Trending topic di Indonesia saat ini sepertinya sedang tertuju pada rangkaian acara pernikahan dari pasangan yang cukup mendapatkan banyak sorotan. Siapa lagi kalau bukan Raisa Andriana dan Hamish Daud Wyllie. Pasangan ini dikabarkan akan melangsungkan pernikahan pada tanggal 3 September 2017 mendatang. Menariknya, Raisa ternyata mengusung berbagai prosesi adat Sunda sebelum acara pernikahan digelar.

Kemarin, Selasa, 29 Agustus 2017, setelah Pengajian dan Siraman, malam harinya Raisa dan Hamish mengadakan prosesi ngeyeuk sereuh. Sebuah prosesi adat sebagai simbol permintaan restu kedua calon mempelai kepada orangtua masing-masing. Restu, nasihat dan doa yang mengiringi langkah keduanya menuju gerbang pernikahan pun lantas diberikan lewat berbagai benda-benda yang dihadirkan oleh sang pemandu adat.

Pada artikel kali ini Hipwee Wedding ingin mengulas mengenai makna dan rangkaian acara prosesi ngeyeuk sereuh yang membuat Hamish malam itu tampil tampan dengan peci dan juga sarung. Yuk, kita simak sama-sama!

Ngeuyeuk seureuh berasal dari bahasa Sunda yang artinya paheyeuk-heyeuk jeng beubeureuh (bekerja sama dengan pasangan)

Dilakukan di rumah mempelai wanita via www.bridestory.com

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, inti dari prosesi ini adalah sebuah momentum di mana kedua mempelai meminta restu pada orangtua. Restu diberikan melalui nasihat lewat lambang benda-benda yang ada dalam prosesi. Biasanya, prosesi ini dilaksanakan di rumah kediaman mempelai wanita pada malam hari sebelum akad nikah. Prosesi ini dipimpin oleh seorang Pangeuyeuk (juru rias).

Advertisement

Makna hidup orang Sunda sendiri dilandasi oleh tiga sifat utama, yakni; silih asih, silih asuh, dan silih asah. Secara literal diartikan sebagai saling menyayangi, saling menjaga, dan mengajari. Dari rangkaian prosesi ngeuyeuk seureuh ini diharapkan kedua calon pengantin bisa mengamalkan sebuah peribahasa kawas gula jeung peuet (bagaikan gula dengan nira yang sudah matang), artinya hidup yang rukun, saling menyayangi dan sebisa mungkin menghindari perselisihan.

Prosesi ini dimulai dengan meminta izin pada kedua orangtua, dimana Pangeuyeuk akan memberi 7 helai benang kanteh sepanjang 2 jengkal

Meminta restu dengan simbo benang via mahligai-indonesia.com

Selanjutnya, Pangeuyeuk membawakan Kidung berisi permohonan dan doa kepada Tuhan sambil nyawer (menaburkan beras sedikit-sedikit) kepada calon mempelai, simbol harapan hidup sejahtera bagi sang mempelai

Menabur beras via www.shutterstock.com

Tahap berikutnya, calon mempelai dikeprak (dipukul pelan-pelan) dengan sapu lidi, diiringi nasihat untuk saling memupuk kasih sayang

Dipukul pakai sapu lidi via dycone.blogspot.co.id

Kain putih penutup pangeuyeukan dibuka, melambangkan rumah tangga yang bersih dan tak ternoda. Menggotong dua perangkat pakaian di atas kain pelekat; melambangkan kerjasama pasangan calon suami istri dalam mengelola rumah tangga

Menggulung kain via www.bridestory.com

Calon pengantin pria membelah mayang jambe dan buah pinang. Mayang jambe melambangkan hati dan perasaan wanita yang halus, buah pinang melambangkan suami istri saling mengasihi dan dapat menyesuaikan diri

Potong Jambe via www.bridestory.com

Selanjutnya calon pengantin pria menumbuk alu ke dalam lumping yang dipegang oleh calon pengantin wanita

Numbuk alu via www.bridestory.com

Membuat lungkun, yakni berupa dua lembar sirih bertangkai berhadapan digulung menjadi satu memanjang, lalu diikat benang. Kedua orangtua dan tamu melakukan hal yang sama, melambangkan jika ada rezeki berlebih harus dibagikan

Daun sirih via www.bridestory.com

Diaba-abai oleh pangeuyeuk, kedua calon pengantin dan tamu berebut uang yang berada di bawah tikar sambil disawer. Melambangkan berlomba mencari rezeki dan disayang keluarga

Menghitung uang via www.bridestory.com

Kedua calon pengantin dan sesepuh membuang bekas ngeuyeuk seureuh ke perempatan jalan, simbolisasi membuang yang buruk dan mengharap kebahagiaan dalam menempuh hidup baru

Dibuang ke pinggir jalan via dycone.blogspot.co.id

Menyalakan tujuh buah lilin, sebuah kosmologi Sunda akan jumlah hari yang diterangi matahari dan harapan akan kejujuran dalam membina kehidupan rumah tangga

Rangkaian prosesi ngeuyeuk seureuh yang di dalamnya disisipi banyak candaan mengenai hubungan suami istri membuat acara ini sebenarnya tidak boleh dihadiri oleh beberapa pihak. Di antaranya;

  1. Anak gadis
  2. Anak laki-laki yang belum akil balig
  3. Wanita yang telah berumur dan belum pernah kawin
  4. Anak wanita yang belum pernah mendapat menstruasi/haid yang dalam bahasa sunda disebut wanita balangantrang
  5. Wanita atau pria yang sering kawin

Meski ‘hanya’ sebuah simbol, pilihan Raisa dan Hamish untuk melaksanakan prosesi adat ngeuyeuk seureuh patut diapresiasi sebagai salah satu cara melestarikan tradisi Sunda. Untukmu yang juga punya darah sunda kayak Raisa, bisa juga memasukkan prosesi ini sebagai rangkaian acara di hari pernikahanmu kelak.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya