Sebagai ibu muda, (dan juga calon ibu), kamu akan banyak dihadapkan dengan berbagai macam pilihan tentang ilmu parenting kekinian yang sebagian besar berbanding terbalik dengan apa yang biasanya para ibu kita dulu lakukan terhadap kita saat bayi. Nggak bisa dimungkiri bahwa perkembangan zaman ternyata juga berpengaruh terhadap berkembangnya ilmu tentang cara merawat dan mengasuh seorang bayi.

Begitu juga dengan metode pemberian makan pada bayi. Jika dahulu orang hanya akan dihadapkan pada satu pilihan yaitu menyuapi si bayi dengan bubur (spoon feeding), kali ini ada satu metode baru bernama Baby-Led Weaning (BLW), di mana bayi disediakan finger food dan dibiarkan makan dengan sendirinya. Cara ini semakin populer di kalangan ibu muda Indonesia sejak Andien menerapkan pada anaknya pada tahap pemberian MP-ASI (Makanan Pendamping ASI).

Sebenarnya, apa sih BLW dan bagaimana seorang bayi dikatakan siap untuk menggunakan metode ini? Simak baik-baik ulasan Hipwee berikut ya.

Baby-Led Weaning pada dasarnya merupakan metode yang membebaskan anak untuk makan sendiri dari awal proses secara mandiri

Buku BLW karya Gill Rapley dan Tracey Murkett via nadkhaerunnisa.com

Baby-Led Weaning adalah metode yang membiarkan bayi untuk memimpin seluruh proses, menggunakan naluri, dan kemampuan mereka dalam hal menangani makanan. Pencetus metode ini bernama Gill Rapley dan Tracey Murkett. Bukunya dengan judul Baby-Led Weaning sempat jadi deretan buku terlaris pada 2013.

Advertisement

Dalam pelaksanaanya, metode ini sama sekali tidak perlu sendok, mangkuk dan bubur bayi seperti yang metode konvensional biasa terapkan. Sang bayi dibiarkan duduk, memilih makanan yang disediakan dan memasukannya sendiri ke dalam mulut. Seperti pada metode spoon feeding, metode ini bisa diterapkan saat bayi sudah boleh menerima asupan makanan selain ASI, yaitu saat berusia 6 bulan.

Makanan yang disiapkan bisa berupa apa saja, seperti kentang, wortel, tomat, brokoli, daging-dagingan serta juga buah-buahan. Beragam jenis makanan lainnya akan diberikan bertahap sesuai dengan kemampuan bayi mengunyah serta gigi yang sudah dipunya. Dalam penyajiannya, makanan harus direbus/dikukus terlebih dahulu dan dipotong seukuran genggaman tangan bayi.

Apa sih manfaat dan keuntungan menggunakan metode BLW?

Apa sih manfaatnya? via www.instagram.com

  • Melatih koordinasi tangan, mata, serta motorik halus
  • Membantu bayi mengenal tekstur makanan sejak awal pemberian MP-ASI
  • Membantu bayi belajar mengunyah yang akan berpengaruh pada kemampuan berbicara
  • Melatih bayi menangani potongan makanan yang cukup dimasukkan ke mulutnya
  • Membiasakan makan secukupnya guna menghindari obsessive eating yang berujung pada obesitas

Dalam praktiknya, BLW dilaksanakan bersamaan dengan jam makan orang dewasa. Si bayi akan makan di meja yang sama dan bersosialisasi di meja makan layaknya orang dewasa. Dari sini, secara tidak langsung akan memberikan penerapan attitude yang baik di meja makan sedari kecil.

Meski begitu, BLW juga memiliki beberapa kekurangan, di antaranya;

Jadi kotor via www.reallyrisa.com

  • Pada masa awal, proses ini akan sangat berantakan dan akan banyak makanan yang terbuang
  • Pada sebagian bayi mungkin akan mengalami kesulitan dalam mengunyah beberapa jenis makanan apalagi jika belum tumbuh gigi, seperti misalnya daging-dagingan. Padahal, makanan ini adalah sumber zat besi, di mana sejak usia 6 bulan, bayi sudah sangat membutuhkan tambahan zat besi dari asupan makanannya, karena kandungan zat besi dari ASI sudah tidak mencukupi. Alhasil, metode BLW dirasa kurang pas sebagai syarat pemenuhan zat besi dalam tubuh bayi
  • Akan lebih mudah untuk mengetahui berapa banyak makanan yang masuk ketika menggunakan metode spoon feeding atau menyuapi si kecil langsung
  • Adanya resiko tersedak. Bagaimanapun juga, metode ini memang harus diawasi dan jangan biarkan anak makan sendiri tanpa pendampingan. Maka dari itu, untuk menggunakan metode ini, pastikan anak sudah dapat duduk dengan tegak

Bagaimanapun juga, BLW tidak lepas dari pro-kontra. Fakta lain menunjukkan bahwa metode ini kurang tepat diberikan di Indonesia

Indonesia lebih cocok pakai metode spoon feeding via irelandsbabyshow.com

Menurut Lianita Prawindarti MinLi, konselor Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) seperti dilasir dari laman sakina.web.id, BLW yang digunakan sebagai sebuah alternatif metode pemberian makanan pada bayi awalnya dikenalkan di negara maju seperti Selandia Baru, AS, Australia dan UK, dengan beberapa alasan;

  • Adanya kenaikan tren pemberian makanan padat di bawah usia 6 bulan. Dengan adanya metode ini, orangtua diharapkan akan menunda pemberian makanan padat hingga usia 6 bulan, sesuai dengan syarat pelaksanaan BLW
  • Karena tren pemberian makanan instan makin tinggi, BLW dianggap dapat mengintegrasikan bayi kembali ke meja makan makan bersama dengan orang tuanya dengan menu keluarga dan bukan makanan instan
  • Karena tren statistik angka obesitas meningkat. BLW diharapkan menjadi self-control agar anak yang menentukan jumlah yang dibutuhkan

Beberapa jurnal ilmiah menyebutkan bahwa BLW memang berindikasi positif jika dilakukan di negara maju yang tingkat angka kematian bayi dan balita rendah, angka kesehatan ibu hamil sudah sangat baik, dan angka ADB juga tergolong rendah. ADB merupakan singkatan dari Anemia Defisiensi Besi pada bayi dan anak. Penyakit ini disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh penderita.

Sementara, Indonesia masih memiliki statistik kesehatan yang berkebalikan dengan statistik kesehatan di negara maju. Potensi kematian bayi dan balita akibat malnutrisi masih tinggi dan angka ADB pada bayi di bawah 1 tahun masih 40% (Indonesia bahkan mendapat catatan khusus dari WHO untuk harus mengadakan program nasional pemberian suplemen zat besi bagi bayi dan ibu hamil). Oleh karena itu, pemerintah menganjurkan mengikuti panduan WHO yang mengatur konsistensi/tekstur makanan, variety, porsi dan dengan menggunakan pola metode konvensional atau spoon feeding.

Beberapa ibu memilih untuk menggabungkan kedua metode tersebut, di mana tetap memberikan makanan halus (bubur bayi) dengan cara spoon feeding, dan juga BLW pada saat memberikan menu tambahan seperti buah atau biskuit. Harapannya, gizi bayi terpenuhi, kemampuan motorik halus bayi pun ikut terlatih.

Pada akhirnya, keputusan untuk memberikan makan dengan metode BLW maupun spoon feeding sepenuhnya ada di tangan ibu. Jika baik buruknya sudah diketahui, tentu para ibu tersebut akan mengerti mana yang lebih cocok diterapkan pada anaknya. Bukankah masing-masing anak memang memiliki kemampuan yang berbeda?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya