Kalau kemarin Hipwee sudah mengajakmu menjelajahi Desa Wisata Wae Rebo, kini akan bergerak menuju belahan barat Indonesia: Bukittinggi tepatnya. Selain Jam Gadang, kota besar di provinsi Sumatra Barat ini ternyata memiliki obyek-obyek wisata lain yang tak kalah menakjubkan. Salah satu pembaca Hipwee, Artika Irmayani, akan menuliskan pengalamannya menyelusuri keelokan tersembunyi Bukittinggi disini. Siap mengepak ranselmu dan ikut Artika bertualang?

Kalau kamu berencana untuk liburan di daerah Sumatra Barat, Bukittinggi adalah tujuan tepat untuk berwisata. Ada banyak sekali objek wisata yang bisa memanjakan mata: Lembah Harau, Lobang Jepang, serta Jam Gadang. Mau wisata sejarah atau alam, semuanya ada. Dalam artikel ini, saya akan berbagi pengalaman saya saat mengunjungi ketiga tempat wisata yang populer di Bukittinggi itu.

Lembah Harau, memukau

Panorama Lembah Harau (dokumen pribadi) via hipwee.com

Dikelilingi oleh bukit cadas dan aliran deras dua buah air terjun, Lembah Harau adalah barisan dinding batu granit yang menakjubkan. Selain mengagumi keindahan alamnya, disini kamu juga bisa menemukan area flying fox, pasar makanan dan souvenir, taman bermain anak, dan taman satwa mini.

Advertisement

Saat pertama kali memasuki kawasan Lembah Harau, saya disambut dengan barisan dinding-dinding raksasa yang membentang luas mengelilingi lokasi ini. Sampai-sampai saya kesulitan untuk mendeskripsikan pemandangan yang saya lihat. Dinding datar menjulang tinggi dan indah — pemandangan yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut ‘ngarai’.

Jalan menuju Lembah Harau (dokumen pribadi) via hipwee.com

Untuk masuk ke dalam Lembah Harau kita tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Biaya masuknya hanya 5000 rupiah untuk parkir sepeda motor, dan 10.000 rupiah untuk mobil. Uniknya, jika kamu asli Payakumbuh atau memiliki saudara asli orang sana, kamu bisa langsung masuk tanpa harus membayar.

Daya tarik Lembah Harau yang paling utama terletak pada keindahan ngarainya, serta dua buah air terjun yang terletak berjauhan. Air terjun pertama terletak di sisi barat ngarai, dan air terjun kedua terletak di sisi timurnya. Sayangnya, kenyamanan saya saat menikmati pemandangan di Lembah Harau ini harus sedikit terganggu karena banyaknya sekelompok remaja peminta sumbangan liar.

Air terjun di Lembah Harau via bukitinggitourism.blogspot.com

Air terjun Lembah Harau juga mengering di musim kemarau. Saat kami datang kesana, ternyata air terjun di sisi barat sedang kering dan hanya menyisakan kolam becek dan dinding yang tak lagi dialiri air.

Menuju Lembah Harau via Lembahharau

Setelah meninggalkan air terjun yang mengering, saya beserta rombongan melanjutkan perjalanan ke sisi timur lembah. Kami berniat mengunjungi pasar souvenir dan membeli sedikit kudapan. Untungnya kali ini air terjun sisi timur tidak ikut-ikutan mengering, walaupun airnya tidak sederas saat musim hujan.

Sudah berjalan sejauh ini, tak lengkap rasanya jika belum mencicipi camilan khas yang selalu tersedia di setiap kios makanan. Apa itu? Tak lain dan tak bukan adalah krupuk mie, camilan berbahan dasar singkong yang dimakan dengan topping mie serta saus khas dengan rasa mirip bumbu sate Padang. Ini bisa menjadi alternatif pengganjal lapar setelah puas berfoto dan menikmati kesejukan lembah.  Kamu gak perlu khawatur dengan harganya, karena untuk satu porsi krupuk mie kamu hanya cukup mengeluarkan 3000 rupiah. Murah, bukan?

Lobang Jepang, situs sejarah yang misterius di Bukittinggi

Lobang Jepang via www.yukpegi.com

Selain wisata alam, Bukittinggi juga memiliki objek wisata sejarah yang tak kalah menarik: Lobang Jepang. Terletak di Taman Panorama di pusat kota Bukittinggi dan berdampingan dengan Ngarai Sianok. Lobang Jepang ini adalah salah satu tempat tujuan wisata favorit di Bukittinggi.

Untuk masuk kesana kamu hanya perlu membayar tiket seharga 8000 rupiah per orang dewasa dan 5000 rupiah untuk anak-anak di bawah 12 tahun. Lobang Jepang atau Goa Jepang merupakan terowongan bawah tanah dengan panjang  1,5 kilometer, yang membentang di bawah kota Bukittinggi.

Terowongan Lobang Jepang via geolocation.ws

Terowongan ini memiliki setidaknya 20 cabang lorong yang setiap cabang dulunya memiliki fungsi masing-masing. Mulai dari ruang penyimpanan senjata, ruang makan tentara Jepang, barak militer, penjara bagi para romusha yang pada waktu itu didatangkan dari Jawa dan Sulawesi, serta terowongan darurat yang digunakan untuk melarikan diri bagi tentara Jepang jika goa tersebut ditemukan oleh musuh.

Uniknya, jalan keluar dari terowongan itu mengarah tepat ke jurang Ngarai Sianok. Saya pun tak pelak berpikir: mungkin para tentara Jepang saat itu lebih memilih bunuh diri dengan terjun ke jurang Sianok daripada tertangkap oleh pasukan musuh pada masa itu.

Jalan melarikan diri menuju Ngarai Sianok via hipwee.com

Tidak ada yang tahu pasti tentang sejarah lobang Jepang ini, namun para ahli memperkirakan terowongan ini dibangun pada tahun 1942 sebagai bungker pertahanan rahasia tentara Jepang saat Perang Dunia II dan perang Asia Raya sedang berlangsung. Goa Jepang ditemukan pada tahun 1946 oleh pemerintah Bukittinggi dalam keadaan yang sangat menyeramkan, karena banyaknya tulang belulang manusia yang berserakan disana.

Daya tarik utama dari objek wisata ini memang terletak pada kemisteriusan sejarahnya. Maka tidak akan lengkap dan menarik kalau kita berkunjung kesana tanpa ditemani oleh pemandu wisata, karena disana tidak ada papan informasi mengenai sejarah situs — yang lazim kita temui jika mengunjungi situs-situs wisata sejarah pada umumnya.

Keindahan Ngarai Sianok juga menjadi pelengkap daya tarik dari objek wisata sejarah ini. Apalagi, sekarang juga telah dibangun jembatan yang menghubungkan Taman Panorama dan pasar bawah yang berada di ujung Ngarai Sianok. Bentuknya ‘sebelas dua belas’ dengan tembok besar Cina 😀

Jam Gadang, ikon Bukittinggi yang wajib kamu kunjungi

Jam Gadang Bukittinggi via westsumatratours.wordpress.com

Tak jauh dari Lobang Jepang juga terdapat monumen Jam Gadang yang menjadi ikon kota Bukittinggi. Jangan lupa untuk menyempatkan diri mampir kesana. Selain dapat melihat langsung Jam Gadang yang terkenal itu, kamu juga dapat memuaskan hasrat belanjamu di pasar tradisional maupun mall yang berada di area Jam Gadang.

Saat yang paling tepat untuk mengunjungi monumen ini adalah malam hari, karena pada saat itulah kita dapat melihat atraksi cahaya yang berpendar dari bangunannya. Maka tak heran jika kawasan ini akan semakin ramai saat matahari mulai terbenam.

Jam gadang malam hari via lokasiwisata.info

Jika kamu memilih berbelanja di pasar tradisional, pastikan kamu memiliki kemampuan tawar-menawar yang mumpuni. Kalau tidak, kamu bisa mendapatkan barang dengan harga hingga lima kali lipat! Jadi pastikan untuk selalu menawarnya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membeli.

Berikut ini tips dan trik belanja cerdas di pasar tradisional Jam Gadang:

1. Tawar setengah harga

Barang-barang fashion seperti baju, sandal, sepatu, dan kain rajutan adalah barang yang paling banyak dijajakan disana. Biasanya penjual akan menawarkan barang-barang tersebut dengan harga yang fantastis. Jangan ragu untuk menawar dengan harga yang jauh lebih rendah. Semakin murah, semakin baik. Bila penjual menawarkan dengan harga 350 ribu, kamu bisa mulai menawar dengan harga 100 ribu saja, dan jika kamu  termasuk orang yang telaten dan sabar dalam menawar, kamu akan mampu mendapatkan barang yang kamu mau dengan harga murah.

2. Menggunakan bahasa Minang akan memberimu keuntungan

Orang Padang terkenal dengan rasa persaudaraan sesama suku yang sangat kuat. Jadi, tunjukkan “sisi Padang”-mu dengan kecakapan dalam berbahasa Padang. Ya! Jika kamu bertransaksi dalam bahasa Padang atau Minang, maka mereka biasanya memberikan harga yang jauh lebih murah tanpa harus menawar dengan susah payah.

3. Jangan terpaku pada satu kios!

Di pasar Padang, bisa terdapat ratusan atau bahkan ribuan penjual barang-barang fashion. Jika kamu tidak menyukai harga yang ditawarkan suatu toko, jangan ragu untuk mencari toko lain. Rata-rata semua penjual memiliki varian produk yang sama, jadi jangan takut untuk kehabisan barang!

Nah, setelah membaca catatan perjalanan di atas, sudahkah siapkah dirimu berpetualang ke tanah Minang?