanpa diduga, benturan kedua obor menyebarkan api di tumpukan jerami di sebelah kandang. Ternak yang awalnya sakit tiba-tiba menjadi sembuh.

Nah, sejak saat itulah tradisi ini dipercaya masyarakat Tegalsambi, Jepara. Dan berlangsung hingga saat ini.

Kalau kamu ingin menyaksikannya dengan mata kepalamu sendiri, silahkan main ke Jepara. Perang Obor rutin digelar setiap pada Senin Pahing, malam Selasa Pon di Bulan Dzulhijjah dalam kalender Jawa atau Arab. Jangan sampai kamu kelewatan ya!