Apakah kamu punya mimpi untuk menjadi seorang pemimpin yang sukses? Menjadi pemimpin bukanlah menjadi orang yang berkuasa dan dan ongkang-ongkang kaki kepada bawahannya, namun tugas dari seorang pemimpin adalah tentang memimpin, menyatukan, memotivasi, mengarahkan, hingga menguatkan apa yang sedang ia pimpin.

Saat mengemban tugas sebagai seorang pimpinan organisasi, kantor, atau bahkan perusahaanmu sendiri, ada banyak hal yang bisa membebani pikiran dan mentalmu. Banyak bayangan buruk akan kegagalan, ketidakpercayaan diri, kekurangan waktu, stres, terasingkan, dll. Tapi apapun risikonya, semua harus berani kamu hadapi demi bisa mencapai tujuan bersama.

Ya, memang tak mudah melakoni peran sebagai pemimpin, tapi kamu tak perlu khawatir karena sesungguhnya setiap orang memiliki potensi untuk menjadi seorang pemimpin. Ini hanya soal bagaimana dirimu mengembangkannya. Nah, berikut ini adaah beberapa hal yang perlu kamu pelajari jika kamu ingin menjadi seorang pemimpin yang baik dan teladan.

1. Jadilah pemimpin yang asyik bagi tim kerjamu. Tuntun dan bimbinglah mereka menuju visi kerja yang jelas.

Tuntunlah menuju visi yang jelas via www.huffingtonpost.com

Sosok pemimpin saat ini itu sudah sangat berbeda jauh dengan jaman dulu. Sekarang, kalau kamu ingin sukses menjadi seorang pemimpin yang disegani, dihargai, dan dikagumi kamu harus bertransformasi menjadi sosok pemimpin yang mengasyikkan bagi anggotamu. Nah, jadi pemimpin yang asyik bukan berarti mengacuh-tak-acuhkan tujuan berorganisasi, karena hakikat berkumpul adalah memiliki tujuan bersama yang ingin diwujudkan.

Advertisement

Seorang pemimpin asyik ialah pemimpin yangbisa dengan cerdasnya membuat pekerjaan anggotanya itu mengasyikkan. Pekerjaan yang asyik itu sudah pasti pekerjaan yang punya visi yang jelas, dan kamu mampu mem-break down-nya menjadi langkah-langkah yang konkret sehingga tim dapat berkerja efektif dalam mencapai tujuannya.

Salah banget kalau “Pemimpin asik” itu diartikan sebagai seorang pemimpin yang selalu mengajak teman-teman tim kerjanya foya-foya atau nongkrong doang. Itu sih kelewat asik, dan malah nggak bermanfaat.

2. Kenali tujuan utama dari organisasi yang kamu pimpin. Karena tanpa adanya tujuan yang jelas, sama saja kamu menyesatkan anggotamu.

Kenali tujuan organisasinya via www.flickr.com

Setelah punya pondasi dari hal visi, yang pertama harus dilakukan adalah mengenali “rumah sendiri.” Kenali dan pahami baik-baik tujuan organisasi dimana kita terlibat. Organisasi dengan tujuan mencari profit memerlukan kerja yang efektif dalam penggunaan waktu dan biaya. Setiap detil pengeluaran harus dibandingkan dengan pemasukan yang akan diperoleh.

Sedangkan organisasi yang bersifat kekeluargaan atau bahkan hore-hore, lebih fleksibel dalam mengatur rencana kerja, karena pada prinsipnya organisasi dibuat untuk memberikan kenyamanan pada masing-masing anggotanya. Misalnya saat sesi makan bersama, dalam paguyuban daerah berikanlah fleksibilitas waktu yang lebih luwes dibanding dengan tim sponsorship acara pensi kampus. Jangan buru-buru ke acara selanjutnya jika para anggota masih asik berbincang.

3. Ukur besar kecilnya tim. Walau kamu pemimpinnya, kamulah orang orang pertama yang harus bisa menyesuaikan diri dengan tim kerjamu.

Ketahui besar kecilnya tim kerjamu! via webdesign.tutsplus.com

Masih dalam tahapan pengenalan “rumah sendiri.” Memimpin organisasi besar, dengan jumlah anggota yang banyak, tentu berbeda dengan memimpin organisasi kecil.  Dengan jumlah anggota lebih dari 40 orang misalnya, kita tidak bisa banyak memberikan excuse terhadap aturan yang sudah digariskan.

Suka maupun tidak suka terhadap aturan menjadi barang yang lumrah ketika banyak kepala bekerja bersama. Bersiaplah, karena tak jarang kritikan, cercaan, hinaan, atau sekedar dikucilkan, menjadi hal yang harus dihadapi.

Yang harus dilakukan terlebih dulu adalah, menerima, tanpa harus memperkeruh suasana.  Sebaliknya, dalam mengelola tim kecil tidak bisa disamakan dalam mengelola tim besar, kesan kaku, dan nggak asik justru akan memberikan ketidaknyamanan.

4. Anggota tim kerja adalah teman dan keluarga bagimu. Jangan lupa untuk memberikan perhatian-perhatian kecil di luar urusan pekerjaan.

Tim kerjamu juga saudara dan teman bagimu via www.businessinsider.sg

Salah satu keuntungan dalam mengelola tim kecil adalah kita dapat menjaga kualitas keintiman lewat berbagai kejutan simpati. Hal ini menumbuhkan rasa kekeluargaan, tidak hanya melulu hubungan profesional antar bos dan anak buah.

Kita dapat secara diam-diam menandai kalender dengan hari ulang tahun, makanan kesukaan, dan hal-hal spesifik lainnya tentang anggota organisasi atau perusahaab yang kamu pimpin.

Misalnya, memberikan semangat saat salah satu dari mereka bermain futsal, menyisihkan uang untuk mentraktir minuman kesukaan, atau kunjungan dadakan kesalah satu rumahnya secara dadakan.

5. Pemimpin harus jago berkomunikasi. Bukan asal berkomunikasi, tapi harus tahu bagaimana cara menumbuhkan rasa antusiasme pada anggotamu!

Seorang leader harus bisa menumbuhkan rasa antusias via www.eclipsehr.ca

Kemampuan komunikasi sangat diperlukan dalam mengelola, megarahkan, dan memotivasi tim. Tanpa mengecilkan banyak aspek yang lain, dari sekian banyak hal penting dalam komunikasi, antusiasme merupakan salah satu kunci utama.

Komunikasi yang baik akan mengarahkan kepada hubungan inter maupun intrapersonal yang baik. Percaya atau tidak, membangun antusiasme pada anggota-anggota bisa dilakukan dengan memilih nada dasar bicara yang tepat.

Contohnya mengambil nada dasar “sol” dalam pembukaan dengan kawan sejawat, dipadukan wajah yang sumringah dan penuh semangat. Temukan perbedaan reaksi lawan bicara dengan saat kita menggunakan nada “do” dan wajah datar.

6. Ingat, pemimpin itu nggak sama dengan bos. Jadilah pemimpin yang mau jadi bagian dari tim kerja!

Jadilah bagian dari tim kerja via www.7262.com

Seringkali pemimpin salah menempatkan posisi. Seorang merasa lebih unggul segala-galanya ketika menjabat sebagai pimpinan, menempatkan dirinya di atas dari orang-orang yang dia pimpin. Kesalahan ini membuat seorang pemimpin menjadi bossy, tukang perintah, tak mau menerima kritikan, dan  eksklusif.

Pemimpin yang baik dan asik tentunya menjadikan dirinya bagian dari tim yang dia pimpin, susah-senang bersama, tidak ada nada penghakiman kepada bawahan, membuka ruang selebar-lebarnya untuk diskusi dan menerima kritikan. “Yuk kerjain bareng” bukannya “Bisa kerja gak?” atau “Ada masalah apa?” Bukannya “Itu kan  urusanmu!”

7. Mulutmu adalah harimaumu. Apa yang sudah kamu ucapkan, harus bisa kamu pertanggungjawabkan di hadapan tim kerjamu.

Pemimpin harus konsekuen dengan kebijakannya via hdwallpapersfit.com

Pemimpin tidak akan bisa lepas dari pembuat kebijakan. Pemimpin yang baik harus menghayati dan mempertimbangkan setiap kebijakan yang dikeluarkannya, konsekuen, integritas, dan mengerjakan apa yang dikatakan. Misalnya, atas kebijakan tidak boleh menggunakan sandal di kantor, namun sang bos dengan wajah tanpa dosa malah memandori kesana-kemari memakai sandal.

