“Nak, daripada kamu kelamaan pacaran, mending kamu nikah dan segera jadi pasangan halal saja.”

Jangankan kamu, Tuhan saja sudah lebih dulu menggariskan kapan dan di mana kamu akan bertemu jodohmu. Rasa khawatirmu saja yang kadang berlebihan dan terlalu takut, untuk lebih serius membina sebuah hubungan. Siapapun kelak yang akan berpasangan denganmu, berharap saja bahwa dia merupakan sosok yang baik dan bisa menenangkan hati, saat kalian menikah nanti.

Tapi, benarkah menikah merupakan cara ampuh untuk membuat hidupmu lebih terarah? Simak ulasan lengkapnya di sini!

Menikah itu bukan mainan, tapi menjajal seberapa seriusnya kamu dalam membina sebuah hubungan. Iya, sesederhana itu.

iya, sesederhana itu. via freecreatives.com

Membina sebuah rumah tangga itu jauh berbeda dengan masa-masa pacaran yang enaknya cuma sementara. Kamu butuh kesiapan diri, yang juga diimbangi keteguhan hati. Senantiasa bersabar dalam setiap permasalahan yang ada, tidak hanya menuntutmu untuk lebih bersikap dewasa tapi juga mengajarimu pekerjaan rumah yang sesungguhnya. Percaya atau tidak, menikah itu bukan cuma ajang untuk menghalalkan status, tapi bagaimana kamu menyemai cinta dan kasih sekali seumur hidup.

Advertisement

Tidak perlu berlama-lama membahas soal apa dan bagaimana pernikahan itu, pahami saja dulu apakah benar bahwa menikah akan lebih meningkatkan kualitas hidupmu.

Karena menikah berarti menjadi pasangan halal dan sah, tidak heran kalau banyak yang bilang “Udah, nikah aja. Biar lu ada yang ngelonin…”

nikah, biar bisa bobo bareng. hmmmm via elizabethannedesigns.com

Tak sedikit orang yang memutuskan menikah karena mereka sudah bosan berpacaran, yang isinya cuma kencan. Saking cinta dan sayangnya, kamu pun rela melakukan banyak hal bagi pasanganmu, meski status hubungan kalian masih abu-abu. Inilah dasar, dari kalian yang memutuskan untuk menikah dibalik ketidakpastian hati, materi dan emosi.

Coba bayangkan, seberapa terarahnya pernikahan yang hanya berdasar “biar kita jadi pasangan halal terus bisa bobo bareng” dibanding persiapan matang dan tidak banyak mendengar apa kata orang atau keinginan menggebu yang cuma lewat sekilas.

Buktinya, menikah kadang tak seindah yang dibayangkan. Bertemu dan saling bercakap mungkin takkan sesering dulu, ketika pacaran.

terarah sih, tapi masih dalam bayangan via stylishwife.com

“Aku dan suami sama-sama bekerja. Berangkat pagi pulang malam, begitu terus sampai akhir Minggu. Pertemuan kita cuma sebentar, malam hari ketika akan tidur dan pagi hari yang bertepatan dengan jam berangkat kerja. Awalnya kita biasa saja, tapi lama-lama nggak nyaman juga. Menikah itu butuh banyak kesadaran, apalagi jika kalian berdua masih sama-sama ‘gila’ sama pekerjaan.”

Tara, 27th

Memiliki banyak kesibukan terkadang memang menyenangkan, karena hidup akan jauh lebih berarti. Begitu pun setelah menikah, segala kebutuhan akan segera tercukupi jika kalian makin giat mengumpulkan materi. Lalu bagaimana dengan intensitas pertemuan? Apakah cukup kalau cuma segelintir jam untuk menggantikan 24 jam yang panjang? Coba renungkan lagi. Kecuali kalian sanggup, untuk melewati seumur hidup tanpa saling berbagi.

Sebatas mengandalkan logika kadang tak sebaik yang dikira. Menikah itu untuk kalian berdua, walau tetap butuh restu orang tua.

dengarkan isi hati, bukan logika via youqueen.com

Beberapa orang tua pasti ada yang menginginkan anaknya untuk segera melepas masa lajang, karena berbagai macam alasan. Apalagi untuk anak perempuan, yang dianggap cepat tua dibanding laki-laki yang tetap awet muda. Tidak ada yang salah dari tiap ideologi yang dimiliki mereka, hanya saja tak sedikit anak yang takut menolak karena merasa tersiksa.

Menikah tentu bukan alasan untuk mengagungkan apa kata logika, tapi juga isi hati yang kian menggema di dada. Kamu dan pasanganmu sudah dewasa, akan dibawa ke mana hubungan kalian nantinya merupakan hal wajib yang semestinya ‘hafal’ di luar kepala.

“Jika memang diharuskan menurut semua yang dikatakan orang tua. Lantas, apakah salah kalau kalian mendengarkan apa isi hati yang jauh lebih baik dibandingkan logika?”

Awalnya, menikah adalah ‘ajang’ meminimalisir perbedaan. Tapi, bukannya hidup serumah itu justru mempertemukan dua kebutuhan?

menikah, mempertemukan dua kebutuhan via confettidaydreams.com

Mendedikasikan diri untuk menjadi sepasang suami istri itu tidak sulit, tapi juga tidak mudah. Perlu diingat juga bahwa latar belakang kalian itu berbeda, pun dengan masa lalu buruk yang bisa kapan saja melemahkan kuatnya asa. Senantiasa berpikir positif pada sakralnya biduk rumah tangga itu baik, namun jangan pernah menutup diri bahwa perbedaan di antara kalian masih sangat kental terasa.

Pencurahan rasa rindu juga mungkin takkan semudah dulu, karena kesibukan dan makin dewasanya masing-masing pola pikir. Tidak usah terlalu diambil pusing, renungkan dengan bijak saja jalan mana yang akan kamu ambil, antara menikah sekarang atau menunggu apa yang akan dikatakan takdir.

Pada akhirnya menikah dan bahagia menjadi tujuan akhirmu di dunia. Jika yakin dengan itu, ya sudah jalani saja…

ya sudah jalani saja.. via societybrides.com

Ketika kamu yakin bahwa menikah memang penyelesaian dari masalah, itu sah-sah saja. Menyeriuskan hubungan merupakan yang terpenting buatmu, dibanding rutin makan malam berdua di restoran tapi sama sekali tak ada wacana mengenai tujuan-tujuan dalam hubungan.

Sekali lagi selamat, kamu tergolong manusia hebat yang yakin bahwa menikah membuat hidupmu lebih terarah. Bahkan kamu tak canggung ‘bertabrakan’ dengan usia yang masih sangat belia, guna membulatkan tekad untuk lebih serius menambatkan cinta.

Masih percaya kalau menikah sekarang itu benar-benar membuat hidupmu lebih terarah?