Long Distance Relationship atau lebih sering disebut dengan LDR banyak dialami oleh kaum muda jaman sekarang. Menjalani hubungan cinta jarak jauh itu punya tantangan tersendiri. LDR. Banyak yang akhirnya para pelakunya menyerah di tengah jalan, tapi ada juga yang mampu bertahan menjalani LDR hingga menikah dan memiliki keluarga — seperti saya.

Menjalani LDR memang tak mudah, karena ini bisa jadi suatu bumerang bagi diri kita sendiri apabila kita tidak siap dalam menghadapinya. Kalau tidak siap lahir dan batin, bisa capek pikiran, capek hati dan ujung-ujungnya capek kantong. Apa hubungannya dengan kantong? Dampak tidak langsung seseorang yang sedih, depresi, dan banyak pikiran akan lebih mudah mengeluarkan uang untuk sekadar mencari hiburan, ngemil, shoping, dan sebangsanya.

Namun begitu, LDR bukan berarti termasuk hubungan yang memiliki masa depan suram dan tak bisa diakali. Sebagai seorang pelaku LDR, saya ingin berbagi cerita kepada para pelaku LDR yang lain, bahwa menjalani hubungan jarak jauh tidaklah semenakutkan yang dibenak kita selama ini atau semenyeramkan yang dikatakan oleh orang lain.

Sudah pasti ada duka yang dirasakan selama menjalani LDR. Tapi di satu sisi, LDR bisa berubah menjadi pemantik motivasi yang ampuh dalam hidup kita.

Long Distance Relationship bisa jadi sebuah motivasi (dok. pribadi) via Hipwee.com

Dari jaman pacaran saya hanya merasakan SDR alias Short Distance Relationship sekitar 5 bulan saja. Dan sisanya selama lebih dari 5 tahun LDR. Alhamdullilah, semuanya baik-baik saja dan saya berharap begitu seterusnya. Ketika waktu kuliah, mantan pacar — yang sekarang resmi menjadi ayah dari sang buah hati — sudah lulus terlebih dahulu karena kita memang berbeda usia 3 tahun. Lalu dia bekerja di perusahaan pertambangan di daerah Kalimantan. Sedangkan saya masih menjalani perkuliahan di Kota Jogjakarta.

Advertisement

Ketika pacaran tidak dipungkiri kadang merasa sedih menjalani LDR karena ketika teman-teman saya puas menonton film terbaru di bioskop bersama sang pacar, saya harus ikhlas hanya menonton sendirian di balik layar laptop di kamar kost, itupun film jadul yang sudah saya tonton sebelumnya karena sering kehabisan stok film.

Namun, kesedihan yang saya alami selama menjalani LDR tidak jadi masalah yang terlalu besar, karena apapun masalah yang sedang kita hadapi apabila kita dapat menerima dengan positif maka masalah tersebut akan berlalu dengan positif juga. Salah satu contohnya saja, LDR membuat saya memiliki motivasi luar biasa untuk segera menyabet gelar sarjana dan ingin sesegera mungkin memantaskan diri untuk dapat bersanding dengan sang pacar di pelaminan — dan, alhamdullilah Allah mengabulkannya.

LDR pasca menikah ternyata lebih komplek. Bukan perkara tak ada orang yang menemani belanja dan makan, tetapi ada beberapa kebutuhan dasar yang hanya bisa dipenuhi oleh suami.

Akhirnya bisa menikah juga meskipun harus LDR. via Hipwee.com

Sarjana Teknik sudah berada ditangan, dan sang pacar akhirnya datang melamar. Kebahagiaan yang sangat luar biasa, karena kami berdua dapat mengalahkan hal-hal yang dapat merusak hubungan kami sehingga hubungan dapat sampai ke jenjang pernikahan.

Namun, hidup tetaplah hidup. Dan, bukan hidup jika tidak ada tantangan yang harus ditaklukkan. Setelah menikah, saya diterima bekerja menjadi Pegawai Negeri Sipil di Kota Bandung, dan suami tetap bekerja di Kalimantan kami bertemu 2 bulan sekali sehingga kisah LDR tidak hanya selesai ketika kuliah saja.

LDR pasca married, kedengarannya serem dan aku yakin beberapa pasangan akan merasa pesimis, takut dan mungkin nggak sanggup membayangkan hal tersebut. Begitu juga dengan saya, ketika waktu pacaran saya pernah bilang,

“Tidak apa-apa LDR ketika pacaran tapi kalau sudah menikah jangan sampai LDR”.

But, sometimes the expectation we had not such fact. Kadang-kadang harapan yang kita punya tidak diamini oleh kenyataan, karena ternyata setelah menikah pun kami masih harus menjalani LDR.

LDR pasca married lebih komplek lagi. Tidak hanya masalah menonton film sendirian di kamar kost namun lebih dari itu, seperti masak, makan, nyuci baju, belanja, dan semuanya serba sendiri. Dulu ketika masih kuliah masih ada beberapa teman yang ngajak jalan-jalan sesekali namun, kalau udah menikah dan bekerja rasanya tidak sebebas berteman ketika masih pacaran.

Bahkan ditempat kerjapun hanya 1 orang yang seusia denganku dan selebihnya sudah senior-senior dan tentunya sudah banyak yang berkeluarga. Lgipula ada juga kebutuhan yang tidak dapat digantikan oleh siapapun juga kecuali dengan pasangan kita.

Saat si jabang bayi sudah meringkuk di dalam perut, rasanya semua menjadi semakin berat. Namun situasi ini justru membuatku semakin tak ingin membatasi kemandirianku.

