Pernah merasa gagal berulang kali, sampai nyaris menyerah dan putus asa?

Kalau ya, kamu nggak sendirian karena saya pernah mengalami episode patah hati karena merasa usaha maksimal yang dikerahkan ternyata berbuah sia-sia. Dalam kasus saya, adalah gagal menerima beasiswa. Bukan sekali dua kali, tapi BERKALI-KALI. Pedihnya, beasiswa itu bisa saja sampai di tangan, namun karena semesta berkata lain jadi meleset dan nggak kesampaian. Buat saya, lebih sedih ‘hampir’ sih daripada nggak dari awal.

Advertisement

Curhatan kali ini mungkin akan lebih panjang dan terkesan receh, tapi semoga bisa diambil hikmahnya. Barangkali ada yang sedang memperjuangkan sesuatu dan merasa belum nemu titik terang…tenang, Boy. Saya juga pernah mencicipinya dan tahu pahitnya rasa gagal sementara itu. Tapi tolong garis bawahi ini, saya menolak menyerah meski ingin dan pada akhirnya justru mendapatkan buah yang lebih manis. Baca terus, biar kamu makin yakin bahwa usaha nggak pernah mengkhianati hasil!

Saya tumbuh di keluarga yang keras dan menerapkan standar tinggi. Sayang, orang tua pelit pujian dan menganggap apapun pencapaian saya ya memang seharusnya begitu

Mau ini itu, banyak sekali! via www.pexels.com

Dan itu memicu saya jadi mahasiswa straight A saat kuliah, karena saya ingin buktikan ke orang tua, saya bisa lebih baik dari ekspektasi mereka. Merasa familiar dengan perasaan semacam itu? Hehe. Ya, selain menyasar nilai sempurna, saya juga getol banget berburu beasiswa. Apa aja beasiswa di jurusan saya kala itu, yaitu Bahasa Korea, saya coba. Dan saya benar-benar serius soal itu. Saya belajar, saya mempersiapkan dan menulis segala esai dengan sungguh-sungguh. Demi apa? Saya ingat betul kala itu, mungkin selain karena ingin ke Korea gratis, saya juga ingin membuat orang tua bangga. Yang ternyata agak keliru…

Kenapa? Baca terus ya!

Saya ingat betul dosen saya mengingatkan kepada setiap calon penerima beasiswa bahwa alasan ingin menerima beasiswa untuk menyenangkan orang tua bakal ditolak. Hmm. Meski ini pula yang saya rasakan, terpaksa saya simpan deh alasan ini

Sedihhhhhh via www.pexels.com

Advertisement

Padahal prestasi bagus untuk menyenangkan orang tua itu baik kan? Dulu saya pikir begitu. Tapi ternyata nggak. Setelah saya pikir-pikir lagi, itu adalah pikiran congkak dan egois. Gol saya bukan untuk benar-benar mengembangkan diri dan bermanfaat untuk orang lain, tapi hanya sekadar untuk pembuktian diri. Bisa jadi, lantaran motivasi keliru, Tuhan memblokir semua jalan saya, yang saya kira sudah saya jalani dengan sepenuh hati, jiwa dan raga.

Sedihnya, saya beberapa kali diumumkan sebagai penerima beasiswa dari sejumlah seleksi yang saya ikuti. Literally, namanya sudah dicetak dan ditempel lo

KZL kan gagal berangkat via dailyillini.com

Ada satu beasiswa yang bikin saya panas dingin saat terpilih. Beasiswa itu menawarkan beasiswa penuh S1, dari akomodasi, tiket pesawat, uang kuliah sampai biaya hidup bulanan di salah satu universitas di Korea Selatan. Mimpi banget nggak sih? Saya ingat kala itu saya senang bukan main, dan bergegas mempersiapkan semua berkas yang dibutuhkan sampai membuat surat keterangan sehat pula ke dokter. Dokternya sampai sudah kasih selamat dan kasih wejangan singkat segala (ciehh) pas menandatangani surat keterangan sehat saya. Pokoknya, saya merasa this is it! Saya berhasil.

Dosen saya meminta waktu sekitar beberapa minggu untuk memproses berkas saya. Tunggu 2-3 minggu, nggak ada kabar. Sampai akhirnya saya dipanggil dan diberikan kabar duka 🙁

via GIPHY

Dosen saya mengaku lupa mengurus berkas saya sehingga kala itu, calon penerima beasiswa dari universitas saingan yang akhirnya diberangkatkan karena keterlambatan pengurusan berkas dari universitas tempat saya berkuliah saat itu. Rasanya jangan ditanya. Mata saya sudah berkaca-kaca. Andai tidak gengsi, mungkin saya sudah menangis lebay di ruang dosen.Haha. Pedih, Sister. Nggak jadi kuliah ke luar negerinya. Asem.