Pemimpin yang baik adalah “korban” pertama atas apa yang dia katakan kepada bawahannya. Seorang pemimpin harus bisa jadi contoh pertama bagi para anggota timnya. Bukan jadi orang yang seenaknya sendiri hanya karena dirinya merasa memiliki jabatan lebih tinggi.

8. Jikalau di tengah jalan tiba-tiba peri cinta menghampirimu, kamu harus mau mengalah. Tetaplah bersikap profesional sekalipun itu pedih!

Sabar dulu karena harus profesional. via www.careerealism.com

Sering pasti ya nemuin cinlok dalam satu organisasi. Gimana enggak, kadang kita diharuskan kerja intensif selama berbulan-bulan, dari yang cuma bikin draf bareng sampe angkat-angkat barang bareng, Yang tadinya berat jadi ringan. Yang tadinya biasa aja jadi kesengsem juga deh, ciyeee….

Uh, tapi fenomena ini sebisa mungkin harus dihindari oleh pemimpin. Menjalin asmara dengan anggota saat organisasi sedang aktif bisa bikin suasana yang tidak kondusif dalam tim. Kalau hubungan asmara staf dengan staf, okelah masih bisa ditolerir karena  masih bisa dikontrol kalau sewaktu-waktu kerjaan mereka berantakan.

Namun ketika dalam posisi memimpin, bisa jadi anggota lain merasa canggung ketika mau sekedar sharing dengan kita, takut si pacar yang juga dalam satu tim cemburu. Berantakan cuma karena perkara cinta kan nggak lucu. Sabar, tunggu semuanya kelar dulu. Bagaimanapun pemimpin harus tetap profesional, karena itulah konsekuensi yang memang harus ditanggung.

9. Walau kamu adalah pimpinan, bagaimanapun juga kamu masih seorang manusia. Jangan pernah lupa mengucap kata “maaf, tolong, dan terima kasih”.

Jangan upa ucapkan maaf, tolong, dan terima kasih via futuresight.co

Yap. Sepertinya sudah sangat umum, tiga kata mutiara yang wajib dibudayakan adalah “maaf,” “tolong,” dan “terima kasih.” Dalam menjalani kehidupan bersama, tak bisa dipungkiri akan banyak terjadi kekhilafan, maka penggunaan kata “maaf” dan “tolong” sudah sepatutnya digunakan sebagaimana mestinya dalam berkomunikasi. Tak lupa, untuk memberikan apreisasi atas apa yang sudah dikerjakan rekan, ungkapan “terima kasih” dengan lembut.

Meskipun sepele, ini sangat berarti bagi para anggota. Kata-kata tersebut mencerminkan bahwa kamu adalah sosok pemimpin yang sangat toleran dan peduli kepada para anggotanya. Tentunya kata-kata tersebut juga harus diiringi dengan sikap yang sama. Setidaknya, kamu bisa menjadi sosok pemimpin yang hangat bagi para anggotamu.

10. Bisa jadi pemimpin yang ideal itu memang perlu jam terbang yang banyak. Setiap ada kesempatan, jangan ragu mengajukan diri untuk jadi pemipin.

Banyak belajar dari pengalaman menjadi seoarng pemimpin via blog.octanner.com

Menjadi pemimpin ideal harus melalui banyak fase yang tidak mudah. Berbagai aspek dalam kepemimpinan tidak lahir secara instan. Kematangan dalam seni berkomunikasi, kepercayaan diri, memotivasional, mental psikologis, ketahanmalangan, keoptimisan, dan wawasan yang luas.

Apalagi dengan perbedaan jenis organisasi yang dipimpin, tentu memiliki banyak penyesuaian dalam memimpin sebuah tim. Oleh karena itu, jajaki semua kemungkinan dalam memimpin tim dari berbagai jenis keunikan: tim kecil, tim besar, di kampung, di kota, tujuan sosial, tujuan komersial, jangka pendek, jangka panjang, bidang seni, bidang akademik, bidang olahraga, dan masih banyak keunikan lainnya.

Disadari atau tidak, setiap dari kita sejatinya adalah pemimpin. Jadilah pemimpin yang baik, menginspirasi, dan dicintai oleh tim kerjamu. Jaman sekarang, pemimpin itu udah nggak jaman lagi nyeremin. Yuk, kita berusaha sekuat tenaga untuk bisa jadi pemimpin yang asik!