Facebook, Twitter, Instagram, Snapchat, Path hingga Tinder. Kebanyakan anak generasi ini punya akun-akun tersebut. Paling tidak Facebook, lah. Setiap hari memegang gadget, bermain-main di sosial media seakan hidup kita berada di dalamnya.

Bahkan saat traveling pun tak jauh beda. Berada jauh dari rumah, anak-anak generasi digital ini tetap saja fokus pada gadget-nya. Padahal alam sudah melambaikan tangan ke arah mereka. Mengundang mereka untuk menikmati indahnya. Namun, mereka hanya membalasnya dengan tersenyum sesekali dalam frame foto yang mereka ambil. Tanpa sempat meluangkan waktu untuk menikmati dan mensyukuri betapa indahnya bumi ini.

“Zaman sudah berubah. Traveling tak lagi dipandang sebagai kegiatan untuk mengenal dan bersatu dengan alam, namun lebih sebagai cara memuaskan ego pribadi.”

Tak bisa lepas dari gadget jadi bukti kelemahan generasi ini. Meski tengah berlibur jauh, kamu seakan tetap terpenjara oleh hapemu

Hei mbak, kiri, kanan, depan, belakangmu itu indah looh… via www.huffingtonpost.com

Rasanya sulit membayangkan kita hidup tanpa gadget. Selain sandang, pangan dan papan, generasi kita juga sepertinya harus menambahkan smartphone dan koneksi internet dalam bagian dari kebutuhan primer mereka. Tak bisa dipungkiri, kita adalah generasi digital yang tak cuma hidup di dunia nyata, namun juga dituntut perlu menjaga eksistensi di dunia maya.

Advertisement

Dampaknya kemana-mana, membawa smartphone hukumnya wajib. Bahkan ada perasaan nggak sreg dan nggak nyaman sehari saja tanpa gadget. Pun demikian saat liburan. Walau kamu bermain jauh ke tempat yang indahnya sampai membuatmu terpana, pada akhirnya kamu tetap akan mengambil smartphone-mu, kan?

Kamu jadi tak tahu cara berinteraksi dengan traveler lain. Padahal bukankah sejatinya interaksi itu esensi traveling yang sejati?

Semua sibuk dengan gadgetnya. Lupa bahwa yang berada di dekatnya adalah manusia yang bisa diajak bicara. via www.usnews.com

Nyatanya, generasi digital memang lebih sering menghabiskan waktunya bermain dengan gadget daripada berinteraksi terhadap sesama orang. Paling-paling kamu menghabiskan waktu di luar rumah hanya 8 jam di kantor atau kampus doang. Selebihnya, kamu berdiam diri di kamar sembari bermain dengan gadgetmu.

Tak ada yang salah dengan itu, selama kamu masih bisa menjaga cara komunikasimu sama orang. Masalahnya, terlalu lama bermain dengan gadget dan jarangnya kamu berinteraksi dengan orang baru membuatmu kaku saat bertemu dengan traveler lain di tempat wisata sana.

“Padahal esensi sebenarnya dari traveling adalah bertemu orang baru dan berbagi cerita antar sesama traveler. Mendengarkan bagaimana kisah perjalanan mereka dan belajar banyak dari kisah-kisah tersebut, adalah sebuah kenikmatan yang tak terhingga!”

Pun demikian saat kamu menjumpai pemandangan indah di lokasi wisata. Selfie-mu jadi bukti keangkuhan diri!

Pemandangannya indah. Namun kamu seolah tak mau kalah saingan sebagai fokusnya via trevinindo.blogspot.co.id

Walau ada kombinasi pemandangan indah yang mengelilingmu, suasana sejuk pegunungan sedang membelaimu ditambah dengan cuaca yang sedang bersahabat, fokusmu tetap tak teralih dari gadget ditanganmu. Iya, kamu mencoba untuk mengabadikan indahnya lewat kamera smartphone yang kamu punya. Tapi, apakah niatmu sebegitu tulusnya menghargai pesona alam?

Perhatian tiap foto yang kamu ambil. Kebanyakan adalah selfie yang memunculkan wajahmu sebagai pusat dari gambar. Jadi bukti bahwa bukan pesona alam yang kamu agunkan, namun justru mengesankan kamu hendak berakata “Lihat aku!” dalam fotomu. Apa iya itu yang namanya mencintai alam? Atau justru itu tanda keangkuhan dan keegoisan dirimu yang ingin dapat pengakuan dari penghuni dunia maya di era digital ini?

Mencari spot bagus untuk berfoto, kamu tak lagi mengindahkan aturan. Demi eksistensi, larangan kamu langgar tanpa peduli konsekuensi

Semua ini demi mendapat pengakuan ‘keren’ di dunia maya via jokohariyanto.tumblr.com

“Banyak kasus kerusakan alam hingga nyawa melayang yang terjadi hanya demi selfie. Bukti bahwa eksistensi di dunia maya lebih penting daripada alam dan keselamatan jiwa!”

Lagi-lagi dengan dalih eksistensi di dunia maya, kamu sampai berusaha mencari-cari spot foto paling indah. “Pokoknya harus yang kelihatan cantik!”

Demi terlihat ‘cantik’ dan ngeksis, kamu melanggar aturan dan tak mengindahkan larangan yang ada. Tanpa peduli konsekuensinya, kamu nekad menginjak bunga hingga berdiri di tempat berbahaya hanya demi ngeksis di dunia maya. Padahal papan larangan sudah jelas. Namun kamu rela bertaruh nyawa demi pengakuan dari dunia maya.
Sedih, sih. Perkembangan teknologi tak semakin membuat kita berpikir maju, tapi malah mencetak generasi egois yang hanya peduli soal kepuasan diri. Berada di dunia yang serba digital, kita dibentuk menjadi generasi serba instan yang mementingkan eksistensi dunia maya daripada menikmati keindahan alam.