Itu yang pertama. Berikutnya saya masih nggak kapok mendaftar lagi, beasiswa dan sekali lagi keterima untuk pertukaran beberapa bulan. Sedihnya, kasus serupa terulang

via GIPHY

Ini patah hati berdua, karena ada 1 orang teman lagi yang harusnya berangkat bersama saya. Lagi-lagi saya gagal berangkat karena satu dan lain hal. Pedihnya jangan ditanya!

Impian saya itu lantas dikubur dalam-dalam, sampai lulus dan bekerja. Sampai suatu ketika, muncul di kota saya pengumuman seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara program Kemenpora. Yah, meski bukan beasiswa studi, saya putuskan untuk mencoba

Coba lagi! via www.pexels.com

Kali ini dengan strategi dan hati yang berbeda. Nothing to lose, apapun yang terjadi saya nggak banyak banyak berharap. Meski demikian, saya tetap dong berlatih semampunya, agar bisa menghadapi tes tanpa terlihat memalukan karena saingannya cukup banyak dan jauh lebih menjanjikan (kelihatannya). Saya ingat saya sempat latihan nari tradisional kilat 3 hari, bahkan sampai sampai subuh dibela-belain biar hafal semua gerakan yang ada. Tapi motivasinya sudah beda. Cuma biar aku bisa nginjek kaki di Korea saja, hehe.

Lucunya, saat Tuhan sudah membuka jalan, semua terasa mudah dan effortless. Berusaha memang penting, berdoa itu harus tapi kehendak Tuhan yang memuluskan segalanya

Wawancara via blog.collegevine.com

Saya lolos seleksi tanpa banyak usaha. Ya, pertanyaan yang diajukan interviewer ternyata adalah bidang yang saya kuasai, ujian tertulis bahasa Inggris ternyata diambil dari soal latihan TOEFL yang kebetulan saya pernah kerjakan tahun sebelumnya saat saya kursus Bahasa Inggris (padahal instansi pemerintah dan lembaga kursusnya tidak ada afiliasi apapun lo!) sehingga saya bisa selesai mengerjakan dalam kurun kurang dari setengah jam, LOL. Saya merasa heran karena saya merasa begitu percaya diri. Tapi karena kapok kepedean, saya berusaha tetap berpikir bisa saja saya gagal. Apapun hasilnya, saya terima.

Saat pengumuman ditempelkan di depan Kantor Dinas Pemuda dan Provinsi Kalimantan Tengah, betapa bahagianya hati ini saat nama saya terpampang di sana. Ada beberapa negara tujuan, dan masing-masing provinsi hanya mengutus 1

via GIPHY

Ah, usaha memang nggak mengkhinati hasil!

Setelahnya, semua persiapan dan proses saya jalani. Dan saya bersyukur, saya tidak kapok mencoba dan diganjar dengan meraih kesempatan yang lebih luar biasa bagi saya. Terpilih jadi Duta Muda Indonesia untuk Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) mewakili provinsi masing-masing itu peringkatnya setara dengan Paskibraka nasional dan dapat lencana yang sama. Senangnya saya yang bukan apa-apa ini being honoured untuk bisa ketemu orang-orang hebat dan penting!

Menjadi perwakilan PPAN yang resmi diutus negara sebagai duta muda memberikan segudang pengalaman berharga. Saking berharganya, sampai selepas program sebulan ini bakal ada yang namanya program sick

Seoul, 2014 via www.facebook.com

Berkat kesempatan ini saya bisa bertemu dan duduk mengobrol dengan gubernur provinsi saya, kemudian bersama 34 teman dari provinsi lain bertemu dengan Menteri Olah Raga, Imam Nahrawi di Jakarta sampai mengunjungi Kedubes RI dan bertemu dengan staf-staf kementerian Korea di Seoul.

Yang tak terlupakan adalah semua fasilitas terbaik yang kami dapatkan dari penerbangan hingga akomodasi, serta akses istimewa ke tempat-tempat penting kenegaraan yang mungkin bakal sulit diraih jika saya ‘hanya’ mendapat beasiswa. Tak ketinggalan, pengalaman bertemu pemuda-pemuda hebat dari seluruh penjuru negeri yang berangkat bersama saya. Bersama mereka, saya merasa kayak remah rengginang :’)

Inti dari tulisan ini adalah, jangan pernah merasa nggak mampu, merasa gagal dan malas mencoba. Sekali gagal, bisa jadi hanya timing-nya belum pas. Percayalah, kalau Tuhan sudah berikan jalan, yang mustahil pun bakal jadi terasa mudah. Kini saya yakin, masih ada lebih banyak kesempatan terbuka yang bisa saya raih kalau terus berusaha. Semangat!

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya