Pesta pernikahan modern di Indonesia itu macem-macem lho. Nggak cuma resepsi berdiri atau standing party yang sering kamu datangi. Tapi tahu nggak sih sebenarnya kita punya budaya resepsi yang sekilas terderngar cukup asing karena memang sudah jarang dilakukan yaitu: pesta pernikahan piring terbang. Bukan piringnya yang betulan terbang lho ya, tapi piringnya ‘terbang’ diantar oleh pramusaji.

Berbeda dengan prasmanan, pesta pernikahan piring terbang lebih mirip pesta pernikahan a la barat dimana tamu dijamu oleh pramusaji tanpa harus mengambil makanan sendiri. Hari ini Hipwee Wedding mau menilik tradisi pernikahan a la Mataram (Jogja Solo) yang hampir punah ini. Cek yuk!

Pernikahan piring terang memang beda, tamu justru datang sebelum acara bisa dimulai

piring terbang via dwipram.wordpress.com

Pesta pernikahan piring terbang kadang juga disebut sebagai pesta racikan, dimana tamu tidak diperbolehkan berdiri. Tamu hanya cukup duduk manis di kursi dan meja sejajar yang dihadapkan ke pelaminan. Kadang ada juga yang mendudukan tamu di kursi bundar atau round table seperti gaya pernikahan ala barat. Sembari duduk menikmati acara, tamu-tamu pun disajikan dengan piring-piring penuh hidangan yang seakan-akan terbang dari tangan pramusaji ke meja tamu. Mungkin inilah kenapa adat ini disebut sebagai piring terbang.

Pernikahan dengan konsep piring terbang sendiri biasanya dilakukan di daerah kerajaan Mataram yaitu di daerah Jogja dan Solo. Meskipun begitu, sekarang di kota Jogja pun prosesi ini sudah jarang ditemui. Prosesi ini hanya bisa ditemui di daerah-daerah seperti Sragen, Klaten, Wonosari, Gunungkidul, dan Solo. Berbeda dengan prasmanan di mana tamu datang setelah acara dibuka, tamu justru datang sebelum acara dimulai pada prosesi piring terbang agar jadwal acara bisa berjalan tepat waktu.

Piring terbang pun punya susunan acara yang harus dilaksanakan dengan tepat waktu

Advertisement

kursi tamu berbentuk saf via www.bumentik.com

Acara piring terbang sendiri harus dilaksanakan dengan susunan-susunan acara tersendiri. Acara biasanya dimulai dengan kirab dari keluarga pria yang memasuki ruangan diikuti dengan keluarga wanita. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan adanya sambutan dari mempelai pria dan kemudian diikuti dengan sambutan dari mempelai wanita dan juga doa.

Makanan pun disajikan ke tamu-tamu dengan menggunakan sistem USDEK

pemuda desa berperan sebagai pramusaji via dna-photovideo.com

USDEK? Apaan tuh? USDEK adalah singkatan bagi urutan disajikannya makanan dalam prosesi pernikahan piring terbang.

  • Unjukan. Pertama, para tamu dimanjakan dengan unjukkan yang dalam Bahasa Indonesia artinya adalah minuman. Unjukan biasanya adalah minuman manis seperti teh yang juga disajikan bersama snack seperti kue bolu dan lumpia. Mirip-mirip appetizer lah ya…
  • Sup. Sajian kedua biasanya merupakan sup manten, sup yang khas disajikan untuk acara-acara mantenan seperti ini. Isinya biasanya berupa, rolade, buncis, jamur kuping, dan juga wortel yang berenang-renang di dalam kaldu ayam yang bening nan gurih.
  • Dhaharan. Dhaharan sendiri adalah main coursenya. Sebagai suguhan utama, tentunya piring yang satu ini berisi hidangan yang berat. Tentunya ada banyak macam dhaharan tergantung yang diinginkan oleh pihak katering mulai dari daging sapi, ayam, krecek, telur, dan juga berbagai macam sayuran.
  • Es. Pernikahan ala piring terbang nggak akan lengkap tanpa hidangan penutup berupa es krim. Es krimnya sendiri biasanya adalah es puter atau es dong-dong yang disertai dengan puding atau agar-agar.
  • Kundur. Kundur artinya adalah pulang. Jadi, setelah es disajikan, tamu-tamu pun bisa pulang ke rumah masing-masing. Sebelum pulang, tamu wajib bersalaman dengan kedua mempelai, berbeda dengan prosesi prasmanan dimana tamu bersalaman dengan mempelai di awal acara.

Keuntungan utama prosesi piring terbang adalah tamu dilayani seakan-akan bangsawan, disuguh makanan dan hiburan-hiburan seperti tarian dan sinoman

piring-piring yang siap diterbangkan via dwipram.wordpress.com

Ketika di acara resepsi prasmanan, mungkin kamu sering bete karena harus berebut makanan dengan tamu lain. Belum lagi ketika kamu datang terlambat dan ternyata makanan yang enak-enak cuma tinggal sedikit. Hal ini tidak akan terjadi dengan adanya prosesi piring terbang. Dalam acara pernikahan piring terbang, tamu tinggal duduk nyaman tanpa harus mondar-mandir mengambil makanan. Tamu juga dihibur dengan adanya tarian dan lagu-lagu di acara tersebut.

Namun bukan tanpa cela, prosesi piring terbang juga sering dinilai sebagai acara yang membosankan dan tidak praktis

Para sinom (pemuda desa) siap mengantar makanan ke tamu via dwipram.wordpress.com

Prosesi piring terbang kadang dinilai sebagai acara membosankan karena memang para tamu harus duduk dan mengikuti runtutan acara pernikahan dari awal sampai akhir. Mereka yang ingin pulang duluan beresiko untuk tidak bertemu dengan dan mengucap selamat kepada kedua mempelai. Ada juga resiko bagi tamu yang datang telat untuk melewatkan beberapa hidangan yang disajikan secara urut.

Nah, itulah sekilas informasi mengenai tradisi pernikahan asal Jogja dan Solo yang sudah semakin jarang dijumpai ini. Kamu yang orang Jawa, terutama Jogja dan Solo nggak ada salahnya untuk mempertahankan budaya yang satu ini lho! Setuju kan?

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!