Hei, apa kabarmu, gadis yang selalu berkelana mengikuti ke mana langkah kaki membawanya?

Kita bertemu di tempat-tempat sederhana. Persinggunganku denganmu merupakan mukjizat yang tak terduga

Persinggungan tak terduga via www.huffingtonpost.co.uk

Di antara probabilitas yang tak terbatas mengenai persinggungan garis takdir antar manusia di alam semesta, ternyata Tuhan menakdirkanku untuk berjumpa denganmu. Bukan di tempat-tempat gaul macam mal atau kafe waralaba, melainkan di sebuah warung kopi sederhana berdinding bambu dan beratap nyiur di tepian surga yang lengkap dengan deburan ombaknya.

Aku masih ingat dengan jelas rambutmu yang kecoklatan terbakar matahari itu digelung ala kadarnya. Dan warna kulitmu, kulit yang bersahabat dengan matahari, tampak belang di sana-sini. Ketika biasanya gadis-gadis seusiamu berusaha tampil cantik merawat diri dengan berbagai produk perawatan pencerah kulit, kamu tampak tak terlalu peduli. Beberapa goresan luka yang menghias bahkan membuatmu bangga.

“Masing-masing luka ini punya cerita,” ujarmu.

Advertisement

Tentu saja akutgak bisa membantah hal itu. Memang bekas luka adalah tato yang punya kisahnya sendiri. Di saat orang lain melihat kulit dan rambutmu sebagai kekurangan—mungkin dengan celetukan-celetukan, “Ih, kulitmu kok item sih,” atau “Rambutmu kok kayak anak alay sih, merah gitu.”— justru keunikan itulah yang membuatmu istimewa.

Di balik penampilanmu yang  sederhana, kamu menyimpan pengalaman yang begitu kaya.

Pengelana yang membuat jatuh cinta via realbharat.org

Penampilanmu memang sederhana, bajumu juga cuma yang itu-itu saja. Tapi, kamu sama sekali tak merasa kekurangan. Ketika aku bertanya kenapa kamu cuma punya sedikit baju,

Semua yang aku butuhkan udah ada di sini,” jawabmu sambil menepuk-nepuk ransel yang tidak seberapa besar itu.

Lalu kisah-kisah petualangan pun meluncur dari mulutmu, membuatkku hanya bisa terdiam takjub. Aku yang sejak lama terbiasa dengan hidup yang sistemik dan hanya traveling sesekali, sama sekali tak ada apa-apanya dibandingkan denganmu yang sudah menggeluti traveling sejak dulu. Di usia yang masih begitu muda, kamu punya berjuta pengalaman luar biasa untuk diceritakan, membuatku hanya bisa melongo kagum mendengarkan.

Jangan, jangan mengajakku beradu cerita tentang hal-hal paling gila yang pernah kita lakukan selama hidup. Kita berdua sama-sama tahu siapa juaranya.

Mendekatimu sempat membuatku kelimpungan. Membuatmu terkesan bukanlah pekerjaan yang ringan.

Membuatmu terkesan sungguh tak mudah via www.worldofwanderlust.com

Serius, aku kelimpungan di tahap ini.

Berbeda dengan sebagian besar gadis-gadis yang umumnya kujumpai, kamu tidak terlihat antusias ketika aku mengajakmu makan malam dan nonton bioskop di mal. Kamu lebih senang jalan-jalan dengan motor tuaku, blusukan cari tempat makan yang unik dan jarang dilirik orang.

Aku juga pernah sekali dibuat bingung saat memilihkan hadiah buatmu. Kamu tak begitu tertarik dengan baju bagus, tas bermerk, maupun hal-hal yang berbau mewah lainnya. Tapi, lantas aku sadar, bagimu, tak ada yang lebih bernilai dari sebuah perjalanan— hadiah yang sempurna bagi jiwamu yang bebas.

“Suatu saat, kamu mungkin bakalan bosan sama bajumu, tasmu, jam tangan mahalmu. Mereka juga bisa rusak atau hilang dimaling orang. But good memories stay. Mereka akan selalu tinggal dalam benakmu dan gak akan habis dibagikan ke orang-orang.”

Jujur saja. Kamu begitu mudah membuatku terkesima.

Aku selalu suka saat kita duduk membicarakan masa depan. Jawaban yang keluar dari mulutmu sungguh sangat di luar dugaan.

Menapaki impian. via www.studenthealthblog.com

“Aku kini sedang menapaki impianku, meski jalanku gak melulu mulus. Apa kamu sudah menjalani sesuatu yang kamu impikan?”

