Baju pengantin di seluruh dunia hampir selalu identik dengan warna putih dan turunannya (beige, broken white, putih tulang, pinkish white, dsb). Namun berbeda adanya dengan busana dari adat Jawa tradisional yang ini. Busana pengantin Jawa ini tidak seperti umumnya baju pengantin yang berwarna putih, tetapi justru berwarna hitam.

Hitam yang dikenal sebagai warna berkabung malah dipakai menjadi atribut busana pengantin yang identik dengan kebahagiaan dan perayaan bersatunya sepasang manusia. Tapi bukan Jawa namanya kalau nggak ada maknanya. Untuk itulah sebagai pembaca Hipwee yang cerdas, cari tahu yuk.

Mengapa warna hitam? Karena hitam adalah simbol kebijaksanaan dan kesempurnaan dalam falsafah Jawa

hitam simbol kebijaksanaan via www.flickr.com

Warna hitam tidak semata simbol berkabung. Di Jawa beda!

Agak lain dengan busana pernikahan dari daerah lain atau di dunia internasional pada umumnya. Masyarakat Jawa memercayakan warna utama dalam busana pernikahan adalah hitam. Kenapa? Bukan karena si pengantin tengah berkabung atau berduka, melainkan hitam adalah simbol kebijaksanaan dan keluhuran. Diharapkan dengan dipakainya warna hitam, rumah tangga sang pengantin akan senantiasa dilimpahi kebijaksanaan.

Advertisement

Busana adat dari daerah lain misalnya Sumatera, lebih banyak dominan warna keemasan dan merah. Dari Cina dominan warna merah. Serta dari Barat terkenal dengan warna putih yang suci. Di Jawa? Hmm, kita antimainstream, Dab!

Salah satu busana pengantin yang berwarna hitam adalah adat Jogja Paes Ageng Kanigaran

Paes Ageng Kanigaran adalah model baju tertutup dari Paes Ageng biasa. Busana ini dibuat dari bahan beludru atau velvet, dengan ornamen warna emas di beberapa tempat. Biasanya, baju ini berwarna hitam. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa warna lain seperti merah bata, biru dan kuning juga bisa dipakai. Meskipun begitu, dari semua warna tersebut, nggak ada yang bisa mengalahkan aura busana warna hitam. Setuju ‘kan?

Masih dari Jogja, busana Paes Jangan Menir juga berwarna hitam lho


Jangan Menir via poetrafoto.wordpress.com

Paes Jangan Menir memang agak mirip dengan Kanigaran. Yang membedakan adalah busananya yang tanpa dodot. Kebaya panjang menjuntai ke bawah menjadi ciri khas busana ini. Jangan Menir dalam adatnya, dikenakan pada upacara boyongan pengantin dari rumah cewek ke rumah cowok. Namun dalam praktiknya sekarang, busana ini bebas dipakai di resepsi, bahkan di tempat cewek sekalipun.

Versi riasan Jogja yang lebih sederhana, Jogja Putri tetap berkebaya hitam, dengan riasan rambut yang lebih simpel

Lebih simpel via mulpix.com

Busana Jogja Putri adalah versi simpel dari Kanigaran atau Jangan Menir. Riasannya terdiri dari paes tanpa prada berwarna hitam, dengan gelungan sanggul sasakan. Corak Jogja Putri dalam adatnya dikenakan ketika ngundhuh mantu sepasaran (lima hari setelah akad nikah).

Beranjak ke timur, busana Solo Putri dengan riasan rambut yang lebih besar juga mengenakan busana berwarna hitam

Solo Putri via www.hipwee.com

Baju Solo Putri berciri kebaya dengan karakter mirip dengan Jogja Kanigaran, tetapi berbeda dari sisi riasan wajah dan rambutnya. Solo Putri mengenakan sanggul bokor mengkurep dengan hiasan melati tibo dodo. Warnanya juga berwarna hitam seperti busana pengantin Jawa pada umumnya. Terlihat bijaksana betul ‘kan?

Versi lain dari busana pengantin Solo adalah Solo Keprabon. Singkatan dari busana Solo yang dipakai oleh para prabu

Solo Keprabon via www.hipwee.com

Solo keprabon adalah busana khas Jawa yang merupakan model tertutup dari Solo Basahan. Sang pengantin mengenakan dodot dan ditambah kebaya penutup berwarna (mayoritas) hitam dan hiasan melati. Cunduk mentul yang dipakai pun berbeda dengan busana Solo lainnya.

Variasi dari busana serba hitam khas Jawa. Sekarang bisa dibikin berjilbab juga lho

Variasi hijab busana pengantin Jawa via astridputrinda.blogspot.co.id

Kebaya hitam panjang via www.hipwee.com

Ada banyak variasi dari busana warna hitam khas pengantin Jawa ini. Bisa dalam bentuk hijab, kebaya kutubaru panjang, dan sebagainya. Kamu yang cukup kreatif juga bisa mengembangkan busana ini ke dalam bentuk yang kamu sukai. Di era sekarang ini, pakem tidak selalu menjadi tolok ukur kok. Namun yang terpenting adalah, bagaimana kamu memaknai busana berwarna hitam tersebut dalam upacara sakral yang dinamakan pernikahan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya