Traveling atau aktivitas jalan-jalan memang makin ngehits sekarang ini. Mulai dari anak sekolah hingga orang tua bisa leluasa melakukannya. Sebab, traveling di jaman ini seringkali dinilai mudah dengan segala teknologi dan kecanggihan yang mengiringi. Bahkan tanpa ikut paket tur dari agen perjalanan alias melakukan perjalanan mandiri pun tetap terhitung mudah. Karena hal inilah, tak jarang, mereka yang ada di usia 40 tahun ke atas seringkali merasa iri dengan para traveler-traveler muda. Kamu pernah dengar ayah/ibu/om/tantemu membandingkan cara traveling kalian nggak? Nih beberapa perbedaannya, semoga tak saling sombong ya…

Karena sekarang jamannya teknologi tinggi, mereka yang traveling di jaman dulu ternyata jauh lebih handal bersosialisasi. Ya, semua hal memang ada untung-rugi

ngobrol sama orang lokal sekarang makin jarang dilakukan via www.walterstrauss.com

Secara kasat mata, hal ini sangat mudah dilihat dan dinalar. Orang yang traveling jaman dulu bisa jadi lebih sering tersesat dan hilang arah. Kok bisa? Bandingin aja sama jaman sekarang, yang dikit-dikit menggunakan GPS, apa-apa makai google map. Alih-alih menggunakan teknologi macam itu, traveler jaman dulu ponsel aja nggak punya. Kalau butuh petunjuk arah, mereka akan senantiasa bertanya pada masyarakat sekitar. Sedangkan bagi traveler masa kini, kehadiran orang lain sudah tak begitu berarti. Karena itulah, traveler jaman dulu jauh lebih handal dalam hal sosialisasi. Siapa yang harus iri dalam hal ini? Hihii…

Masih berhubungan erat dengan teknologi. Mereka yang traveling di jaman dulu tak mampu untuk berekspektasi tinggi. Gimana mau berekspektasi kalau nggak punya referensi

dulu orang harus beli buku dulu buat cari referensi, dan itu makan waktu, juga mahal via c.net.com

Lagi-lagi peran google begitu krusial di jaman ini. Semua orang seolah mampu membuat itinerary. Nah, jaman dulu, jangankan itinerary, pergi ke kota X mau wisata kemana aja nggak paham. Karena sekarang sudah banyak review mengenai tempat wisata yang tersebar di internet, semua orang jadi berani berekspektasi tinggi. Seringkali-berujung-kekecewaan-lantaran-foto-yang-tersebar-di-dunia-maya-sudah-banyak-editan-dan-nggak-sama-dengan-kenyataan. Bisa jadi traveler jadul lebih sering merasakan kejutan dalam setiap perjalanan. Coba deh sekali-kali kamu pergi traveling ke tempat baru dan nggak usah riset dulu. Berani?

Bersyukurlah kamu yang traveling di jaman ini. Ada ATM dan credit card yang begitu memudahkan, traveler jadul mah kudu bawa duit cash kemana-mana dan pinter itung-itungan

Advertisement

mesin “pencetak” uang ada dimana-mana via images.wisegeek.com

Sekarang, kalau duit abis di tengah jalan, dengan mudahnya kita bisa minta kirimin orang tua atau siapapun teman yang bisa mentransfernya saat itu juga. Transfer pun tak lagi merepotkan, dengan keluar rumah dulu menuju mesin atm, sekarang bahkan sudah bisa dilakukan hanya dengan memegang ponsel saja. Pergi ke luar kota juga tak perlu uang cash yang banyak, cukup bawa ATM atau credit card semua bisa dibayarkan. Kalau dulu beda lagi, udah nggak punya banyak referensi, soal perhitungan akan anggaran pun harus jeli. Sebab, pergi kemana-mana hanya bisa mengandalkan uang cash saja. Jangankan credit card, ATM aja belum ada. Betapa rumitnya traveling di jaman itu~

Jangankan persoalan mencari informasi, cari temen traveling aja bukan hal mudah. Bisa jadi, para traveler jadul itu jauh lebih sering gelisah

bayangin, perkara temen aja kudu nemu di jalan dulu via i.dailymail.co.uk

Kalau sekarang sudah ada banyak forum atau web dan bahkan aplikasi khusus untuk para traveler yang bisa janjian menuju destinasi tertentu, dulu mah temen-nemu-di-jalan yang banyak. Ya, secara spontan alias on the spot di tempat tujuan atau penginapan gitu, yang akhirnya membuat traveler jadul saling berkenalan, ngobrol-ngobrol dan kemudian jalan bareng. Sama-sama asiknya sih sebenernya. Tapi, kalau melalui forum atau web khusus, kamu bisa kopi darat dulu sebelum berangkat. Kalau ternyata dia orang yang nggak asik dan nggak cocok sama kamu, kamu bisa batalin gitu aja kan? Nah dulu? Tebak-tebak berhadiah.

Masalah komunikasi dan gadget jelas paling mencolok dalam hal ini. Kalau sekarang begitu mudahnya mengecek kabar orang tua, bayangin deh dulu gimana?

apa kamu pernah ada di jaman ini? via belajarcoreldraw.co

Ya dulu juga bisa sih berkabar, tapi ribet alias nggak semudah sekarang. Mau telpon rumah harus ke wartel negara setempat dulu, telpon antar negara harus keluar berapa duit coba? Sekarang ada BBM, whatsapp, Line, dan wifi ada di mana-mana. Lebih murah sudah pasti. Dimana pun kamu berada, tetap bisa bertukar kabar dengan orang tua. Rindu sudah bisa dimanipulasi, walau sejatinya juga tak teratasi. Kamera pun sudah jauh lebih berkembang. Dulu, ambil foto harus mikir, pelit, dihitung-hitung dan dikira-kira, cukup nggak ya strip filmnya untuk destinasi selanjutnya? Strip film hanya berkapasitas 12, 24, atau 36. Belum lagi mencetaknya butuh waktu yang nggak sebentar.

Urusan VISA dan Fiskal juga jadi perbedaan. Yang anak sekarang pasti bingung, Fiskal itu makanan apa sih sebenernya?

ke luar negeri jadi lebih mudah karena dihapusnya fiskal dan banyaknya promo tiket murah via catatankuliahpraja.blogspot.com

Kalau kamu baru-baru ini aja travelingnya, jelas merupakan hal yang wajar kalau kamu nggak tahu apa itu fiskal. Sebab, jaman fiskalisasi sudah hilang tahun 2011 silam. Fiskal adalah pajak keberangkatan ke luar negeri. Jadi, setiap berangkat ke luar negeri, WNI diharuskan membayar yang namanya fiskal. Dan biayanya mencapai Rp 1 juta. Jadi (lagi), pada jaman itu, orang yang berangkat dan melancong ke luar negeri dianggap mampu.

Soal VISA pun sama, dulu yang namanya keluar Indonesia harus punya VISA dan itu nggak murah. Sekarang, ke negara tetangga sebelah malah bebas VISA. Bahkan, negara-negara yang cukup jauh pun sekarang mulai banyak yang memberlakukan VOA (Visa On Arrival). Bersujud syukurlah untuk poin satu ini.

Terakhir, orang dulu lebih traveling karena kebutuhan. Sedangkan sekarang, kebanyakan traveling hanya untuk predikat kekinian

foto boleh, jangan kebanyakan via images.huffingtonpost.com

Walau nggak semuanya begitu sih, tapi kebanyakan. Orang dulu traveling karena memang merasa perlu dan butuh. Untuk refreshing, menghilangkan kepenatan, dan butuh melihat tempat baru. Sementara saat ini, traveler hits hanya mengikuti tren, demi predikat kekinian. Hiks. Bukan belajar sejarah di tempat jujugan, bukan pula berkomunikasi dengan orang lokal, seringkali mereka malah sibuk dengan gadget masing-masing. Mengambil foto, update status di sosial media, dan entah melakukan apa lagi dengan ponsel pintarnya.

Di balik segala kemudahan traveling sekarang dan repotnya traveling dulu, setiap generasi tetap wajib bersyukur sih karena diberi kesempatan untuk mengenal traveling. Kalau memang niatmu benar untuk traveling, percayalah, segala halang merintang akan mampu kamu hadapi. Ya, satu hal yang pasti sih, semakin membaiknya teknologi, sisi sosial dan kekerabatan justru semakin memburuk. Asal pintar menyiasati, memilah dan menyeimbangkan, travelingmu tetap akan menyenangkan. Selamat traveling, kalian!

Suka artikel ini? Yuk, follow Hipwee di mig.me!