Katanya sih, perjalanan itu nggak melulu soal tujuan, bukan tempat yang paling penting, tapi dengan siapanya, alias kebersamaannya. Kebahagiaan sudah pasti jadi tujuan kebanyakan traveler yang kecanduan aktivitas satu ini. Perkara bahagia pun tak hanya ditemukan dari tempat baru semata, tapi dengan siapa kamu menjalaninya.

Kalau solo traveler berarti nggak bahagia gitu? Kata siapa? Perjalanan sendiri bisa jadi lebih memberikanmu banyak makna dalam setiap episodenya. Pengeluaranmu bisa jadi lebih sedikit, dan pengalamanmu malah lebih banyak. Dengan menginap di rumah warga dan membaur bersama mereka misalnya~

Menginap di rumah warga bisa jadi salah satu alternatif menikmati traveling. Kalau sendiri malah kamu lebih beruntung, nggak terlalu sungkan dan merepotkan mereka. Wisata begini namanya ‘Live In’

you should try. sensasinya beda! via ftnnews.com

Coba kalau kamu traveling bersama beberapa kawan, pasti akan lebih memilih menginap di hostel atau bahkan hotel karena bisa membayar patungan. Kalau sendirian, ini bisa jadi alternatif cara berbeda untuk makin menikmati petualanganmu. Bisa jadi lebih irit juga kan? Sebagai informasi untukmu, kultur masyarakat kita itu terbuka terhadap pendatang dan malah cenderung memuliakan tamu. Karena inilah, bisa jadi nilai plus dan pertimbangan tersendiri bagi para wisatawan yang ingin menginap di rumah warga. Memang ada yang sudah ‘membranding’ rumahnya sebagai homestay dan sudah mematok harga, ada juga yang belum. Walau begitu, alangkah baik dan bijaknya kalau kamu tetap memberi beberapa rupiah kepada mereka. Untuk ucapan terimakasih saja. Biar kamu juga nggak melulu bermental gratisan.

Tujuan traveling yang utama ialah untuk mengetahui keaslian kebudayaan suatu daerah. Dan itu akan kamu dapat kalau banyak berinteraksi langsung dengan penduduk setempat

kamu akan menemukan ketulusan bersama mereka via etramping.com

Advertisement

Cara terbaik ya tinggal bersama penduduk asli di daerah yang kamu kunjungi. Lebih dari mendapat pengalaman seru dan mengirit budgetmu, tinggal dengan mereka yang asli lahir dan hidup di destinasi tujuanmu mampu menyisakan kedekatan layaknya keluarga. Bisa juga meminimalisir rindumu pada keluargamu nun jauh di sana. Saat ke Bawean misalnya, kamu bisa tinggal dengan penduduk yang sebagian besar adalah nelayan. Kamu bisa ikut ayah angkatmu berlayar mencari ikan saat malam hari misalnya, hanya demi sesuap nasi. Kamu tak hanya mendapat ilmu dari cerita, buku atau internet saja, melainkan turut andil membantu dan mengalami. Bukankah itu jadi pengalaman berharga yang terkenang seumur hidupmu nanti?

Tinggal di rumah warga bisa memudahkan aksesmu menuju tempat-tempat wisata yang masih perawan, yang belum diketahui para wisatawan. Segalanya akan terasa mudah, asal kamu mampu beramah-tamah

ramah tamah itu harga mutlak via i.dailymail.co.uk

Untuk menuju lereng Merapi misalnya. Kalau kamu tinggal di hotel, kamu akan memerlukan biaya tambahan untuk menyewa alat transportasi menuju lereng gunung. Solusi mudahnya, menginaplah di rumah warga yang lokasinya tak terlalu jauh, ditambah bonus kamu akan menemukan kawan baru yang senantiasa menemani. Tentu saja semua ini ada syaratnya, kamu harus mampu menyatu dengan atmosfer warga setempat dulu. Di sebuah desa dekat lereng Merapi di kabupaten Klaten misalnya, setiap pagi warganya menyapu daun-daun cengkih yang berjatuhan di sekitar rumah, yang kemudian disimpan untuk bahan masakan. Lakukanlah hal yang sama setiap pagi seperti mereka, hal ini penting agar kamu bisa berbaur dan keberadaanmu dianggap oleh mereka.

Syarat lainnya, kamu harus mampu beramah-tamah dan mengikuti pola hidup warga setempat, termasuk upacara adat dan budayanya. Mulai dari memasak, makan, hingga mencuci piring seusai makan. Dengan cara itu, kemungkinan besar kamu bisa menyatu dengan mereka. Jangan pernah memasang ‘benteng’ pertahanan yang terlalu kokoh, hingga membuat warga setempat canggung untuk berinteraksi denganmu. Atau kamu tak kan mendapat pelajaran dan keuntungan apapun, selain nginep murah…

Tak hanya tahu tempat wisata tersembunyi, kamu juga akan sering merasakan kenikmatan kuliner asli yang dimasak oleh warga setempat

yang begini itu MAHAL via thumbs.media.smithsonianmag.com

Kamu harus percaya, tinggal di rumah warga saat traveling akan jauh terasa lebih mengasyikkan daripada menginap di hotel. Meskipun hotel menyuguhkan kenyamanan dan pelayanan komplet, tinggal di rumah penduduk tetap akan menyisakan sensasi tersendiri. Kamu akan tahu bagaimana keaslian kuliner di daerah jujuganmu. Bukan yang ada di warung, cafe apalagi resto, melainkan kuliner yang benar-benar dimasak dengan segenap cinta oleh seorang ibu rumah tangga yang mendedikasikan diri untuk keluarga. Kamu akan beruntung jika telah merasakannya. Begitu juga ketika kamu membeli cindera mata berupa hasil olahan mereka, bukan yang sudah dikomersilkan dengan harga selangit di toko-toko souvenir lainnya.

Di zaman serba canggih serta berteknologi tinggi saat ini, pengalaman traveling dengan cara Live In bisa kamu dapat melalui situs couchsurfing atau Air BNB

masih mau nolak yang begini? via www.responsibletravel.com

Dengan adanya dua situs ini, kamu bisa mengenal di rumah orang yang sebelumnya sama sekali tak kamu kenal. Dengan couchsurfing, kamu bisa live in gratis. Sedangkan dengan Air BNB, live in di rumah penduduk setempat berbayar dengan harga per kamar bisa 50% lebih rendah dibandingkan harga hotel. Tertarik bukan? Supaya tak ada yang dirugikan, sedari awal kamu harus mengomunikasikan semua aturan main selama menginap dengan pemilik rumah agar tak ada salah persepsi. Kamu juga harus tahu diri, hindari pulang larut malam karena akan mengganggu si pemilik rumah yang sedang tidur. Jangan lupa juga untuk jadi orang yang peka dan peduli, jangan pernah segan membantu pemilik rumah yang nampak sibuk mengerjakan sesuatu.raveling berarti menemukan sesuatu yang berbeda. Baik pemandangan, pengalaman, maupun teman-teman. Kalau kamu belum pernah live in atau menginap di rumah warga lokal, sesekali kamu wajib mencobanya.

Travelingmu akan makin menyenangkan karena bisa berinteraksi langsung dengan penduduk lokal. Dari situ kamu bisa tahu tempat minum kopi lokal yang enak, murah dan tenang, pemandangan bagus yang tak diketahui turis kebanyakan, dan cara mudah naik transportasi publik. Satu hal yang harus kamu camkan, live in bukan sekadar hemat biaya, tapi tentang betapa mahalnya berinteraksi dengan penduduk lokal. Selamat mencoba!