Banyak wanita yang sudah menikah, mengeluhkan tentang nasibnya yang belum juga diberi momongan setelah beberapa tahun menjalin rumah tangga. Selain kemungkinan adanya gangguan baik pada sang istri maupun suami, pasangan menikah yang telah beberapa tahun belum juga dikaruniai anak diyakini karena faktor yang nggak bisa diprediksi. Beberapa orang percaya jika pasangan ini memang belum dipercayakan keturunan oleh Sang Penciptanya.

Namun, beberapa tahun lalu terdengar kabar bahwa kehamilan bisa menular pada mereka yang memiliki ikatan pertemanan. Atau bisa dibilang bahwa kehamilan itu ‘menular’. Hipwee Wedding berasumsi bahwa kabar ini menarik untuk dikulik, mengingat masih banyak pasangan menikah di luar sana yang berharap untuk bisa memiliki keturunan. Kira-kira begini penjelasannya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehamilan ternyata dapat menular di antara lingkaran pertemanan. Menariknya, teman semasa SMA-lah yang punya pengaruh besar

Teman SMA paling berpengaruh via www.thecut.com

Dilansir dari WebMDNicoletta Balbo, salah seorang postdoctoral researcher asal Milan, Italia, bersama dengan rekannya Nicola Barban, melakukan penelitian untuk mengetahui hal-hal apa saja yang memengaruhi keputusan seorang wanita untuk memiliki anak. Mereka melakukan survey kepada 1.900 wanita Amerika sejak mereka masih di bangku sekolah menengah pada tahun 1990-2009. Ketika para wanita tersebut sudah menginjak usia 26-33 tahun, mereka diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan mereka, termasuk soal pertemanan.

Dari 820 wanita yang menjadi orangtua, rata-rata mereka melahirkan anak pertama di atas 27 tahun dan lebih dari separuhnya menyatakan bahwa kehamilan mereka nggak direncanakan. Para ahli menyimpulkan bahwa mereka yang merencanakan kehamilannya dipicu oleh teman-teman mereka telah memiliki keturunan.

Advertisement

Jika kamu memiliki teman SMA yang sudah memiliki anak, maka kamu akan lebih mungkin “tertular”, dalam arti lebih termotivasi untuk hamil, dengan segera merencanakan kehamilan dalam waktu 2 tahun setelahnya.

Penularan kehamilan yang dimaksud bukan terjadi melalui kontak fisik, namun melalui kontak emosional

Kontak emosional via www.15min.lt

Disebutkan bahwa ketika seorang wanita melihat teman sebayanya hamil dan melahirkan secara positif, maka akan memengaruhi keinginannya untuk memiliki keturunan juga. Pertanyaannya, kenapa peranan teman begitu penting dalam memengaruhi keputusan untuk memiliki keturunan?

Pengalaman melahirkan seorang teman merupakan sumber pembelajaran yang penting, karena ini memberikan informasi yang relevan dan berguna tentang bagaimana menghadapi transisi menjadi orangtua.

Lagipula, kita cenderung ingin menyamakan diri atau membandingkan diri dengan teman yang sebaya dengan kita. Contohnya dengan berpikir, “Wah, di umur segitu dia sudah memiliki anak, masa saya belum”.

Lagipula, wanita cenderung ingin menyamakan atau membandingkan diri dengan teman yang sebaya dengannya. Misalnya, dengan mengetahui bahwa temannya sudah memiliki keturunan sedangkan wanita ini belum, hal ini membuatnya ingin juga segera memiliki keturunan.

Keinginan untuk memiliki anak ini akan terasa begitu kuat 2 tahun setelah teman sebaya melahirkan. Setelah itu, keinginan tersebut lama kelamaan akan menurun.

Disadari ataupun nggak, rencana untuk memiliki anak yang seharusnya menjadi keputusan yang sangat pribadi, nyatanya bisa dipengaruhi oleh lingkungan pertemanan, terutama teman SMA yang masih sebaya dan akrab. Inilah sebabnya, cukup lazim bagi sekelompok wanita yang bersahabat untuk hamil dalam waktu yang berdekatan, karena masing-masing saling menginspirasi dan memotivasi. Namun perlu dipahami bahwa hasil penelitian ini bukan menjadi patokan bagi wanita untuk bisa hamil dan memiliki anak, beberapa faktor lain baik yang bisa dijelaskan maupun yang sifatnya misteri, juga perlu dijadikan evaluasi. Semoga tetap bersyukur, ya!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya