Kalau kamu yang cowok Padang atau Minang atau kamu punya teman orang Minang pasti sering kali ditanya dan bertanya seperti ini sama teman-teman kamu ‘kan?

Kamu cowok Minang, nanti kamu kalau nikah dibeli ya?

Harga kamu berapa sih?

Kok bisa sih cewek yang ‘beli’ cowok gitu?

Pandangan ini sering kali dibayangkan tentang orang Minang. Memang sih, orang Minang terkenal dengan garis keturunan matrilineal atau berdasarkan garis ibu yang lebih banyak mengangkat derajat perempuan. Terus kenapa kok jadi cewek yang seolah membeli cowok? Sebenarnya istilah yang tepat bukanlah ‘dibeli’ tapi ‘dijapuik’ atau dijemput. Namun  tradisi ini hanya terjadi untuk daerah tertentu saja. Kalau di Bugis kita mengenal ada uang Panai’, di mana pihak cowok memberikan harta ke cewek, di Pariaman justru pihak ceweklah yang memberikan harta ke cowok ketika nikah.

Tradisi uang Japuik atau “Bajapuik” ini hanya berkembang di daerah Pariaman saja, di daerah lainnya nggak ada kok

bajapuik atau dijemput via bundogroupdotcom.wordpress.com

Kota Pariaman adalah sebuah kota yang terletak di provinsi  Sumatera Barat, Indonesia. Terletak di pesisir pantai kota ini berjarak sekitar 56 km dari kota Padang atau 25 km dari Bandara Internasional Minangkabau. Berbeda dengan daerah-daerah lainnya yang ada di Sumatera Barat, tradisi dan budaya nikah di Pariaman memiliki keistimewaan tersendiri dalam proses adat nikah.

Advertisement

Ciri yang khas dari adat nikah di Pariaman ini adalah “Bajapuik” yaitu keluarga mempelai pengantin cewek datang ke rumah mempelai cowok dan memperundingkan besaran uang jemputan “Japuik” yang akan dibayarkan.

Jadi tenang saja, kalau seandainya pasangan cowok kamu orang Minang yang bukan berasal dari kota Pariaman. Masih aman, kamu nggak perlu membayar uang jemputan itu.

Uang Japuik itu bukan berarti membeli suami. Banyak makna yang kita orang awam tidak mengerti. Begitulah cara dan budaya mereka untuk saling menghormati dan menghargai

Uang Japuik untuk laki-laki via alfhazona.blogspot.co.id

Uang Japuik merupakan sebuah tradisi perkawinan yang menjadi ciri khas daerah Pariaman. Sebuah proses kewajiban pemberian sejumlah emas, uang atau benda yang bernilai ekomomis dari keluarga pihak cewek kepada pihak cowok yang diberikan sebelum akad nikah dilangsungkan.

Banyak makna yang tersimpan dari uang Japuik dan tidak semuanya bermaksud merendahkan ataupun membeli seseorang. Pada dasarnya ini bukanlah transaksi perdagangan manusia, sebenarnya ini hanya sebuah budaya untuk memuliakan pasanganya dengan caranya masyarakat Pariaman. Bagi orang Pariaman sendiri uang Japuik ini merupakan tanda penghargaan kepada masing-masing pihak yang akan menikah. Bagi orang awam, banyak pesan yang tidak bisa kamu pahami.

Salah satu alasan budaya ini ada, untuk meningkatkan derajat cowok kok. Karena pada dasarnya cowok Minang tidak memiliki banyak hak seperti kaum wanitanya

anak daro marapulai via thebridedept.com

Sebagaimana diketahui, masyarakat Minangkabau memiliki sistem kekerabatan matrilineal yang manganut garis keturunan ibu. Semua harta warisan baik tanah, rumah gadang dan lainnya jatuh ke tangan anak cewek. Sedangkan si cowok tidak mempunyai hak terhadap harta waris yang ada. Karena dalam sistem matrilineal posisi suami (urang sumando) merupakan orang datang.

datang karano dipanggia – tibo karano dianta (datang karena dipanggil – tiba karena diantar) diwujudkan ke dalam bentuk prosesi Bajapuik dalam perkawinan.

Sejarah dulunya, kebanyakan orang Pariaman merupakan orang miskin dan cuma bekerja sebagai nelayan, sehingga untuk mengangkat derajat calon suami mereka tersebut, keluarga cewek pun menjemput dan memberikan sejumlah harta untuk calon suaminya dengan tujuan mengangkat derajat calon suami dan memberikan gelar pada suaminya. Jadi uang yang diberikan tadi akan digunakan untuk membiayai pernikahan mereka. Makna untuk saling menghargai inilah yang menjadi prinsip dasar dari tradisi Bajapuik.

Kalau alasan ini masih kontroversial, uang Japuik di Pariaman terinspirasi dari Nabi Muhammad SAW meminang Siti Khadijah

keluarga bahagia via thebridedept.com

Pariaman merupakan tempat berkembangnya agama Islam pertama di Sumatera Barat. Agama Islam masuk ke Indonesia melalui daerah Aceh. Daerah Pariaman merupakan salah satu tempat berkembangnya agama Islam, sehingga orang-orang Pariaman sangat memegang teguh agamanya. 

Demikian pula tradisi Bajapuik. Tradisi ini terinspirasi dari kisah pernikahan Rasululloh SAW dengan Siti Khadijah. Ketika Siti Khadijah menaruh hati pada Rasulullah dan ingin menanyakan pada Muhammad apakah bersedia menjadi suami Khadijah. Namun Siti Khadijah berniat menghormati Muhammad, ia pun memberikan sejumlah hartanya pada Muhammad agar beliau dapat mengangkat derajatnya dari seorang pemuda miskin menjadi pemuda yang setara dengan Siti Khadijah. Akhirnya Siti Khadijah dan Muhammad pun menikah. Siti Khadijah pun setelah menikah sangat menghormati suaminya dengan memanggil gelarnya, junjungannya.

Uniknya lagi, dulu uang Japuik dihitung bukan dengan uang tapi ameh (emas)

Malam bainai via www.pinterest.com

Dulunya alat ukur untuk uang apuik ini bukanlah dengan uang melainkan dengan ameh atau emas.  Besar uang Japuik itu dihitung sekitar satu ameh setara dengan 2,5 gram emas. Kalau tidak bisa membeli emas akan tetap ditentukan dalam uang rupiah yang nilainya sama dengan hitungan ameh. Semakin tinggi nilai uang Japuik yang diberikan, menunjukkan semakin tinggi status sosial si cowok . Harganya bisa berbeda-beda tergantung dari strata sosial. Jika si cowok merupakan orang keturunan bangsawan atau mempunyai gelar bangsawan seperti sidi, bagindo atau sutan, maka nilai uang Japuiknya akan semakin tinggi.

Tenang saja, untuk jumlah nilai uang biasanya diberikan bisa dimusyawarahkan  tergantung antara dua keluarga. Semuanya bisa dibicarakan kok

alek Gadang via tomatoheart.com

Kalau dulu uang Japuik ditentukan oleh gelar bangsawan. Sekarang nilai uang Japuik ditentukan oleh tingkat pendidikan, pekerjaan dan jabatan si cowok di dunia. Pada zaman sekarang, nilai uang jemputan bisa diganti dengan uang rupiah biasa, hewan atau kendaraan. Besar uang Japuik misal profesinya orang biasa, dia dijemput dengan uang senilai Rp. 5.000.000, sedangkan bila ia adalah sarjana, guru, dokter akan dijemput dengan uang senilai Rp. 35.000.000-Rp.50.000.000.

Namun nggak perlu khawatir, semua ini permasalahan uang Japuik ini bisa dirundingkan antara kedua keluarga yang akan menikah.

Hal ini yang belum banyak orang tahu. Uang Japuik itu memang diberikan ke pada pihak cowok, tapi uang itu nanti akan dikembalikan lagi ke pihak cewek

Bahagia dunia akhirat via thebridedept.com

Pada praktiknya memang ada pemberian uang Japuik dari pihak cewek kepada pihak cowok dalam ada pernikahan adat Pariaman. Namun uang itu akan dikembalikan lagi dalam sebuah upacara adat yang disebut manjalang mintuo dan proses ini dilakukan setelah acara pernikahan kedua mempelai selesai dilakukan.

Setelah acara pernikahan selesai, ada tradisi Manjalang Mintuo. Pada acara ini lah uang japuik akan dikembalikan dalam betuk perhiasan kepada anak daro yang terkadang jumlahnya dilebihkan oleh ibu marapulai.

Bisa dikatakan sebagai bentuk penghormatan atas pemberian uang Japuik oleh pihak si cewek sebelum proses menikah lalu, si pihak cowok akan memberikan atau mengembalikan uang Japuik yang pernah diberikan dulu dalam bentuk perhiasan kepada pihak si cewek. Hebatnya lagi, dalam proses ini perhiasan yang diberikan biasanya akan melebihi uang Japuik yang diberikan pihak cewek kepada pihak cowok dulu.

Mungkin bagi kita yang tidak mengetahui secara pasti makna di balik tradisi uang Japuik di Pariaman itu akan berpandangan berbeda-beda. Nah, mungkin kamu pernah punya pengalaman atau punya teman yang memakai tradisi ini? atau kamu punya saran dan pendapat mengenai tradisi ini, silahkan share dan komen di bawah ini ya!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya