Pernahkah kamu naik gunung di Indonesia? Kebanyakan dari kamu pasti sudah pernah mendaki ya. Berapa lama durasi pendakian normal untuk gunung-gunung dengan ketinggian 3000-an mdpl? Ya kalau tidak 2 hari ya 3 hari bisa pulanglah ya, paling lama sih 4 hari. Itu aja rasanya udah capek banget, lengket dan kucel ya gara-gara nggak mandi selama mendaki. Hehehe.

Nah, pernah nggak kamu bayangin bakal tinggal selama 100 hari di gunung? Ya seratus hari alias tiga bulan lebih! Ngeri nggak tuh. Bakalan jadi manusia gunung kali ya. Semuanya manual, masak di gunung, BAB di sana juga, nggak mandi, nggak kerja juga ya pastinya. Hal yang nggak pernah terlintas sedikitpun di pikiran kita ini ternyata bukan fantasi belaka. Ada 3 pendaki yang telah mendeklarasikan diri akan mendaki Merbabu dan tinggal selama 100 hari di sana! Hebat…

Tiga pendaki ini terbilang nekat dengan misinya untuk tinggal selama 100 hari di Gunung Merbabu. Luar biasa ya…

tiga pendaki ke Merbabu via www.kompasiana.com

Tiga orang pendaki asal Kota Salatiga, Kabupaten Semarang dan Kabupaten Gunung Kidul, DIY, mulai hari ini, Kamis (20/7) akan melakukan pendakian di gunung Merbabu. Mereka adalah Raka Metta Wantoro warga Mangunsari, Sidomukti, Kota Salatiga, Bayu Ramadhon warga Tambakromo, Panjong, Kabupaten Gunung kidul dan Dani Adi Kusuma warga Desa Klepu, Pringapus, Kabupaten Semarang. Ketiga pendaki tangguh ini akan tinggal selama 100 hari di Gunung Merbabu. Kira-kira mereka mau ngapain aja ya di sana?

Misi mereka mendaki selama 100 hari pun mulia. Ketiga pendaki ini akan melakukan banyak hal untuk konservasi dan pelestarian alam

tinggal 100 hari di gunung via www.kompasiana.com

Advertisement

Jangan salah sangka dulu, mereka tinggal 100 hari di Gunung Merbabu dengan misi yang mulia. Misi tentang pelestarian alam di Merbabu. Ada beberapa hal yang akan mereka lakukan di sana seperti restorasi Ketheng Songo, sosialisasi pendakian berikut konservasi, upacara HUT Kemerdekaan RI dan upacara Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 2017 mendatang. Detail teknis yang akan mereka lakukan adalah konservasi berbagai jenis tanaman, konservasi beragam binatang, dan konservasi jalur pendakian. Selain konservasi mereka juga akan melakukan perbaikan sanitasi air, pembenahan tanda penunjuk arah hingga sosialisasi terhadap para pendaki agar tak membuang sampah sembarangan, menebang pohon, teknik resque dan etika pendakian. Jelas sebuah upaya pecinta alam yang patut didukung bukan?

Kalau mendaki 100 hari, kira-kira mereka mandi nggak ya? Dan bagaimana mereka nanti memenuhi logistik untuk hidup selama 3 bulan lebih itu?

Harus diakui keberanian mereka bertiga untuk tinggal di gunung untuk melakukan pelestarian alam. Kita harus mengapresiasi sikap mereka tersebut. Namun kalau dipikir lebih jauh, seberapa banyak logistik mereka? Bagaimana mereka mandi dan buang air besar setiap harinya? Apa aktivitas mereka di sana selain pelestarian alam? Lalu apakah mereka bekerja?

Mungkin pertanyaan iseng semacam itu ada di pikiranmu. Perlu diketahui aktivitas sosial semacam ini sangat didukung oleh pecinta alam lainnya. Bantuan logistik pun pasti akan datang ke sana. Izin resmi sudah diterima oleh pengelola Base Camp Thekelan. Beberapa komunitas siap untuk membantu mereka seperti memantau kondisi pendaki tiap bulannya ataupun mengumpulkan bantuan untuk mereka.

Bagaimanapun, aktivitas nekat seperti ini tidak boleh dilakukan sembarang orang. Hanya pendaki yang berpengalaman dan siap secara fisik dan mental lah yang bisa melakukan hal seperti ini. Semoga nggak cuma mereka bertiga yang peduli dengan alam, kita semua bisa mencontohnya dengan upaya yang sederhana, tidak membuang sampah sembarangan barangkali…

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya