Untuk kamu dan semua perempuan di dunia yang belum menikah apalagi punya anak, proses hamil dan melahirkan menjadi hal yang sangat membuat penasaran. Seperti apakah rasanya? Sakit? Tegang? Panik? Atau malah takut? Terus, bagaimana rasanya membawa perut yang berisi makhluk hidup selama 9 bulan lamanya? Berat nggak sih lama-lama?

Semua pertanyaan-pertanyaan itu adalah yang paling sering melintas di pikiran banyak orang, khususnya para perempuan. Karena mereka pun sebenarnya sangat ingin tahu seperti apakah rasanya, tapi butuh waktu untuk sampai ke titik itu. Nah, untukmu yang juga punya pertanyaan yang sama, Hipwee Wedding kasih gambaran seperti apakah proses melahirkan itu. Tentunya, penjelasan di sini sangat realistis dan mudah dipahami.

Saat tahu bahwa kamu positif hamil, perjuangan baru telah dimulai…

positif! via tribunnews.com

Setelah menikah, mengetahui bahwa kamu hamil adalah kabar yang menggembirakan. Nyatanya, kabar itu diikuti dengan perjuangan yang bisa dibilang nggak mudah. Biasanya, di awal-awal minggu kamu akan mengalami morning sickness, mual dan muntah tak kenal waktu, makan nggak enak dan jadi lebih sensitif. Makin besar perutmu, morning sickness mulai hilang, makan pun sudah lebih enak, tapi berganti dengan buang air kecil yang makin sering, punggung menjadi pegal dan tidur malam yang nggak nyenyak karena badan menopang beban berat yang baru.

Tapi tahu nggak sih, semua perjuangan ini justru bikin kamu tambah cinta dengan janin yang bahkan belum pernah kamu lihat secara nyata. Hanya lewat layar USG yang kamu sambangi setiap bulannya, dia tumbuh dan berkembang di sana. Apalagi jika kamu sudah bisa merasakan tendangan-tendangan kecilnya.

Advertisement

Pantaslah jika saat itu tiba, kamu akan mengiyakan pepatah ‘I knew I loved you before I met you’.

Setelah 9 bulan terlewati, semua perjuanganmu belum berakhir. Masih ada tugas mulia, melahirkan sang jabang bayi ke dunia

waktunya lahiran via www.cumicumi.com

Meskipun akan berbeda-beda pada tiap orang, umumnya proses melahirkan diawali dengan kontraksi secara periodik. Makin dekat ke proses kelahiran, jarak kontraksi dari yang awal masih 30 menit, berkurang menjadi 15 menit, hingga akhirnya hanya berjarak 1 menit untuk tiap kontraksi yang terjadi.

Seperti apakah rasanya kontraksi saat akan melahirkan? Bahkan untuk yang sudah pernah melahirkan pun akan susah menggambarkan rasanya. Jika harus dicari perasamaanya, rasanya seperti nyeri saat menstruasi tapi 1.000 kali lipat lebih sakit.

Keadaan harus diwaspadai jika pada saat kontraksi awal, ketuban juga sudah mulai keluar. Biasanya, dalam kasus ini, si ibu hamil disarankan untuk bed rest karena kandungan ketuban pada rahim sangat krusial fungsinya.

Meski perut sudah mulai nyeri dan rasanya sudh nggak karuan, masih ada tahap lain yakni menunggu proses pembukaan

kontraksi via id.pinterest.com

Selanjutnya, kamu harus menunggu hingga pembukaan lengkap. Sering dengar nggak kalau ada ibu hamil yang sedang dalam proses melahirkan, dia akan kepo ‘sedang di bukaan ke berapakah sekarang?’

Istilah pembukaan mengacu pada melebarnya mulut rahim sebagai jalan keluarnya bayi. Pembukaan dimulai dari pembukaan 1 hingga 10. Perhitungan ini disesuaikan pada ukuran melebarnya mulut rahim hingga terbuka sempurna (1 sentimeter, 2 sentimeter, dan seterusnya). Proses ini biasanya diikuti dengan keluarnya lendir dan bercak kemerahan, namun tak terlalu banyak.

Pada kehamilan pertama, umumnya proses pembukaan hingga lengkap terjadi selama 10 sampai 14 jam. Hal ini bisa lebih cepat atau bahkan lebih lama. Jika lebih lama dari perkiraan dan pembukaan yang terjadi nggak nambah-nambah, kamu harus masuk ke step berikutnya yaitu diinduksi!

Jika kontraksi alami saja sudah nyerinya setengah mati, bagaimana dengan tahap selanjutnya yang disebut induksi?

induksi via dailymail.co.uk

Induksi merupakan suatu upaya stimulasi mulainya proses persalinan, yaitu dari tidak ada tanda-tanda persalinan, kemudian distimulasi menjadi ada dengan menimbulkan mulas. Cara ini dilakukan sebagai upaya medis untuk mempermudah keluarnya bayi dari rahim secara normal.

Cara penggunaan induksi juga bermacam-macam, ada yang diberikan dengan cara diminum, dimasukkan ke dalam vagina, atau melalui infus. Biasanya, tak lama setelah pemberian induksi, si Ibu akan merasakan datangnya kontraksi yang makin lama makin kencang dan makin hebat kuatnya.

Sebenarnya, kamu tak perlu khawatir membayangkan bagaimanakah sakitnya kontraksi. Karena, dari kontraksi inilah kamu tahu bahwa si bayi juga sedang berusaha keluar mencari jalannya sendiri.

Tapi, bagaimana jika sudah diinduksi dan sudah bukaan lengkap, namun proses melahirkan masih jauh di depan mata? Persalinan vacuum adalah langkah yang ditempuh selanjutnya.

Kadang, tahapan induksi juga tak selalu melancarkan jalan keluar bayi. Ada lagi tahap vacuum yang siapa tahu akan kamu alami

Persalinan ini menggunakan bantuan alat untuk menyedot bayi agar tertarik keluar. Alat yang umumnya digunakan adalah vacuum ekstraktor. Prinsip dari cara ini adalah dilakukan tindakan vacuum (tekanan negatif) melalui suatu cup pada kepala bayi. Pengaturan tekanan harus diturunkan secara perlahan-lahan untuk menghindarkan kerusakan pada kulit kepala dan mencegah timbulnya perdarahan pada otak bayi.

Tapi, beberapa efek negatif yang muncul menyebabkan banyak orang menghindari cara ini. Kalau nggak mau vacuum, dan si bayi masih aja betah di dalam perut, operasi caesar adalah satu-satunya cara.

Masih ada lagui, yakni operasi caesar. Sebuah tindakan mulia yang sering dipandang sebelah mata

caesar via id.pinterest.com

Banyak hal yang menjadi penyebab akhirnya operasi caesar merupakan pilihan yang harus ditempuh. Beberapa diantaranya jika cara-cara yang sudah disebutkan sebelumnya tidak juga bisa membuat si bayi mau keluar. Atau bisa juga karena ketuban yang sudah pecah terlebih dahulu dan kondisi ibu yang tidak memungkinkan (tekanan darah tinggi atau penyakit lain yang membahayakan).

Proses persalinan melalui caesar juga nggak mudah, lho. Rasanya terlalu dangkal jika kita langsung nge-judge kalau Ibu yang melahirkan melalui operasi caesar bukanlah ibu sejati. Karena bohong juga kalau kamu akan terhindar dari rasa sakit. Walaupun diberi suntikan berupa anestesi epidural yang berfungsi untuk memblokir rasa sakit tepat dari bagian tulang belakang sehingga membuat kamu terjaga selama proses caesar, kemungkinan besar kamu masih merasakan adanya tarikan maupun tekanan di bagian perut saat proses berlangsung.

Belum lagi pasca persalinan caesar dimana ada luka bekas jahitan yang sakitnya bukan main. Hmm, nikmatnya melahirkan…

Lalu, bagaimana dengan persalinan normal yang sering kamu pertanyakan mengenai rasa sakitnya?

lahiran normal via dailymail.co.uk

Jika saat kontraksi dan tepat dibukaan 10 bayi yang di dalam kandungan bisa keluar secara spontan, kamu patut bersyukur tidak perlu melewati fase-fase berikutnya yang sangat menguras tenaga (dan materi tentunya).

Persalinan normal pun bukan berarti tak perlu effort yang besar. Kamu harus mengejan sekuat tenaga agar bayinya bisa keluar. Mengejan pun tak boleh asal. Saat bukaan makin besar (mendekati 10), kamu akan merasakan tekanan yang luar biasa, seperti rasa mau buang air besar.

Tapi, please, jangan mengejan, tahan sekuat tenaga. Kamu hanya boleh mengejan sesuai dengan instruksi dokter atau bidan. Dan, si bayi pun akan keluar dengan sendirinya ketika kamu bisa mengejan dengan baik dan benar.

Wihiii, seru juga ya ternyata mengetahui seluk beluk proses melahirkan. Ini cuma gambaran saja. Di mana jika kamu nanti mengalami, pasti akan lebih seru lagi ceritanya. Yang pasti, segala campur aduk perasaan saat melahirkan, nggak bakal ada yang bisa tahu bagaimana persisnya. Yang tahu pasti ya cuma kamu sendiri.

Dengan segala perjuangan dan rasa sakit yang dirasakan, memang pantas ya kalau wanita itu memang makhluk yang sangat mulia. 🙂

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya