Selamat sore, Tuan La Nyalla Mattalitti.

Saya yakin Tuan sedang berada dalam ketakutan, meskipun berada di tempat yang Tuan kira aman untuk berlindung. Ah maaf, maksud saya bersembunyi. Tapi saya mau tanya, mau sampai kapan Tuan bersembunyi?

Saya sengaja menulis surat ini untuk Tuan. Gak peduli Tuan membaca atau tidak, tapi saya harap sih ada kawan atau saudara Tuan yang memberikan link surat ini kepada Tuan. Supaya Tuan sadar kalau keberadaan Tuan sudah dinanti-nanti oleh publik sepakbola Indonesia.

Saya tahu, meskipun Kejaksaan Tinggi Jawa Timur sudah menetapkan Tuan sebagai tersangka, Tuan telah mengatakan untuk menolak mundur dari kursi ketua PSSI. Maksudnya mungkin bagus: tanggungjawab dan amanah dengan jabatan di PSSI. Tapi, Tuan… Apa bedanya Tuan dengan kolega Tuan yang dulu pernah memimpin PSSI di balik jeruji besi.

Tuan keukeuh dan pernah bilang, “Saya tetap yakin. Sepanjang diminta oleh anggota dan amanah itu diminta oleh para voters, saya akan dengan senang hati menyerahkan (jabatan ketua umum PSSI) karena saya ngurus PSSI dengan uang saya sendiri, bukan dengan APBN.”

Lalu, kenapa Tuan malah pergi ke negara yang sering menjadi tempat larinya para koruptor? Bapak bilang menghormati keputusan, tapi malah lari.

Advertisement

Jangan lari, Tuan! via www.berita9.id

Pertengahan Maret lalu, setelah Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menetapkan Tuan sebagai tersangka, Tuan mengaku menghormati keputusan tersebut.

“Saya menghormati keputusan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur yang menetapkan saya sebagai tersangka atas kasus IPO,” kata Tuan.

Tapi kok Tuan mangkir terus dari panggilan. Mbok ya kalau menghormati Tuan hadir untuk mempertanggunjawabkan itu.

Tuan juga pasti pernah dengar istilah ‘berani kalau benar, takut karena salah’. Saya yakin itu, wong ada diajarkan di mata pelajaran Kewarganegaraan – mungkin di zaman Tuan namanya PMP (Pendidikan Moral Pancasila).

Sekarang dengan Tuan pergi ke luar Indonesia dengan status tersangka, anak SD pun bisa menyimpulkan kalau Tuan takut. Takut karena salah, kan?

Pulanglah, Tuan. Seantero Indonesia sudah kadung tahu kalau Tuan ternyata pengecut.

La Nyalla mah gitu. via i1.wp.com

Tuan, cepat pulang, Tuan… Segera pertanggungjawabkan sebelum makin banyak orang yang menilai bahwa Tuan itu seorang pengecut.

Ya, bagaimana tidak, Tuan lari dari tanggung jawab sih. Berani makan uang negara, begitu dikejar aparat penegak hukum, Tuan malah kabur ke luar negeri. Status tuan sekarang pun bukan cuma tersangka, tapi juga daftar pencarion orang (DPO).

Kalau di film-film koboi, foto Tuan pasti bakal tersebar di mana-mana dengan tulisan ‘wanted’ di atasnya.

Tuan, coba tengok sikapnya Zaskia Gotik. Dia aja berani bertanggungjawab buat kesalahanya. Nah, Tanggung jawab Tuan La Nyalla mana?

Malu sama Mbak Zaskia dong, Tuan! via images.detik.com

Tuan, saya yakin Tuan pasti pernah dengar baru-baru ini ada kasus pelecehan lambang negara.

Benar, Tuan. Tersangka kasus itu seorang public figure yang tenar karena goyang itiknya, Mbak Zaskia Gotik.

Tuan mungkin bertanya-tanya, “Apa hubungannya denganku?”.

Memang tidak ada, Tuan. Saya hanya mencoba membadingkan sikap tuan dengan sikap Mbak Zaskia. Tuan harusnya malu. Mbak Zaskia saja berani untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya. Masa kalah gentle sama cewek, jangan jadi pengecut gitu lah..

Akar pohon beringin itu memang kuat, tapi mungkin saat ini sudah saatnya pohon beringin itu tumbang.

Meruntuhkan dinasti. via cdn-2.tstatic.net

Meskipun status Tuan kini tersangka sekaligus DPO, tapi tak sedikit yang membela dan berada di belakang Tuan. Akar pohon beringin memang terlalu kuat. Tapi saya tak pernah lelah untuk menunggu dan membantu meruntuhkannya dengan opini-opini saya. Setidaknya sedikit demi sedikit akar pohon beringin itu bisa dimusnahkan.

Sepakbola memang susah untuk jauh dari yang namanya politik, Tuan. Namun demi kebaikan bangsa dan negara, sudah saatnya Tuan dan kawan-kawan sadar kalau muatan politis di organisasi yang Tuan pimpin terlalu berat dibanding kepentingan sepakbola Tuan.

Saya harap dengan saya menulis surat ini, Tuan bisa segera pulang dan menyerahkan diri. Akan lebih tenang dari pada terus dihantui ketidaktenangan di sana.

Saya sayang sama Tuan, semakin lama Tuan pulang dan semakin keras yang dilakukan penegak hukum untuk menangkap Tuan, semakin besar malu yang harus Tuan tanggung ketika mereka berhasil meringkus Tuan. Makanya saya nyuruh Tuan pulang.

Salam hangat.