Mendaki gunung memang sangat berbahaya bagi kamu yang belum berpengalaman dan minim pengetahuan soal pendakian, apalagi pendaki pemula. Seperti yang sering didengungkan banyak pendaki, mendaki gunung itu bukan cuma untuk sok-sokan atau gaya-gayaan!

Tujuan naik gunung adalah turun gunung. – anonim-.

Ya, memang inilah  tujuan naik gunung: turun gunung! Jangan kamu kira banyak berita duka yang datangnya dari gunung adalah karena ketika mereka mendaki. Justru, marabahaya datang ketika para pendaki hendak pulang. Ingat, tujuan naik gunung adalah turun gunung!

Nah, berikut Hipwee Travel akan bagikan beberapa fakta berbahaya dan risiko dari turun gunung, yang jauh lebih berbahaya dari ketika mendaki gunung. Pendaki alay, plis, baca ini!

Bukan cuma bau belerang, licinnya medan, dan gangguan binatang liar. Pembunuh utama para pendaki adalah hipotermia yang nggak tertangani!

Hipotermia dapat menyerang siapa saja! via way-up-north.com

Advertisement

Dari data statistik yang beredar dari tahun ke tahun, pembunuh utama para pendaki adalah hipotermia. Bukan karena aroma gas beracun, belerang, terpeleset dari trek, atau serangan binatang hewan liar seperti celeng dan ular, melainkan cuaca ekstrem dan hipotermia! Kamu nggak bisa menampikkan kenyataan ini. Butuh pertolongan yang sigap dalam menghadapi hipotermia. Hipwee pernah menuliskannya juga buat kamu.

Justru, bahaya datangnya ketika kamu mulai meninggalkan puncak. Tetaplah berjalan di punggungan, ya!

Meninggalkan camping ground, cekrek! via www.yukpiknik.com

Ketika kamu mulai beberes tenda dan meninggalkan puncak atau camping ground, cobalah untuk tetap hati-hati. Karena sebelum berjalan meninggalkan puncak, kamu akan melewati beberapa lembah punggungan yang cukup membahayakan. Tetaplah ambil jarak yang cukup agar kamu nggak terpeleset dalam lembah. Tengoklah ke kanan/kiri, bila di sana cukup gelap, menjauhlah. Dan bila kanan dan kirimu gelap banget, berarti kamu sudah berada di lembah. Kecil kemungkinan buat kamu selamat dari marabahaya.

Ketika kamu baru pengen meninggalkan puncak dan temanmu terkena hipotermia, tetaplah berada di punggungan. Jangan nekat turun gunung dengan keadaan seperti itu!

Hipotermia. Mending istirahat dulu, tunggu sampai sembuh. via livinghighonlife.com

Kalau ada teman atau kamu sendiri yang terkena hipotermia ketika akan meninggalkan camping ground, usahakanlah tetap berada di tempat. Dirikan tenda kembali, nyalakan perapian, dan beri dia kehangatan. Karena, kalau maut telah menjemput, Tim SAR akan lebih mudah mengevakuasi korban di punggungan, daripada di dalam hutan.

Sebisa mungkin, isilah kerilmu dengan 1/3 air untuk minum dan masak. Jangan kebanyakan barang nggak guna dalam kerilmu.

Biarkan kerilmu berbeban! via www.bigwildadventures.com

Manusia bisa bertahan hidup hingga berhari-hari tanpa makanan. Tapi manusia nggak akan bisa hidup tanpa air dan tidur yang cukup selama lebih dari dua sampai tiga hari! Itu juga dengan keadaan yang berbeda. Kamu nggak akan bisa bertahan hidup dengan tanpa air dalam pendakian. Nah, makanya jangan biarkan kerilmu padat akan barang-barang yang nggak terpakai. Melainkan biarkan isi kerilmu sepertiganya adalah air, untuk minum dan memasak. Apalagi kalau kamu sudah turun gunung, maka aliran air nggak akan bisa kamu temukan, kecuali di lembah.

Ketika kamu sudah mulai kehabisan air dalam perjalananmu turun gunung, upayakanlah jangan terlalu sering minum dalam vedples. Cobalah cari sumber air dari tanaman atau apapun yang nggak beracun.

Hemat, Beb! via africageographic.com

Turun gunung memang lebih berat dari yang kamu kira. Nggak seperti naik gunung, turun justru membutuhkan tenaga ekstra yang nggak bisa kamu sepelekan. Kamu akan lebih cepat terserang dehidrasi. Namun, tolong perhatikan persedian airmu. Upayakanlah menyisakan persediaan air hingga sampai ke penginapan. Jangan biarkan perjalananmu tersendat karena kekurangan air. Kalau sudah nggak tahan hausnya, carilah beberapa tanaman penghasil air yang nggak beracun.

Banyak pendaki yang tergoda untuk mengangkut beban keril yang ringan. Justru, ringannya kerilmu adalah awal dari lahirnya malapetaka.

Malah nggak bawa keril. -___- via infopendaki.com

Buanyak banget pendaki yang model begini nih. Apalagi para pendaki pemula yang gegayaan cuma mengejar puncak untuk selfie alay. Mereka menghabiskan semua stok air minum dan masak karena nggak pengin bawa keril yang berat. Mungkin di pikiran para pendaki alay ini, turun gunung ini mudah dan nggak butuh banyak tenaga seperti ketika mendaki. Justru, stereotip kayak gini nih yang bikin bahaya! Ketika kamu turun gunung dan persedian air minummu sudah habis, tamatlah kamu. Karena aliran air hanya ada di lembah, di punggungan nggak ada! Jangan biarkan kerilmu kosong dengan air, ya!

Hal yang jauh lebih berbahaya dan mengerikan dari serangkaian pendakian gunung adalah mindset. Jangan berpikir perjuanganmu telah selesai ketika sudah sampai puncak!

Pulanglah dengan hati-hati, ya! via fifthfloorcooking.wordpress.com

Sesuatu yang membahayakan adalah sebuah pemikiran. Pikiran adalah senjata paling mematikan dari dan bagi setiap orang. Ketika kamu berpikir bahhwa perjuanganmu telah berakhir ketika kamu telah mencapai puncak, maka bahaya akan mengikutimu sebelum sampai ke rumah. Jangan pernah berpikir kamu sudah lega bisa berfoto di puncak dengan berbagai pose. Justru, ketika kamu turun dari gunung perjuanganmu baru dimulai. Perjuangan untuk kembali ke rumah dengan penuh kerinduan.

Beban mana lagi yang kau dustakan;
Rindu adalah seberat-beratnya perjuangan untuk bertemu!

Nah, setelah membaca ini, yakin kamu akan menyepelekan hal yang nggak terduga ini? Perjuanganmu baru dimulai setelah meninggalkan puncak. Jangan meremehkan perjalanan turun dari gunung, ya! Bijaklah menjadi pendaki gunung, keselamatanmu yang utama, Kawan!