Pertanyaan yang kamu lontarkan balik membuatku tertegun. Maksudku, aku merasa nyaman dengan hidupku; aku merasa tercukupi olehnya. Tapi, apakah itu benar-benar mimpiku? Aku bahkan tak pernah memikirkannya. Sementara, kamu rela meninggalkan rumah dan pekerjaan yang mengharuskanmu duduk selama berjam-jam demi petualangan dan pengalaman baru.

Tempat kerjamu bukan lagi gedung perkantoran mewah, melainkan setiap tempat yang kamu singgahi. Apa yang kamu lakukan kini bahkan mungkin gak selaras dengan titel sarjana yang tersemat di belakang namamu.

Tapi, dibalik kegiatanmu yang tampak utopis: berpindah dari satu tempat eksotis ke tempat eksotis lain, bersenang-senang, dan menjumpai orang-orang baru di setiap tikungan jalan, kamu bekerja keras untuk itu, menjadi seorang freelancer. Mendesain, menulis, jadi instruktur yoga—apapun yang bisa kamu kamu lakukan untuk menyambung hidup dan membiayai perjalananmu selanjutnya.

Masa depan belum kamu raba dengan pasti. Tapi, kamu melakukan semua itu demi menapaki impianmu sendiri. Ah, mungkinkah diriku bisa menjadi salah satu bab darinya?

Kegemaranmu berjalan membuka mataku tentang arti rumah dan kenyamanan. Dua hal itu ternyata bisa diciptakan.

Kamu mengajarkan makna rumah. via thewanderingorange.com

Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat tujuan untuk pulang; tempat yang nyaman untuk ditinggali dan membentuk sebuah keluarga. Tapi, bagimu rumah bukanlah properti yang kasat mata. Apa yang kamu sebut rumah kamu temukan di tiap sudut perjalananmu.

“Aku traveling bukan karena ingin pergi sejauh-jauhnya dari rumah—tempatku berasal. Aku pergi karena aku ingin menemukan rumah—tempat singgah di mana aku menemukan keluarga-keluarga baru yang mengajarkanku banyak hal.”

Ah, bagaikan paus pengelana yang mengarungi lautan dan menganggap samudera adalah rumahnya, kamu memandang rumah dan keluarga dengan sudut pandang yang berbeda. Bagimu, keluarga tak hanya sekadar manusia-manusia yang dipersatukan oleh hubungan darah; mereka adalah orang-orang yang memberi makna bagimu sepanjang jalan.

Ya, kehangatan mereka adalah rumah impian bagimu.

Mencintaimu selalu penuh paradoks yang tak terelakkan. Tersesat dan lelah sudah jadi kebiasaan. Melepasmu sewaktu-waktu pun harus siap kulakukan. Dan anehnya, aku tak pernah keberatan

Kamu bagai burung yang bebas via blog.travefy.com

Kamu adalah pribadi yang begitu kukagumi— kuat, cerdas, dan mandiri. Kamu seperti burung yang terbang bebas, sendirian tapi tak pernah kesepian. Kamu haus dengan rasa ingin tahu. Dahaga yang cuma mampu terpuaskan oleh penjelajahan.

Aku selalu kagum dengan punggungmu. Punggung yang selalu menuntunku di setiap perjalanan. Kamu selalu tahu ke mana mesti membawaku. Meski tak jarang kita tersasar, aku tak pernah menyesal tersesat bersamamu.

Lalu aku pun terkesiap saat akhirnya menyadari satu hal. Jiwamu yang bebas itu takkan pernah bisa kutahan lajunya. Suatu hari, kamu akan pergi ke tempat baru nan asing, dengan atau tanpa diriku. Yang mesti kulakukan agar tetap bisa bersamamu adalah menyamakan langkah denganmu.

Mencintaimu, berarti juga harus memiliki keberanian untuk melepasmu.

Tak mengapa, aku rela. Menahanmu di satu tempat seperti menahan laju rotasi bumi. Rasa ingin tahumu akan sekarat jika lajunya ditahan, dan kamu takkan pernah menjadi orang yang sama lagi. Orang yang kucintai karena kemandiriannya.

Biarkan aku yang berusaha menyamakan langkah. Suatu hari, mungkin aku malah bisa menyusulmu. Tak lagi melihat punggungmu tapi juga bisa berjalan bersisian. Sampai saat itu tiba, aku akan berusaha sekuat tenaga, sampai takdir mempertemukan kita kembali di suatu tempat istimewa di bumi ini.

Dan kita takkan terpisahkan lagi.