Melaluii masa kehamilan seorang diri. tanpa kehadiran suami di sisi. via www.lovethispic.com

Beban berat semakin bertambah ketika saya mengalami kehamilan. Kehamilan adalah kebahagiaan yang luar biasa namun juga ada kalanya dapat membuat sang ibu berubah secara emosional, psikis, dan fisik. Bagi sebagian ibu, hal ini tidaklah mudah karena tingkat kemandirian semakin menurun. Saya merasakan sedikit berat karena mengalami masa kehamilan jauh dari suami, orang tua dan juga sanak keluarga.

Namun, suatu hari saya merenung dan berkata pada diri saya sendiri. Saya adalah seorang ibu, bayi dalam kandungan saya hanya membutuhkan saya, dia tidak akan bahagia jika saya tidak bahagia. Dan, seluruh kesedihan yang saya alami hanyalah rasa takut dan kekhawatiran yang tidak beralasan. Bagaimana saya bisa menjadi seorang ibu dan menjadi contoh anak saya kelak, kalau saya saja menjadi seseorang yang lemah dan tak berdaya?

Sejak saat itu saya tidak membatasi kemandirian saya, saya mencuci baju sendiri selama 9 bulan masa kehamilan, tetap belanja ke pasar, memasak, mencuci piring, mencuci baju serba sendiri dan tidak ada yang berubah dari sebelum saya hamil dengan ketika saya sudah hamil. Saya selalu berkata pada bayi saya didalam rahim bahwa kelak kamu akan menjadi manusia yang mandiri dan tidak bergantung pada orang lain siap menghadapi kehidupan sebagaimana sulitnya itu.

Berkat dorongan semangat suami saya melalui telepon hampir setiap hari, dorongan semangat dari sanak keluarga yang kadang-kadang mengunjungi saya di Bandung barang sehari atau dua hari dan juga perhatian dari rekan-rekan kerja di kantor, akhirnya saya menghadapi masa kehamilan saya dengan lancar dan melahirkan bayi sehat yang menjadi penyemangat hidup saya saat jauh dari suami dan keluarga.

LDR ternyata tak selalu buruk, ada banyak alasan logis mengapa LDR pantas disebut sebagai hubungan yang realistis. Perjuangan, romansa, dan masa depan semua ada di dalamnya.

LDR itu hubungan yang realistis. via www.hercampus.com

LDR pasca married tidak semenyeramkan yang sebagian besar orang bayangkan. Apabila dihadapi dengan positif dan kesiapan, maka semuanya dapat membawa kebahagiaan. Pasangan LDR jauh terlatih kemandiriannya daripada mereka yang bertemu setiap harinya. Mereka lebih siap ditempa berbagai persoalan karena terbiasa menghadapi permasalahan kehidupan sehari-hari sendirian.

Ada banyak alasan logis mengapa beberapa orang sanggup dan mau menerima kenyataan bahwa setelah menikah masih harus menjalani LDR. Pun begitu LDR setelah menikah juga memiliki banyak keuntungan bagi para pelakunya, baik dari segi finansial dan juga hubungan.

Secara finansial kami lebih dapat memanagemen penghasilan kami menjadi investasi-investasi jangka panjang seperti, rumah, deposito, dan lain-lain. Karena alasan kami LDR adalah mempertahankan pekerjaan layak yang sudah kami dapatkan, sehingga kami tidak mau menyia-nyiakan hasil dari kami LDR berupa pendapatan yang berlebih dan demi kehidupan keluarga kami yang lebih baik di masa depan. 

Sudah 1 tahun lebih kami menikah dan saya kerap merasa berdebar-debar jika akan bertemu dengan suami, dan hal ini dirasakan juga oleh suami dan beberapa teman yang pasangan LDR juga. Pastinya LDR pasca married dapat merasakan kangen yang luar biasa dan kebahagiaan saat bertemu kembali layaknya dua orang yang sedang jatuh cinta. Mesranya tetep sama seperti orang pacaran meskipun udah nikah dan punya anak.

Terkadang LDR menjadi jarak pemisah, namun tak jarang ia bertransformasi menjadi sebuah penyemangat. LDR tak akan membunuhmu, selama kamu dan pasanganmu memiliki kunci sebagai komitmen berdua.

Masih kayak orang pacaran meski habis married (dok. pribadi) via Hipwee.com

Yang pasti selama ada kunci hubungan yang baik yaitu trust (kepercayaan), loyality (kesetiaan), good communication (komunikasi yang baik) dan juga care (kepedulian) maka LDR tidak mungkin tidak dapat berjalan dengan baik. Namun tak pernah dipungkiri jika kami juga tetap mengharapkan dapat berkumpul bersama suatu saat kelak. Dan lagi-lagi hal itulah yang membuat kami selalu bersemangat dalam bekerja untuk dapat segera mewujudkan cita-cita kami bersama, yaitu berkumpul bersama.

So, buat kalian yang akan, sedang atau bakal menjalani LDR pacaran, maupun LDR pasca married, don’t be sad. Hadapi dengan penuh positif, tetap semangat dan berkaryalah tanpa harus ditemani pasangan kalian setiap harinya. Karena dengan menikmati hidup dengan lebih baik, pasangan kita juga merasa bahagia dan mendapati kita menjadi orang yang paling bahagia karna dapat menjadi orang yang mandiri dan penuh semangat.

Percayalah tidak ada seorang pun dari kita yang menginginkan memiliki pasangan hidup yang lembek, manja, tidak mandiri dan putus asa dalam menghadapi hidup ini. So, be positive and cheers…. 🙂